Thursday, October 13, 2016

How Do We Gonna Raise Our Kids (Part I)




Sejak tau kehamilan abang (biasa di blog panggil bibiq ya, sekarang ganti abang aja. Karena sekomplek kenalnya teh -> abang haha), perasaan saya campur aduk. Iya, ada senangnya, pasti lah. Tapi nggak ya berbunga-bunga seperti para orang tua yang sedang menantikan seorang anak, saya lebih banyak kaget sama takutnya. Saya hamil di bulan ke 2 pernikahan, yang tanpa rencana. Karena saya anaknya mah prepared gitu, walaupun nggak well prepared banget, jadinya lumayan syok pertama kali tau diri ini hamil lewat testpack. "Duh, bisa nggak nih ngerawatnya, aku belum belajar apa-apa menjadi orang tua, juga belum belajar tentang kehamilan etc etc. AKK! Akhirnya? Ya dijalanin aja lah, belajarnya, ngitung-ngitung dana melahirkan, dana pendidikan dan sebagainya.

Betapa banyak remaja yang katanya salepgram itu, jauh dari kebaikan, dan sedang menjalani pergaulan yang mengerikan. Salah satu aspek yang mungkin saja berkontribusi atas hal tersebut adalah orang tua mereka tidak dapat menjadi sahabat yang baik bagi mereka.

So, here it is, how do we gonna raise our kids, btw:

1.  Berusaha untuk menghargai dan menerima mereka seutuhnya.

Setiap anak itu unik. Apapun yang ada di dalam dirinya, termasuk tumbuh kembangnya.

"Hidung bapaknya ya?" Lalu mereka tertawa. Hidung ibunya mancung, jadi disalahkan lah bapaknya yang tidak mancung sehingga anaknya hidungnya "begitu".
"Duh, kasian dapet kulit ibunya." Kulit bapaknya putih, ibunya eksotis.

Familiar ya dengan hal ini? Ibu-ibu di negara kita tercinta emang suka keterlaluan sih, mulutnya. Ibu baru lahir, berjuang setengah hidup setengah mati, eh anaknya dikomentarin orang yang kita minta makan sama dia aja, nggak. Please..

Saya nggak mau bilang, buibu kunci mulut. Jenguk bayi baru lahir bisa nggak sih ngobrolin yang enak-enak aja? Enggak. Udah banyak artikel yang nyuruh gini, saya mau cheer me up yang anaknya (pernah) dikomentarin sama orang lain. Saya akan tetap menerima anak saya seutuhnya, tidak perduli orang lain komentar apa. Saya nggak merasa lebih mulia ketika anak saya berkulit putih, berhidung mancung, berambut lebat, berparas cantik/tampan, berbadan gemuk. So? Apakah dengan kelebihan yang Allah berikan tersebut kemudian anak saya dijamin jadi anak sholih/sholihah? Dijamin masuk surga? Kan, tidak. Jadi, bersyukur dan biasa aja ketika diberi kelebihan, tetap menerima dan bersyukur ketika diberi kekurangan.

Begitupun masalah tumbuh kembang anak, Abang terbilang "agak telat" jalannya, sekitar 14++bulan baru mau berdiri sendiri lalu melangkah. Sebelum-sebelumnya, di-berdiri-in dulu baru mau jalan selangkah dua langkah. Sempat khawatir kok agak lama proses jalannya ya, tapi Alhamdulillah Allah selalu kasih ketenangan-ketenanganNya ke saya lewat orang-orang yang cerita kalau anaknya baru bisa jalan usia 18bulan, usia 22bulan, lalu saya menerima anak saya seutuhnya, memang tumbuh kembangnya berbeda dengan yang lain. Dan belum ada yang perlu di khawatirkan sejauh yang saya ketahui. Selama tidak terlihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan, ya, tidak perlu khawatir. 

Menerima seutuhnya bukan berarti tidak perduli sama sekali, menerima seutuhnya adalah juga belajar dan berusaha sebanyak-banyaknya.


2. Takut dan tidak bisa

Sejauh ini saya belum pernah mengajari kata "takut" dan saya tidak pernah menakut-nakuti, tapi kelak mungkin rasa takut itu akan berkembang seiring pengetahuan dan kosakatanya. 

Kemudian sampailah saya dengar si abang bilang, "ma mauuu, mamauu. (gak mau) Tatut.." 

Jrenggg...
Belajar darimanakah dia tentang kata takut?
Dari tantenya. Dan tantenya menakut-nakuti juga, disuruh pegang danbo, tapi abang nggak mau, terus dijejel-jejelin.
Kesel? Yaiyalah. Untuk hal-hal yang nggak sesuai konsep pengasuhan saya, lalu diinstalkan tanpa sengaja ke otak anak saya, ya bawaannya jadi kesel. Makanya sampai saat ini saya masih memutuskan untuk nggak bisa nitip-nitip anak, lalu saya bekerja. Kapok :'(

Ketika abang bilang "tatut", saya memutar otak, apa yang harus saya fight back agar otaknya kembali "benar" sesuai yang saya inginkan. Reverse to "baik". Akhirnya saya bilang, "tidak apa-apa, ini danbo baik. Haay? Hay danboo. Hay abang? Tuh baik kan danbo-nya". Mulanya memang dia masih kekeuh tidak mau pegang, takut. Entah takut apa-nya. Tapi saya terus coba meyakinkannya. Hingga sampai akhirnya dia berani sentuh, pegang dan sekarang udah dimainin danbo-nya, sambil ngoceh-ngoceh sendiri.

