Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Saturday, April 14, 2018

Materi #1: Komunikasi Produktif



Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata  masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I’m responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :

“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)


b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:

“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya

✅Kalimat Produktif :

“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.


c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :

“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”


d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :

“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :

“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”


e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.


f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :

“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:

“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”

“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:

“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”


h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:

“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:

“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.


I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :

“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :

“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”


j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :

“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”

✅kalimat produktif :

kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?


k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :

“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :

“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:

Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Wednesday, March 15, 2017

NHW #8: MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS


Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Mengedukasi/Memotivasi/Menggerakkan orang lain untuk bersama-sama belajar dan mempraktekkan Ilmu Pendidikan Ibu dan Anak melalui aktivitas secara langsung dalam sebuah komunitas maupun melalui sebuah tulisan, baik media online/media cetak.

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE) Educator/Motivator/Penulis (Aktivis)

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO) Memberikan pengetahuan, wawasan, menggerakkan orang-orang di sekitar saya agar mau bersama-sama berbenah diri menjadi orang tua yang jauh lebih baik, baik itu lewat tulisan maupun presentasi/berbagi pengalaman secara langsung. Mengedukasi anak-anak lewat cerita yang menyenangkan namun sarat makna. Menyebarkan virus literasi kepada anak-anak sehingga mereka menyukai aktivitas membaca. 

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
- Beberapa buku tulisan pribadi yang bermanfaat untuk banyak orang.
- Komunitas/wadah yang bisa menyalurkan semangat berbenah diri bersama dengan orang lain.
- Perpustakaan mini

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Kebermanfaatan untuk banyak orang yang tidak pernah habis dimakan zaman, sehingga bisa menjadi jariyah dan merintis peradaban selanjutnya yang jauh lebih baik.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
- Mengerti, memahami dan mempraktekkan Ilmu-ilmu di IIP tentang Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif serta Bunda Shaliha.
- Meneruskan S2 dibidang Psikologi/Komunikasi/Pendidikan
- Mengkhatamkan tafsir-tafsir Alquran serta Hadist-hadist shohih Bukhari dan Muslim
- Menjadi seorang dosen lepas
- Menerbitkan beberapa buku cerita anak/buku tentang pendidikan ibu dan anak dengan harga yang terjangkau tanpa mengurangi kualitasnya.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Menulis sebuah buku cerita anak yang bisa bermanfaat untuk banyak orangtua serta anak-anaknya.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulsi IIP/

Friday, March 10, 2017

Portfolio Pendidikan Anak (Bagian 3)



Langkah 3.Membangun dan Mengorganisasi Portfolio 

Selama kegiatan atau proyek atau program berlangsung maka kita mulai dapat mengkoleksi Evidence (Bukti bukti) dengan pengorganisasian yang baik. Apa yang dimaksud dengan Evidence? Bagaimana Mengorganisasikan Porttolio dengan baik termasuk pembuatan jurnal dsbnya? 

Ingat bahwa perbedaan antarara standard based Portfolio di sekolah dengan Showcase Portfolio untuk orangtua adalah bahwa Standard based Portfolio atau Assessment Portfolio pada umumnya membandingkan capaian anak dengan standar atau dengan kemampuan anak lain sesuai standar. Ini banyak digunakan dalam sekolah formal yang masih berwacana prestasi akademis bukan wacana perkembangan fitrah anak.  

Sementara Showcase Portfolio atau juga Learning Portfolio adalah membandingkan capaian anak pada sebuah kegiatan atau proyek dengan apa yang sudah dicapai oleh dirinya sendiri pada kegiatan sebelumnya berupa pengalaman, pengetahuan, keterampilan, sikap dll yang didapat. 

Tentu dalam pendidikan yang berwacana perkembangan fitrah anak dimana tiap anak adalah manusia seutuhnya yang unik dan tidak bisa dibanding bandingkan dengan apapun maka portfolio tipe personal ini sangat sesuai.

A. Awali dengan Membuat Jurnal Kegiatan

Portfolio yang sistematis terutama yang bukan standard based, sesungguhnya baru bisa dibangun dan diorganisasi dengan baik jika pola perkembangan atau progres anak sudah nampak, biasamya di atas usia 7 tahun.

Sebelum membangun Portfolio maka sebaiknya dibuat dan dikoleksi dulu "Jurnal Kegiatan" sehingga cukup banyak dan dapat distrukturkan dalam portfolio yang lengkap.

