Akhirnya bel sekolah berdering. Tanda pelajaran hari ini berakhir. Aku bersiap menuju asrama, Vina pun begitu.
Kami keluar kelas tepat setelah Pak Gunawan keluar. Iseng, kami memang suka bertingkah aneh disaat yang tepat. Ya, setidaknya itu menurut kami.
Kelas kami tepat berada disamping X 10, X 9. Ruangan kelas di deretan ini detilnya hampir sama, kecuali kelas-kelas yang ada pada bangunan baru.
Kelas tua beralaskan ubin. Bukan lantai keramik. Dindingnya beberapa sudah cukup rapuh, dan warna cat baru yang diulang-ulang pengerjaannya setiap tahun ajaran baru. Sayang sekali tidak memperhatikan bagaimana proses pengecatan dinding yang seharusnya sehingga dinding dan catnya tidak dapat menyatu dengan paripurna.
Seberang kelas kami adalah ruang tata busana. Ruangan tersebut berisi beberapa mesin jahit dan benda-benda sejenisnya. Uniknya, bangunan tersebut dibuat berwarna hijau tosca. Kami para siswa biasa menyebutnya "gedung ijo".
Gedung tersebut sebenarnya berringkat-tingkat, namun karena pengerjaannya terhambat, jadi ruangan-ruangan di lantai 3 dan 4 belum diselesaikan. Sekolah memprioritaskan bangunan di sebelah aula terlebih dahulu. Kejar tayang dengan tahun ajaran baru, katanya.
Gedung hijau jarang digunakan kecuali ruang tata buasananya, karena itu aku bersama Vina dan beberapa teman dekat lainnya sering menggunakan tangga gedung hijau untuk duduk-duduk di jam istirahat, atau sekedar berdiskusi tentang apapun disana.
Tepat di depan kelas X 10 ada kantin dan UKS. Tempat yang jarang sekali sepi karena selalu saja ada murid-murid yang bolos dari pelajaran. Tempat itu juga, adalah tempat pertama aku melihat Raihan dengan jelas. Melihatnya secara keseluruhan dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Di sebelah kantin ada kolam dan taman kecil. Di depan taman ada laboratorium IPA, aku selalu penasaran melihat isi ruangannya. Hingga suatu waktu, saat pelajaran biologi, kami sekelas diperintah menuju ke laboratorium, rasanya senang sekali saat itu. Bagiku, pelajaran IPA selalu menyenangkan sekaligus bikin penasaran.
Aku dan Vina saling menatap satu sama lain ketika tepat di depan kami, ada laki-laki berringkah agak kikuk dan aneh, bertubuh tidak terlalu tinggi serta berkulit sawo matang, menyapa kami dengan akrab.
"Hai, Vanya. Hai, Vin. Apa kabar?"
"Nggg... baik." Sahutku singkat.
"Vina, gimana kuis kamu kemarin?" Tanyanya lebih spesifik ke arah Vina. Vina menjawab seadanya, lalu kami dengan segera menyudahi perbincangan tersebut. Meninggalkan laki-laki hitam manis tersebut di belakang kami.
Segerombolan murid-murid yang juga pulang sekolah membaur diantara kami. Aku tak melihat laki-laki itu lagi, begitu pun Vina. Hingga sepasang mata tak sengaja bertemu dengan mataku.
Raihan... Dia mengawasiku, kupikir, sejak tadi.
Vina menarik tanganku cepat-cepat, sebelum lelaki berperilaku aneh tadi menyusul kami.
Gerbang sekolah terbuka lebar, para siswa berhamburan, bersiap menuju tujuannya masing-masing.
Sunday, February 18, 2018
Dana Pensiun, Mempersiapkannya Harus Secepat Ini?