Begitu pula dengan kata-kata: "Susah!" ini siapa yang ngajarin? Ya saya lah hahaha. Abang suka minta buka-in sesuatu, apa saja. Bahaya atau tidak, selalu minta di-buka-kan benda-benda yang ada tutupnya. Jadi ya, cara saya supaya dia gak mainan hal-hal yang berbahaya, seperti tempat jarum pentul, misalnya. Saya akan bilang, "uuu susah, susah dibukanya" lalu terserap lah kata tersebut ketika dia bermain apa saja dan tidak bisa menyelesaikannya, dia akan cranky sambil bilang "cucaaah~"

Kalau sebenernya dia bisa melakukan sesuatu itu dan hanya kurang usaha, saya dan abihnya pasti bilang: "Bisaa, ayo coba terus. Sedikit lagi, yak yak sedikit lagi, bisa"

Walaupun butuh waktu agak lama untuk akhirnya dia bisa menyelesaikannya, tapi 'kan saya memang harus tetap menanamkan hal-hal positif serta menguatkan kepercayaannya untuk mengerjakan sesuatu sampai batas usaha maksimal sehingga ia kelak menjadi orang yang tidak mudah menyerah.

3. Rasa ingin tahu dan sabar

Sebagaimana anak lelaki pada umumnya, yang katanya lebih aktif, lebih heboh, lebih gratak. Hal itu juga terjadi pada hidup saya. Iya, abang adalah type penjelajah. Bisa duduk anteng 2 menit aja di pengajian merupakan suatu prestasik. Walaupun rumah kami yang typenya 4L, lu lagi lu lagi, abang akan tetap menjelajah kesana kemari, bongkar sana bongkar sini, full energy sampai akhirnya dia ngantuk dan minta ng-ASI. Saya biasanya nggak emosi kalau dia ngegeratak tapi anteng, tapi kalau cranky nggak jelas maunya apa udah dikasih ini itu tetep rewel juga, jadilah kesulut juga emosi saya. 

Nah, karena saya ingin memenuhi rasa ingin tahu dia, maka type rumah saya akan agak rapih kalo ada tamu aja. Saya belajar untuk tidak menjadi orang tua yang sedikit-sedikit nggak boleh, dengan alasan berantakan. Dan memang untuk sering membolehkan anak mengeksplorasi lingkungannya ternyata butuh kesabaran ekstra. Saya sedang dan akan terus belajar tentang sabar, ini. 

4. Berpikir, memilih, mengambil keputusan.

Sejak abang sudah bisa berbicara lumayan bisa dimengerti ibunya, saya selalu berusaha memberikan dia sebuah pilihan. Mau baca buku yang mana? Mau dikamar atau keluar? Mau bobo atau main? Mau balon warna apa?

Dan kalau udah dikasih pilihan, lalu pilihannya tidak seperti yang ia butuhkan, maka saya akan tanya lagi, kenapa mau main? Kan abang sudah mengantuk. Bobo saja, ya? Abang sudah mengantuk. Biasanya kalau memang dia mengantuk, dia akan nurut. Kalau nggak ngantuk? Dia akan cranky dan menidurkan anak yang lagi nggak ngantuk itu melelahkan, ya bok. Mending turutin lah keinginannya, main dulu sampai lelah dan mengantuk dengan sendirinya.

Kalau pilihannya masalah warna atau sebatas sesuatu yang so so, saya akan menuruti pilihannya. Kalau tidak sesuai keadaan atau kebutuhan, saya akan tanya balik. Mengajak ia berpikir ulang. Saya belum terlalu mengerti sih, apakah akan berpengaruh atau tidak dengan tumbuh kembang kemampuan berpikir dan mengambil keputusannya sekarang, tapi berkomunikasi dengan cara memanusiakan anak saya, insyaAllah ada pengaruhnya, kelak. 

But so far, it works.. Abang memang sudah sering diajak berkomunikasi sejak bayi. Iya, sejak bayi abihnya suka ngajak ngobrol, ngobrolin apa saja. Panjang lebar, nggak cuma ci-luk-ba aja, seringnya malah seperti cerita kadang seperti meminta pendapat juga. Sehingga Alhamdulillah, tabarokalloh sekarang abang sudah bisa mengkomunikasikan sesuatu yang dia atau orang lain rasakan, seperti sakit, susah, takut, pup, nangis, mau, sudah, tidak mau, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat membantu anak untuk tidak tantrum, karena apa yang dia rasakan bisa segera ditangani oleh orang tuanya.

Intinya sih, saya ingin Abang bisa berpikir sebelum memilih dan mengambil keputusan, bisa tau apa yang dia inginkan lalu mengungkapkannya dengan baik, sambil menerima atau menyaring masukan dari orang lain. Tentu saja ini adalah salah satu cara untuk survive dalam hidup.