Jadi tidak perlu sempurna untuk memulainya, mulailah dengan kegiatan yang sederhana namun seru dan berani (menurut kita), lalu dokumentasikan hasilnya dalam Jurnal Kegiatan, tentu dengan observasi dan pengamatan yang penuh empati. Makin empati makin bagus refleksinya untuk merencanakan improvement pada kegiatan berikutnya.

Dokumentasi atau Jurnal Kegiatan yang paling mudah tentu saja foto dan filmkan. Just Do It!  Dokumentasi kegiatan itulah yang disebut Jurnal Kegiatan atau Jurnal Proyek sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dalam sebuah Portfolio, dimana foto dan film nya adalah evidence atau bukti. Sebagai catatan, foto daln film ini mencakup karya anak atau produk anak dalam sebuah kegiatan.

Namun, jika selama ini lebih asik memfoto dan memfilmkan kegiatan anak namun "terlewat" memberi catatan catatan penting dalam kegiatam tsb, kini tambahkanlah dengan catatan catatan penting yang sebaiknya ada dalam sebuah portfolio. Catatan penting ini menjadi landasan untuk merancang pengalaman untuk kegiatan berikutnya.

Maka catatan catatan penting di dalam halaman sebuah Jurnal Kegiatan atau Jurnal Proyek setidaknya berisi 

1. Profile Anak saat melakukan kegiatan 
2. Deskripsi kegiatan 
3. Tujuan kegiatan 
4. Proses Kegiatan 
5. Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh (diskusikan dengan anak) 
6. Aspek fitrah yang ditumbuhkan lebih baik dari kegiatan sebelumnya (diskusikan dengan anak)
7. Refleksi meliputi perasaan, fikiran atau tanda fisik antusias anak sebelum, ketika dan sesudah melakukannya (interview anak atau anak menuliskan sendiri)
8. Refleksi meliputi perasaan, fikiran atau tanda fisik antusias orangtua sebelum, ketika dan sesudah mendampingi kegiatan 
9. Catatan dari orangtua maupun fasilitator untuk perbaikan penyelenggaraan kegiatan (perencanaan, safety, apa yang terlewat dll)
10. Usulan atau rencana rancangan kegiatan berikutnya, mana yang perlu diimprovisasi (diskusikan dengan anak) 
11. Bukti (Evidence) berupa foto, film, karya, produk dstnya
12. Dstnya, 

Silahkan berkreasi sesuai kebutuhan anak 

Berikutnya simpanlah rangkaian Jurnal Kegiatan atau Journal Proyek ini dalam "folder" baik hardcopy atau softcopy/elektronis secara runut dan terstruktur 

B. Bangun Portfolio Berdasarkan Koleksi Terpilih Jurnal Kegiatan 

Ingat bahwa masing masing portfolio punya maksud (purpose) berbeda, namun punya tujuan sama yaitu assessment agar menjadi landasan bagi perancangan berikutnya bukan hanya sebagai arsip semata yang sekedar mudah dicari kembali. Authentic Assessment adalah yang terbaik karena melibatkan Orangtua, Anak dan juga Fasilitator atau Maestro (jika terlibat) dalam memberikan observasi dan refleksi atas progress perkembangan anak..

Karenanya Portfolio harus dapat disajikan sesuai maksud pembuatannya dan yang lebih penting adalah bahwa semua rangkaian kegiatan atau proyek berserta catatan penting dan evidence nya kelak harus dapat ditangkap pola keunikan anak sehingga pola itu dapat dijadikan landasan untuk merancang kegiatan/proyek berikutnya, membangun Portfolio yang tergonisir kemudian akhirnya untuk merancang personalized curriculum.

Bangunan Portfolio yang Sistematis meliputi 

1. Portfolio Plan (sebagaimana dibahas pada langkah 2)
2. Profile Unik Anak hasil Observasi Emphaty dalam banyak Jurnal Kegiatan sebelumnya. Profile ini sebagai "based line" atau landasan untuk pengembangan atau improvisasi, karenanya harus berisi potensi exisiting meliputi aspek Talent, Attitude, Skill & Knowledge yang dikuasai termasuk semua aspek fitrah. 
Pada akhir periode pembuatan Portfolio, maka Profile ini berisi update progress perkembangan yang akan menjadi "based line" bagi portfolio plan berikutnya.
3. Koleksi dari Jurnal Kegiatan atau Jurnal Proyek selama periode pembuatan Portfolio, tentu setiap jurnal beserta evidence dan hasil observasi dan refleksinya 

Kemudian bagaimana teknik observasi atau refleksi yang baik? 