Maksudnya apa sih Dana Pensiun? Gampangnya gini, kita butuh dana seberapa banyak untuk jangka waktu tertentu ketika kita sudah tidak produktif lagi bekerja;
misalnya, saya mau pensiun di usia 55 tahun, anggaplah saya hidup sampai 75 tahun. Berarti saya butuh dana yang cukup untuk membiayai hidup saya (supaya tidak memberatkan anak-anak saya), mulai usia 55 tahun sampai 75 tahun. Jika saya masih tetap hidup setelah 75 tahun, maka saya sudah 100% menanggungkan hidup saya kepada anak-anak saya kelak, tetapi setidaknya saya bisa mandiri sejak awal usia pensiun hingga 20 tahun ke depan.
Apakah masih boleh bekerja di usia pensiun? Boleh. Namun harapannya pasti tidak untuk mencari sesuap nasi, karena sudah bukan idealnya.
Apakah boleh jika saya merencanakan pensiun dini? Boleh banget. Sejak sekarang sudah berinvestasi untuk financial freedom di usia 40 atau 45 tahun.
Maka, ada beberapa asumsi yang perlu kita perhatikan.
Usia Pensiun
Tentukan usia pensiun kita. Usia pensiun biasanya dimulai pada usia 55. Umumnya PNS dan karyawan swasta menetapkan angka tersebut untuk usia pensiun karyawannya. Namun, di beberapa instansi, usia pensiun PNS ada juga yang sudah naik menjadi 58 tahun.
Jadi memang kita sendiri yang harus menentukan berapa usia pensiun kita: 55 tahun, 58 tahun, 63 atau 68 tahun?
Jangka Waktu Harapan Hidup
Sekali lagi ini bukan kita berganti peran menjadi Tuhan atau mendahului takdir. Umur tetap rahasia Allah SWT, tetapi disini kita hanya berasumsi atau memperkirakan atau berharap kita dapat hidup sampai jangka waktu tertentu sehingga memudahkan kita menghitung dan menyusun rencana keuangan yang ingin dicapai.
Berapa asumsi jangka waktu kita pensiun dari usia 55 tahun? 20 tahun lagi, atau 30 tahun lagi? Bebas kita yang tentukan. Memperkirakan harapan hidup juga terkadang dipengaruhi dari kesehatan saat ini, gaya hidup, pola makan, melihat usia orang tua dan kakek nenek sebelum kita atau apakah ada penyakit turunan, seperti jantung dan diabetes.
Pengeluaran Biaya Hidup
Berapakah biaya hidup kita per bulan?
Setelah pensiun idealnya sudah tidak ada cicilan, biaya sekolah anak-anak. Tetapi ada kemungkinan biaya entertainment menjadi lebih meningkat atau biaya ibadah/infaq/shodaqoh jauh lebih meningkat? Well, hitung saja. Apakah kelak di usia pensiun nanti kita masih ingin dengan biaya atau gaya hidup saat ini, a0taukah menurun, atau malah meningkat karena menjadi donator tetap sebuah panti asuhan, umroh setiap tahun atau memanjakan diri dengan berkeliling dunia?
Contoh soal:
Kak Fredi dan Kak Lala biaya hidupnya 5 juta per bulan. Mereka beranggapan kelak, ketika pensiun biaya hidup/gaya hidup tersebut tidak berubah. Asumsi atau harapan hidup mereka sampai usia 75 tahun, saat ini mereka berusia 28 tahun. Mereka juga bukan PNS yang bisa berharap mendapatkan pensiunan dari pemerintah.
Maka kalau kita hitung dana pensiun yang mereka butuhkan berdasarkan data-data di atas, asumsi inflasi dan lainnya adalah sebesar:
65juta++ perbulan
Biaya hidup kini: 5 juta per bulan
Biaya hidup nanti (usia 55, pensiun) 65juta++ per bulan
Total biaya hidup dalam jangka waktu yang mereka asumsikan selama 20 tahun (55-75 tahun):
12,9 Milyar
Siapkah menghadapi masa tua yang ketergantungan pada anak, atau secara sadar dan mandiri mulai menpersiapkan dananya dari sekarang?
Friday, February 16, 2018
(My) Lovely Teacher
Bu Lani menjelaskan pelajaran logika matematika. Aku berusaha fokus memperhatikannya tapi otakku saat ini tak dapat diajak kerjasama. Tiba-tiba pikiranku melayang menuju Raihan tanpa rencana dan aku sulit menghentikannya.