5. Bercerita

Menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk bercerita, berhubung ngocehnya udah lumayan, abang udah bisa cerita walaupun yang dimengerti emaknya masih beberapa kata tapi tetep nggak boleh dicuekin, ya kan? Jadi dengarkanlah dengan mengikuti antusiasnya serta penuh perhatian. Mudah-mudahan kelak dia pun senantiasa merindukan masa untuk bercerita kepada orang tuanya pada saat beranjak dewasa.

6. Peluk sayang yang ditunjukkan

Saya nggak mau keluarga saya sayang dalam diam, kangen dalam diam, cinta dalam diam. Emangnya jodoh yang belom halal? EAA.

Kalau sayang ya bilang, kalau kangen ya bilang. Kalau sayang, ya peluk. Lakukan, ucapkan. Jangan diem aja. Jadi setiap mau berangkat atau pulang kantor, salim sama abih, cium-cium pipi abang. Saya sering bilang, i love you abang. Nanti dia ngikutin, ayeyu. Sekarang mungkin belum ngerti, tapi akan tetap saya lakukan terus. Kelak, ia akan mengerti. Begitupun komunikasi dengan suami saya. Kami ingin keluarga ini terbuka dan mengapresiasi perasaan yang ada.

Randomly, abihnya sering banget minta cium. "Sabiq cium abih, dong" Atau sering nyuruh "sayang amih, sayang amih", lalu abang elus-elus emaknya yang babak belur nungguin dia belom tidur-tidur padahal udah jam 9, karena dia baru bangun tidur sore jam 7 malem. *melting*

Saya juga type orang yang ekspresif, jadi seneng meluk atau dipeluk, apalagi peluk anak sama suami sendiri ya, kan. Terutama setelah marah/kelepasan emosi ke abang. Saya akan meminta maaf lalu minta peluk.

Untuk sayang ke anak yang lebih kecil, juga masih diajari walaupun kadang anaknya suka gemes. Tapi sekarang lebih terkontrol sih, kalau liat bayi atau anak yang lebih kecil dari dekat suka reflek bilang sayang-sayang sambil mau elus.

Bersambung...

Masih banyak sebenernya, sih. Pengen buat sekuelnya, nanti. Hehehe.

Sepertinya seru, mudah dan menyenangkan ya? Nggaak. Hahaha. Semuanya itu nggak mudah. Melelahkan, baik fisik dan mental. Makanya suka sebel liat orang yang kalo dengerin presentasi, seminar, nasehat tentang parenting terus bilang "udah tau", "udah ngerti", "udah biasa itu mah", "emang seharusnya begitu, kan?" 
Yaampon buibu, yang udah punya anak pun yang belom punya anak, emang anaknya udah sehebat apa sik, bisa ngomong gitu? Kalo merawat dan mendidik anak, mudah mah hadiahnya kipas angin ya bu, bukan anak sholih sholihah. Nggak akan nempel suatu ilmu kalo kita sudah meremehkan ilmu tersebut sejak awal. Jadi please lah dengerin, resapi dan hayati. Kita manusia yang suka khilaf dan lupa, lewat mereka lah kita bisa selalu diingatkan.
Anyway, tetap semangat mommies! Salam cinta kasih~ 
Aand, how do you gonna raise your kids? Share with me, please :)

Friday, September 9, 2016

SERUNYA NIKAH MUDA (?)


Spoiler: Very Long Post. Gak terbiasa membaca? Saya sarankan close tab sajah, daripada mual :)))

Beberapa waktu lalu, timeline ramai tentang pernikahan Alvin-Larissa (Iya yang anaknya Ust. Arifin Ilham itu lhooo. Yang jadi selebgram jugak. Wk). Ada yang pro, ada yang kontra. Sorry, for that (toooo) late, tapi saya ingin mengeluarkan sedikit (tapi panjang. EHE) uneg-uneg saya. Boleh ya? Boleh plis.

Definisi muda yang dipakai negara adalah usia yang belum cukup umur / belum memenuhi ketentuan usia 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. Tapi bagi saya, definisi muda disini, adalah menikah dibawah usia 22 tahun baik bagi laki-lakinya, dan nikah dibawah usia 21 tahun untuk perempuannya.

Kenapa saya ambil sample di batas usia tersebut? Karena menurut ilmu kesehatan (yang pernah saya baca, koreksi bila salah), di batas usia masing-masing diatas, organ reproduksi laki-laki dan perempuan baru mencapai kesempurnaan dalam perkembangannya.

Disclaimer: Sharing santai menurut pemikiran saya ya. Artinya kalau kalian ada yang nggak setuju dan punya pendapat sendiri, ya silahkan saja. Tidak ada paksaan bahwa pemikiran saya lah yang benar, setuju yes?

Saya sebagai perempuan Indonesia, menikah di usia terbilang proposional, versi orang tua modern jaman dulu. 24 Tahun. Gak muda, gak juga tua. Pas-lah. Ya kan? Coba tanya orang tua masing-masing, berapa usia yang pas buat menikah? LOL.

Dulu, sempat kepikiran ingin menikah muda. Entah kenapa angka 21 indah sekali jika dilalui dengan pernikahan. Lelah aja gitu kan hayati jomblo 21 tahun. 