(Bersambung)

Salam Pendidikan Peradaban 

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation 
#portfoliofitrah 
#portfolio

Komunitas HebAt
Ust. Harry Santosa

Tuesday, March 7, 2017

Materi #7: REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI


Alhamdulillah setelah  melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”  dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR "

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati. 

Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi  Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya,  demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah  

Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“ Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI "

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka 

Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1. Menambah syukur, 
2. Menegakkan taat 
3. Berbagi manfaat.


Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga,  untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


Sumber bacaan:

• Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
• Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010
• Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

Sunday, February 26, 2017

Materi #5 BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR




Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, 

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.


Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. 


Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.


Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa. 

*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*


Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.


Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.


Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?


Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal : 

1⃣Belajar hal berbeda        
2⃣ Cara belajar yang berbeda

3⃣Semangat Belajar yang berbeda


🍀 *Belajar Hal Berbeda*

Apa saja yang perlu di pelajari ?

yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)


*Cara Belajar Berbeda*

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.


Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :

👍Ibu jari : How

👆Jari telunjuk : Where

✋Jari tengah : What

✋Jari manis : When

✋Jari kelingking : Who

👐Kedua telapak tangan di buka : Why

👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.


Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya


Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.


Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

_Apa itu berpikir skeptik ?_

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.


*Semangat Belajar Yang berbeda*

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :


🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.


Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).


Yang harus dipahami,

*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*


Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?


• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan 

*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*


Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.


Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.



🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*

yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).


Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.


Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.


Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.



Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?


Caranya adalah :

1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati

2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya

3⃣Mengetahui passionnya


Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.


  *_Good is not enough anymore we have to be different_*


Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).


Peran kita sebagai orang tua :

👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.

👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.

kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya

👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.



Cara mengetahui passion anak adalah :

1⃣ _Observation_ ( pengamatan)

2⃣ _engage_(terlibat)

3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)


Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.


Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.



Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :


1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,

Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya

3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari

4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :

_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_

_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Thursday, February 16, 2017

NHW #4 MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH





Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?

Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Ya, semenjak anak saya sulit menyusu dari botol, sekitar 4-5bulan, itu menjadi titik balik hidup saya, bahwa saya ingin menjadi Ibu yang mau belajar dan benar-benar mengerti apa yang kelak keluarga saya butuhkan. Ibu yang bukan abal-abal, Ibu yang aerius menjalani perannya bukan hanya sampingan.

b.  Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita?

Belum.. saya masih keteteran menjaga ritme dan memanage waktu. Terutama waktu-waktu ketika suami libur/ada dirumah. Ibadah-ibadah sunah banyak yang masih terlewatkan :'(

Namun, dengan adanya target, saya merasakan perubahan yang cukup besar dalam hidup saya, karena sebelum menikah saya cukup aktif di beberapa organisasi dan pernah mengalami fase kuliah sambil bekerja, sehingga saya sempat jenuh dan 'kebingungan' ketika memilih harus berada di rumah. Dalam kegagapan saya merawat serta mendidik anak, bertemu dengan kelas matrikulasi ini merupakan secercah cahaya yang saya nanti-nantikan. Kemudian hidup saya menjadi bergairah kembali, ingin segera menuntaskan target-target harian dengan maksimal. Hari terasa cepat berlalu dan saya bahagia menjalankannya

Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

I'll do my best! Bismillah..
Ganbatte! ✊🙏

c.Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Misi Hidup : memberikan semangat, membantu mengedukasi, serta mencoba memberikan inspirasi berupa tulisan (dan praktek) kepada lingkungan sekitar
Bidang : Ilmu parenting/Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Motivator, Penggerak/Aktivis

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

1. Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang 

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Saya menetapkan KM 0 pada usia 25 th, dan memaksimalkam kemampuan serta memantapkan komitmen saya agar mencapai 10.000 (sepuluh ribu) jam terbang pada bidang yang saya minati. 

Sejak saya resign (Desember 2015) setiap hari saya berproses serta mendedikasikan waktu saya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, serta menuliskannya bersama anak-anak dengan menggunakan fasilitas yang ada secara maksimal.  

Sehingga saya berharap, dalam jangka waktu kurang lebih 4 s/d 5 tahun, kelak akan terlihat hasilnya. 