Aku mencatat semua yang Bu Lani jelaskan. Setelah selesai menerangkan Bu Lani memberikan kami latihan soal. Aku mencoba memahami catatanku. Sepertinya aku mengerti, pikirku.
“Yak, latihan soal dikumpulkan.” Seru Bu Lani. Jam pelajaran Bu Lani telah habis, aku menyerahkan buku latihan soalku kepada Bu Lani. Pikiranku mulai menerawang kembali.
“Bu, saya mau tanya, boleh?”
“Tentu saja, Van. Ada yang kurang jelas atas penjelasan ibu tadi?” Dengan ramah Bu Lani menyambut pertanyaanku.
“Ngg.. tidak, jelas semua, Bu. Alhamdulillah. Di kelas sepuluh, ada yang lebih pintar dari Raihan?” Tanyaku tanpa basa-basi. Tersadar dengan pertanyaanku yang aneh, aku jadi bingung dan salah tingkah diperhatikan Bu Lani.
Matanya membulat terlihat keheranan, tetapi dia menjawab dengan ramah, “ada, tentu saja. Ada apa memangnya?” Matanya mengerling, ia menggodaku.
“Ah, nggak Bu. Saya penasaran saja, soalnya Ibu kayaknya sering sekali sebut nama Raihan…” jawabku ragu dan kikuk.
“Masak, sih? Kamu penasaran sama Ibu atau penasaran sama Raihannya? Hayoo?” Lagi-lagi Bu Lani meledekku. Aku tahu ia tidak berkompromi dengan aturan-aturan agama, tetapi masalah humor dan pengertiannya sebagai seorang manusia yang pernah melewati masa muda, tentu dia mengerti sinyal-sinyal yang terpancar dari dalam perilaku anehku saat ini.
“Serius, Buuu… Saya penasaran kenapa Ibu terlihat excited kalau cerita tentang Raihan. Saya bahkan nggak pernah tahu orangnya yang mana.” Jawabku jujur, aku benar-benar penasaran mengapa seorang guru yang kukagumi di depanku, begitu tertarik dengan seorang siswa pintar bernama Raihan tersebut.
“Hahaha, baiklah, Ibu beri tahu. Raihan nggak hanya pintar, Van. Dia lebih dari itu, bagi saya sih, ya. Tapi biasanya penilaian saya jarang salah. Hahaha.”
“Oh, ya? Lebih bagaimana, Bu?”
“Tu, kaaan… Kamu penasaran sama Raihan, bukan sama Ibu.” Ibu menanggapiku sambil terkekeh geli. “Sudah, jangan penasaran. Itu berat, nanti kamu jatuh cinta kalau kenal dia.”
“Ih, si Ibu… Ya, nggaklaah… Ibu ngeledek terus, nih.” Aku menahan senyumku karena geli mendengar pernyataan tersebut sekaligus malu.
“Hayo, ngobrolin apa? Raihan, ya?” Sambar Vina di belakangku.
“Nggak… nggak, Vin.” Seruku cepat-cepat, sebelum Bu Lani mengiyakan pertanyaan Vina.
“Lho, benar toh! Ada apa ini Vanya? Kamu jangan ngapa-ngapain, ya? Tidak boleh.” Bu Lani menasihati dengan sigap melihat ada sesuatu yang tidak sesuai prinsipnya.
“Nggak, Bu. Saya nggak ngapa-ngapain, kok.” Jawabku lemas, khawatir Bu Lani kecewa dengan pertanyaan-pertanyaan anehku hari ini.
“Bukan Vanya, Bu. Raihan yang kirim salam.” Sambar Vina lagi sambil terkekeh geli.
Bu Lani melongo, tampak keheranan.
“Vinaaaa…” Aku menariknya pergi menjauh dari Bu Lani. Menuju tempat duduk kami sambil mengerlingkan mata kepada Bu Lani.
Air muka guru matematiku itu terlihat semakin bingung.
Subscribe to:
Posts (Atom)