YEKAN? X'D

Pengenlah hidup berdampingan dengan imam, disayang-sayang suami dan bisa cepat punya anak sehingga umur anaknya tidak akan jauh karena saya masih muda. Jadilah kita gaul bareng. 

Lah?!

Kemudian disaat saya kuliah, kok ya ada aja yang propose ke saya secara serius. Makinlah galaauu. Mana kondisi laki-lakinya yang modelnya gabisa ditolak; -> faham agama, mapan, baik, berakhlakul karimah, contoh: kerja di perusahaan oil and gas, tampang lumayan, keluarga baik-baik, ketua remaja masjid di daerahnya, yang insyaAlloh agamanya baik, dan emang lah insyaAlloh baik. Kalo gak baik kan ngajaknya pacaran ya, ini kan ngajaknya nikah. Nikah siiiis, nikah. Di saat saya semester 3, atau usianya masih 19 tahun. NGERTI KAN YA GALAUNYA KAYAK APA. WHOAH :O

Tapi orang tua saya selalu beri saya insight tentang pernikahan, kami melakukan komunikasi yang mungkin tidak juga dibilang sempurna, tapi cukup membekali saya untuk berpikir, memilih dan mengambil keputusan. Disamping doa dan istikhoroh juga utamanya (InsyaAlloh will be post ya cerita tentang bagaimana saya menanggapi lamaran beberapa pria, mudah-mudahan banyak manfaatnya :* *ketjup ). 

Kemudian saya melanjutkan kuliah sambil bekerja, lelah tapi waktu saya sangat efektif, waktu saya habis buat hal-hal produktif. Lalu lulus sarjana, pindah kerja ke tempat yang prestisius daerah mentereng di bilangan Jakarta Selatan, sibuk di organisasi kepemudaan dan remaja masjid dan wow ALHAMDULILLAH YA KEMAREN BELOM NIKAH, JADI SAYA MELEWATI MASA MUDA SAYA DENGAN MAKSIMAAL sebagai gadis muda yang produktif. and im really happy for that. Alhamdulillah. Ehehehe :'D

Saya tidak menyesal tidak jadi nikah muda, walaupun kesempatan itu bisa saja saya ambil, namun takdir berkata lain. Karena kalau dipikir-pikir, saat ini saya sedang menjalani peran ibu, dan istri tentunya, banyaaaaaak hal yang mungkin perlu saya pikirkan berjuta-juta kali jika ingin melakukan aktivitas-aktivitas disaat saya muda (baca: belom nikah) dulu.

Lembur di kantor sampai jam 12 malam, entah ngerjain deadline atau skripsi (dan saya bahagia untuk mengerjakan hal itu), Sabtu Minggu, full bimbingan skripsi (secara weekdays-nya kepake kerja), menclok sana sini buat meeting organisasi-lah, sekedar hangout menghilangkan penat-lah, ikutan event lari-lah, yang jam 3 subuh udah berangkat dari kost-an ngumpul di lobby kantor atau apapun hal-hal ekstrim yang menurut saya gak mungkin saya lakukan ketika sudah punya suami, apalagi udah punya anak.

Istri macam apa cobak yang pulangnya jam 12 malem? Hah? Noo. Im not that type. Sudah berkeluarga itu berarti sudah berkomitmen untuk tidak egois dengan kebahagiaan diri sendiri. Pun juga, tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang istri/ibu. Mudah-mudah diberikan kemudahan dan selalu istiqomah.

Disamping itu, saya punya ilmu apa? Iyasih sudah mondok 3 Tahun, tapi Usia 19 sampai menuju 22 Tahun, saya gak benar-benar serius belajar tentang ilmu pernikahan. Kalau saya menikah dalam kondisi seperti itu, saya yang takut sendiri ngebayanginnya.

Oleh karena itu saya SALUT untuk orang-orang yang memilih dan ditakdirkan untuk menikah muda (karena menikah bukan hanya perihal tentang memilih tapi juga ada campur tangan Allah kemudian menjadi takdirNya). Karena berkomitmen ina inu dalam pernikahan itu berat. Setelah menikah kan PR-nya ya menjaga pernikahan tersebut, dong? Menjaganya ini, perlu kedewasaan untuk memahami karakter pasangan, memahami keluarga pasangan, mencari jalan keluar dengan kepala dingin dalam setiap masalah, rela meninggalkan ego masing-masing, mencari nafkah yang halal, hamil, punya anak, bangun tiap malam, menyusui yang disertai seabreg pelajarannya perihal kelekatan puting lah, ASIP, ASI tersumbat, setelah itu bayinya gede-an dikit, MPASI homemade, stimulasi bayi dan sebagainya dan sebagainya. Segudang pelajaran parenting yang perlu dipraktekkan sampai kita tua nanti. 

Sudah usia "matang" (versi orang Indonesia kebanyakan) dan sudah banyak belajar saja, pernikahan itu masih berat. Apalagi jika keadaan kita masih minim ilmunya, masih labil jiwanya, masih setengah matang pemikirannya. 

Beramal tanpa Ilmu? Apa jadinya? Asalan. Asal jadi. Asal hidup. Asal makan. Asal sekolah. Asal menikah.


Cobaan terpanjang dan melelahkan dalam hidup adalah pernikahan, Cak Emir


Karena saya sadar, ternyata di usia segitu saya masih ingin menclak menclok sana sini. Masih ingin main. Masih ingin hidup diluar rumah. Masih ingin meraih karir yang lebih dan lebih lagi (walaupun kenyataannya sekarang gak punya karir hahahaha, bye. Aku ibu RT yang leha-leha di rumah sekarang). 

Karena cita-cita (juga komitmen) saya setelah menikah ya jadi ibu rumah tangga (untuk saat itu, sampai saat ini, entah nanti kalo anak udah dewasa), bukan ibu yang bekerja di kantor. Alasannya? Ya banyak. Pun, Quran Hadits mendukung sekali komitmen saya. (Sebenarnya bukan dukungan sih, lebih kepada anjuran (anjuran atau aturan (?)) kalau menurut pemahaman saya saat mengaji, sekali lagi, ini pemahaman saya, masing-masing orang pasti punya pemahaman masing-masing, Quran Hadits-nya sama, pemahamannya belum tentu sama. Pun berlaku untuk segala jenis ilmu pengetahuan di muka bumi). Maaf lah kepanjangan, jadi sekalian curhat -_-

Jadi menikah itu bukan pacepet-cepet, bahasa jermannya, mah yah. Santai tapi serius belajar dan memperbaiki diri. Serius tapi gak tergesa-gesa, asal cepet menikah, padahal ilmunya belom punya.

Sampai akhirnya saya menikah, ...

Perlu diketahui, Alhamdulillahnya beberapa belas bulan sebelum menikah saya diberi kesempatan (atau kesadaran? WKWK) menekuni Ilmu dunia Rumah Tangga, maksudnya? Maksudnya iya saya belajar, entah belajar dari buku atau memahami kembali makna/keterangan-keterangan atau kisah-kisah nabi dan istri di Alquran dan Alhadits yang sudah saya pelajari sebelumnya. Mencari-cari hikmah-hikmah tersembunyi di coretan-coretan lama saya. Jadi saya menikah nggak dari nol, bukan, bukan materinya aja yang nggak dari nol, tapi ilmu saya juga nggak enol untuk memutuskan menikah, saya (merasa) sudah "belajar serius". Saya merasa semakin mantap ingin menjejaki dunia pernikahan karena beberapa ilmu berkontribusi membekali kepercayaan diri saya, walaupun sempat kepikiran masih asik kerja dan single gini, sih. Ngapain banget nikah cepet-cepet, lah. Lagi menikmati hidup dengan karir yang lumayan.

Apah? Temen-temen udah nikah? Gak, saya gak terlalu iri. Pengen sih iya, pengen. Tapi denger cerita pernikahan yang seumuran saya (dan atas saya), kok banyakan susahnya daripada senengnya. Terutama awal-awal pernikahan. Ditambah lagi temen-temen (senior-senior, tepatnya) kantor, saya bilang mau nikah usia 24-25 mereka malah pada syok, kecil-kecil kok mau nikah (?)

Yang kecil apanya? Badannya yang kecil, kak? Bye :'|

Cuma kok setelah ditilik-tilik laki-laki qualified makin susah dilihat mata yaaa. Hahahaha. Yang atas saya umurnya, jelas lah udah pada nikah. Yang seumuran? UDAH PADA NIKAH JUGA. LOL. Mana laki-laki kan makin dikit ya mendekati akhir zaman, which is laki-laki baik dan qualified makin tambah SEDIKIIIIT lagi. 

Disini mulailah kegalauan melanda, takut gak kebagian jatah laki-laki baik. Wk. Atulah.

Nehi lah, saya tetap percaya selama saya terus memperbaiki diri berarti ada laki-laki baik disana yang juga memperbaiki diri. InsyaAlloh. Khusnudhonbillah.. Eeaa.

(Oke, diulang lagi).. 
Kemudian saya menikah, ...

Eh terus, kok bahagia siiiiihhhh. Kok seru siiih. Kenapa gak dari duluuu? Hahahahahha. 

Manusia! :))))

Maksudnya ya nggak kayak yang kebanyakan orang-orang cerita ke saya. Awal-awal pernikahan itu berat, Nad. Awal-awal pernikahan itu banyak nggak cocoknya, Nad. Awal-awal nikah aku itu berantem mulu, Nad. 

Kok, saya enggak, yaa? Alhamdulillah ya berarti. Ada sih nggak cocoknya, tapi ya biasa aja. Sama adek kakak juga sering nggak cocok (malah lebih parah WKWK). Sama orang tua juga pernah nggak cocok. Sama teman pun begitu. Makanya waktu menikah, ya biasa aja. Masih bisa diselesaikan. Bisa dinegosiasi. Bisa dimusyawarahkan bersama.

Kenapa bisa berbeda? (Batin saya saat itu).

Apa karena saya menikah di usia yang relatif matang, kata orang-orang? Sehingga pemikirannya sudah lebih dewasa. Atau karena sebelumnya saya sudah berusaha belajar dengan serius tentang ilmu pernikahan? Sehingga ilmunya bisa dipraktekkan.

Jawabannya, bisa iya bisa juga tidak.

Kemudian kembali ke topik menikah muda versi Alvin dan Larissa aja lah daripada keasikan spamming :3

Ketika dunia persosmed-an orang tua kemarin dihantui oleh kegelisahan perilaku oknum-oknum remaja seperti Awkarin dan pacar-pacarnya, eh, kawan-kawannya maksudnya. Jujur sekali, berita pernikahan Alvin dan Larissa saat ini (itu) layaknya mata air ditengah gurun pasir (tsaelaa), bagi saya. Menyegarkan sekali. Kagum sekaligus penasaran, kenapa Pak Arifin bisa mengizinkan anaknya untuk menikah di usia 17tahun? Kenapa Alvin punya nyali sebesar itu, untuk mengambil keputusan menikah dan menjalani sidang di pengadilan, untuk membuktikan bahwa ia mampu dan pantas mendapatkan izin menikah dari pemerintah, karena usianya masih masuk dalam kategori belum boleh menikah bagi laki-laki (syarat usia menikah laki-laki: 19tahun, btw).

Disaat di luar sana begitu banyak generasi muda yang katanya ta'aruf tapi kelamaan, ta'aruf tapi ya jalan-jalan berduaan, Alvin memilih untuk melepas masa lajangnya, mengambil tanggung jawab dan bahkan sudah berhasil memerantarai Larissa dan keluarganya untuk mencapai nikmat menjadi seorang muslim/muslimah.

Dari mereka saya belajar bahwa, memang benar, begitulah alurnya, kedewasaan seseorang tumbuh berbarengan dengan proses pubertasnya. Sudah seharusnya kedewasaan biologis seseorang dibersamai dengan kedewasaan mental dan spiritualnya secara menyeluruh sehingga bisa menjadi pemimpin, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, yang bisa mendakwahkan dan menjalankan syariat Islam secara Quran Hadits yang murni serta berjamaah dalam mengamalkannya, tidak sendiri-sendiri. Tidak pintar sendiri. Tidak baca buku-buku atau googling-googling ilmu agama sendiri.

Dan ini lebih utamanya lagi adalah untuk seorang anak laki-laki.

Sejatinya, ketika anak mencapai masa pubertas, anak-anak kita kelak sudah menjadi orang dewasa dan perlu diperlakukan sebagai orang dewasa. 

Masalahnya, kurangnya konsep keTuhanan dan Alquran (bahkan cenderung tidak ada), hal inilah yang menjadikan anak belum dewasa setelah pubertas, menurut ahli-ahli pendidik Islam. Sehingga, masa pubertas dikenali sebagai masa-masa yang bergejolak bagi setiap manusia, masa-masa gap antara anak-anak dan dewasa sehingga sering menimbulkan badai stress, menurut teori storm and stress nya Stanley Hall (1904).

Padahal, kalau defaultnya manusia memang seperti itu, disekolah-sekolah menengah, sudah seharusnya anak-anak bermasalah menjadi mayoritas. Kenyataannya? Tidak. Mereka bagian dari minoritas yang mengalami gejolak dan stress di masa remaja. Menurut penulis buku The Myth of Adolescent, David A Black hal tersebut adalah bawaan dari masalah pengasuhan ketika kanak-kanak. 

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa, adalah ayah dan ibu sebagai penanggung jawab awal seorang anak dan penanggung jawab yang utama dengan menghadirkan Allah dalam pengasuhan dan Al Qur’an juga Al hadits sebagai 'makanan' keluarga sehari hari. Sehingga kehidupan anak-anak pasca pubertas sudah menjadi muslim sejati karena pondasi yang kuat yang ditanamkan sejak dini. Ketika mereka sadar dan bertanggung jawab atas masa pubertas/kedewasaannya, jadilah mereka muslim/muslimah sejati yang dengan pemikiran komprehensifnya dapat menjalani kehidupan dengan jauh lebih bertanggung jawab dan lebih baik lagi, dunia kecil bagi mereka karena Allah lah yang Maha Besar. 

Untuk sampai di titik itu, tentu saja kedua orang tua perlu jatuh bangun bekerja keras membangun pondasi akidah yang kuat serta berakar, dan utamanya peran ayah sebagai kepala madrasah keluarga.

PR amih abih, banyak, Biq.. Jadi anak sholeh yah. Uhuhu 
*tetiba melow sendiri* :'{

Jadi, nikah muda itu seru?

Bisa iya, bisa tidak.

Kalau sudah mampu, insyaAlloh seru. Kalau belum mampu, lebih banyak gak seru-nya daripada seru-nya.

Mampu-nya yang seperti apa, sih?

Ilmunya sudah belajar. Akidahnya sudah mantap. Dan terus dalam rangka memperbaiki diri. Belajar tentang ilmu pernikahan, Baiti Jannati, mengerti cara pandang pasangan itu mungkin berbeda karena jenis kelaminnya saja sudah berbeda, sedikit-sedikit tau tentang ilmu parenting, karena juga paham bahwa abis nikah itu resikonya hamil, maka sudah sedikit-sedikit tau tentang kehamilan, melahirkan, menyusui dan sebagainya. Gak harus hapal semuanya, tapi paling tidak kenal dengan dunia yang kelak akan ia tempuh. Yang terpenting adalah terus mengupgrade ilmu Quran dan Haditsnya.

Materi? 
Issshh. Matre.
Nggak, saya nggak bilang perlu nikah gede-gedean di gedung mevvah, tapi kan nikah di KUA aja harus bayar (Eh apa udah gratis sekarang? Wqwq). Paling nggak, udah punya penghasilan lah. Gak harus tetap, yang penting anak istri, tau nanti mau dikasih makan apa. Ya kan memang sudah menjadi kewajibannya suami, toh memberi nafkah keluarga? Jadi kalau belum mampu memberi nafkah, lebih baik puasa daripada memaksa anak gadis orang untuk hidup susah. Kecuali sang istri sudah bekerja dan rela mengeluarkan harta pribadinya untuk kesejahteraan keluarga, kelak. Lain cerita.

Kalau di umur 17 tahun seperti Alvin sudah mampu seperti diatas dan orangtua mereka sama-sama merestui, ya sok lah monggo. Insya Allah kalian tau akan dibawa kemana bahtera rumah tangga kalian tersebut.

Apakah saya akan mengizinkan Bibiq menikah muda?

Tergantung kondisinya nanti, kalau sudah mampu menurut standar saya dan abihnya sebagai orang tua, kenapa harus menunda-nunda?

Syaratnya, ya tetap di kami sebagai orang tuanya. Apakah sudah membekali hidupnya dengan Alquran dan Hadist serta keterampilan-keterampilan lain dengan cukup?


*

Udah lah kiranya, kapan-kapan posting lagi. And share your thoughts, anyway~
Wassalamualaikum!

Sunday, April 3, 2016

Butuh Piknik 10x Lipat (?)

Kenal dengan meme ini?



Dia berseliweran di timeline Facebook (basi yah? Kelamaan di draft :') Awalnya saya meng-iyakan dalam hati. Ngangguk-ngangguk, "iya banget" nih. B-A-N-G-E-T!

Bayangin aja ibu-ibu dirumah itu kerjaannya 24 jam gak selesai-selesai, padahal yang dikerjain ya itu-itu aja. Diulang-ulang tiap hari, tapi gak selesai-selesai.

Makanya IRT itu sangat auch-mazing, bangun shubuh tidur malem, buat ngurus anak dan suami.
Eh emang begitu itu, capek?
Enggak kok..
Gak salah lagi! -______-

Ekpektasi








Realita













"Masa sih capek?"
(DITANYA ULANG BANGET?)
"Kan dirumah aja?"
(YAEMANG SIH, TAPI JUSTRU JENUH MAKANYA)
"Capek, ya tinggal tidur, susah amat."
(YAKALI, ANAK PUP TRUS LO TINGGAL TIDUR, GITU? -..-)
"Ngerasa terpaksa kali, ya? Hih, gak sayang keluarga."
(WOY..)
"Kalo cinta mah, gak ada yang capek."
(UDAH KAWIN BELOM SIK NIH YANG KOMEN?)
"Makanya kalo belum siap nikah, jangan nikah. Puas-puasin dulu, kerja."
(LHAAAAHH..)
*telen sendal*

Btw, ni komentar siapa sik? Kok gue ngeselin banget bikin ilustrasinya :)))))

Coba kita pikir ulang, kerjaannya ibu RT tuh ya, gak jauh-jauh dari piring, baju, lantai, sapu. Belom lagi kalau anak nangis, gak bisa ditinggal, even ke kamar mandi aja colong-colongan, atau gak, tongkrongin depan pintu kamar mandi sekalian. Padahaaal, cucian numpuk, setrikaan numpuk (lah situ toko elektronik, numpukin setrikaan? MAKSUDNYA JEMURAN YANG UDAH KERING. ah elah :3), celana suami belom dijait, hari ini masak apa, uang SPP si kakak belom dibayar, lusa arisan dirumah kudu nyenack-in apa.

Keberadaan dan pikiran sang ibu yang "terkurung" dalam rumah, belom lagi jika ditemani tangisan syahdu bayi beserta hamparan barang-barang berserakan sehabis dimainkan, beserta seluk beluk pikirannya dan janji baktinya untuk menyelesaikan tugas-tugas operasional membuat ibu menjadi hampir saja "terganggu kewarasannya".

Jadi kalo ada orang bilang, IRT itu gak kerja, gak ngapa-ngapain, tidur doang dirumah itu.. Ther-Lha-Lhuu~~



Nah, ibu-ibu dikantor, walaupun lelah dengan kerjaannya, caci maki bos, macet, beban pekerjaan, etc etc. Tapi masih bisa makan siang diluar bareng temen-temen. Masih haha-hihi lala-lili dikantor, bisa browsing-browsing yang lucu-lucu buat cucimata, kalo bosen etc etc. Sore ketemu anak udah wangi-wangi gemes, pasti kangen-kangennya. InsyaAlloh gak ngerasain sumpeg, kecuali si bayi nangis gak tidur-tidur malemnya. Eheu. (Gak ada maksut mommys war ya, boeboo, pengalaman pribadi aja ini mah :3)



Padahaaaal, padahal nih padahal, syarat menjadikan keluarga (anak-anak, khususnya) terdidik, harmonis, normal, bahagia, sejahtera, adalah sang ibu kudu: WARASZT.

Begitu ibu menjadi "kurang waras" karena ke-sumpeg-annya, maka hal-hal tidak mungkin, tidak etis, tidak masuk akal, mungkin saja bisa terjadi. Dan ini, bahayanya. Pernah denger ibu kandung bunuh anaknya? Karena apa? Karena anaknya rewel. Ngeri gak? Naudzubillahi min dzalik. Jangan sampe ya Allooooh T__T

Backtothetopic. Tapi, saya berpikir ulang. Apa iya IRT butuh piknik 10x lipat? 10x lipat banget? Sepuluh kali lipatt bangett siiiist?

Kadang memang berasa stress sih kalau Bibiq udah rewel gak ketulungan. Cuma butuh rehat sejenak kok, sebentar aja bibiq digendong bapaknya dulu. Atau kalo lagi gak ada bapaknya, sebentar aja rebahan dulu, biarin Sabiq tantrum. Atur nafas, istigfar, istirja.
Rumah berantakan? sebentar aja pura-pura gak liat dulu, nonton Tetangga Masa Gitu, bentar. Buka sosmed, abis itu sih alhamdulillah bisa casciscus lagi jadi supermom. #tsaelah #pencitraan

Nah, jadi butuhnya cuma me time aja sebenernya. IYA, ME TIME. GAK PERLU SAMPE PIKNIK 10 KALI LIPAT JUGAK KALE. Butuh sih piknik, tapi sebulan sekali masih oke, tuh. Gak kudu 10 kali, sebulan.
Ibu-ibu jaman sekarang yah, suka hiperbola. Kebanyakan nonton Uttaran. Ck.

Bapak-bapaknya juga kudu support nih yaa, liat istri mukanya udah semrawut, masih aja maen HP. Peka dikit, pekaa plizzz. Gak susah ngertiin istri, insyaAlloh. Lah situ idupnya sama dia, berhubungan ina inu masa gak ngerti liat mukanya lagi sumpeg? Gak mungkin. Harusnya kalian punya naluri atau bathin atau perasaan atau apalah yang mengkoneksikan sesuatu diantara kalian berdua. Kalo gak ada? Wah kudu dipertanyakan hubungan kalian..
Itu.

Bisa kali gendong dulu lah, bayinya. Si Ibu butuh waras. Ingat, cuma butuh waras sejenak. Agar kondisi RT sehat dan berjalan sebagaimana mestinya.

Senjatanya abih tuh kalo liat muka eke udah semrawut;
"amih, jazaa killahu khoiroo yaa"
"Atas apa?" (Sok bego, biar seru. lol)
"Semuanya... nanti abih pijitin :)"
Uwuwuww~
*masukkan efek bunga-bunga dan beri sayap peri pada punggung amih*

Gausah nunggu suami mijitin kita, diucap syukur gitu aja ningkatin mood booster istri 1000% (dengan ketentuan suami ngomongnya tulus, yak. Haha). Liat kamar mandi kotor, bak belom dikuras, niscaya bisa langsung bersih sih sih dengan kekuatan super dari mood booster tersyintah.

Well, istri tuh cuma mau disayang, dimengerti, dihargai, dibeliin perawatan wajah, sama tas, sama sepatu sama baju baru sama panci baru dan banyak lagi. Udah. Itu aja. #ehgimana #ngelunjak #becandaPak

Jadi apa iya IRT butuh piknik 10 kali lipat? Engga. Lebay. Jangan kebanyakan nonton drama, buk. Jangan. Batman vs Superman lebih seru, kayaknya. Bentar lagi Now You See Me part 2 juga bakal muncul. Ck, atulah.

Butuh me time? Iya butuh. Butuh banget. Buka fesbuk itu me time, lohh.

Piknik sekali-sekali? Penting. Refresh segala-gala yang ada di rumah tangga. Menceriakan warna kehidupan.

Zadih, berhati-hatilah dengan selintas pikiran. Tadinya biasa saja dengan rutinitas IRT, sejak meme itu hadir dalam kehidupan, kita merasa butuh piknik lebih mevvah. Me time lebih banyak. Besok lusa minta ke Korea, minggu depan minta ke Lombok, sambil massage dipinggir pantai ditemani deburan ombak. Padahal tadinya, sekedar minum es doger abang-abang di siang hari sudah cukup memulihkan tenaga yang terkuras karena kasih sayang. Duh.

Karena sebenar-benarnya me time, sebenar-benarnya refresh, sebenar-benarnya piknik adalah dengan selalu mengingatNya. Apa yang Dia tidak bisa jika sudah Ia kehendaki?



"Ingatlah, hanya dengan mengingatnya hati menjadi tenteram" (dzikir)

"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu" (Piknik destinasi langit yang bisa dilakukan 5x sehari bahkan lebih. Menyembah kepada Yang Punya Segala).

Zhemangats supermom! Jihad ini akan manis, kelak, insyaAlloh. I know you know it well. You just have to realize that you're very special for your family.

Xoxo.