Milestone hidup Nadya Sholihati Vaizal  :
KM 0 – KM 2 ( tahun 1 dan 2) : Menguasai Ilmu seputar pengasuhan anak
KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai Ilmu seputar pengelolaan diri dan rumah tangga
KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar minat, bakat dan kemandirian finansial dll
KM 4 – KM 5 (tahun 5) : Menguasai Ilmu seputar berbagi manfaat kepada banyak orang

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Secara keseluruhan, sudah. Namun saya akan lebih mendetilkan lagi waktu serta ilmu apa saja yang perlu saya pelajari beserta strategi terbaiknya. Setelah ini, akan saya periksa kembali tugas tersebut dan menambahkan kekurangan yang ada, terimakasih banyak sudah mengoreksi dan mengingatkan. Alhamdulillah ❤

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Bismillaaah! Laa haula wa laa kuwwata illa billah :') ✊🙏

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. 

I will.. insyaa Allah..
I'm on the right track

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Bismillah semoga Istoqomah! ❤


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

Monday, February 13, 2017

Portfolio Pendidikan Anak (Bagian 2)

Hola, Assalamualaikum.
Sampailah kita Portofolio Pendidikan Anak ke bagian 2

Yang belum baca bagian 1, boleh di cek kesini dulu: http://nadyavaizal.blogspot.co.id/2017/02/portfolio-pendidikan-anak-bagian-1.html?m=0

Dan, langsung saja ya, check it out 💕~

-----


Langkah ke 2. Tuliskan Portfolio Plan (Perencanaan: Portfolio)

Perencanaan meliputi Maksud (Purpose), Jenis (Type), Structure, Pihak Terlibat (Audience), Jangka Waktu (Timeframe), Standar/Framework yang digunakan, Evidence/Artefacts (bukti kegiatan), Teknik Refleksi yang digunakan, Major Learning,  dstnya.

Sebagai catatan bahwa perencanaan Portfolio berbeda dengan merencanakan program pendidikan secara keseluruhan. Perencanaan portfolio adalah perencanaan dokumentasi dari pelaksanaan program pendidikan.

Dalam banyak hal perencanaan program pendidikan seperti personalized curriculum, pengembangan bakat dll diperoleh dari pembacaan atas pola unik anak dari rangkaian portfolio dalam jangka waktu tertentu.

Tahap perencanaan ini menyesuaikan kebutuhan dan keunikan keluarga dan anak masing masing termasuk juga kebutuhan Orangtua atau Pendidik. Hanya perlu dibuat di awal program untuk jangka waktu tertentu, misalnya 2 tahun atau 3 semester dsbnya.

Perencanaan Portfolio ini harus menjawab: Mengapa saya melakukan ini? (Purpose), Apa Tipe yang cocok untuk maksud tersebut? (Type), Bagaimana dan dimana saya menggunakannya (Context), Bagaimana komponen distrukturkan (Structure), Kepada siapa Portfolio ini diarahkan? (Audience), dstnya.

Secara umum, Maksud (Purpose) dari pembuatan Portfolio ada 4, yaitu
1. Untuk memfasilitasi Pertumbuhan anak (Developmental Portfolio). Portfolio ini berfokus tunggal pada salah satu aspek pertumbuhan anak. Anak anak special needs atau anak dengan keunikan khusus umumnya menggunakan Portfolio ini.
2. Untuk menyediakan Basis Evaluasi atau Persiapan Ujian (Assessment/Standard based Portfolio). Portfolio ini biasanya digunakan di sekolah karena harus memenuhi standar tertentu atau juga digunakan untuk persiapan ujian atau sertifikasi.
3. Untuk menyoroti kinerja dan kapabilitas anak (Showcase Portfolio). Portfolio ini sifatnya atau konteksnya sangat personal, dapat digunakan untuk memahami pola potensi anak atau untuk pengembangan bakat melalui beragam kegiatan maupun proyek.
4. Untuk merekam proses belajar anak dan konten pengetahuan yang dikuasai (Learning Portfolio). Portfolio ini bisa menggunakan standar, bisa pula freedom sesuai minat dan kebutuhan anak.

Tidak perlu khawatir dengan pilihan, karena kita bisa mengkombinasikan secara serial maupun paralel sesuai kebutuhan. Misalnya jika ingin fokus pada pengembangan bakat maka bisa dipilih Showcase Portfolio, namun pada tahun yang sama akan mengambil paket kesetaraan atau professional certificate maka Assessment Portfolio dapat digunakan pada saat yang sama. Begitupula bila punya target pengetahuan atau skill yang harus dikuasai pada tahun berikutnya maka secara paralel bisa menggunakan Learning Portfolio dstnya.

Berikut akan dibuat sebuah scenario Perencanaan Portfolio. Karena tujuan tulisan ini adalah untuk memandu orangtua kelak dalam merancang "Personalized Curriculum" dan diasumsikan tidak overlapping dengan Sekolah yang fokus pada Standar Curriculum, maka scenario perencanaan berikut yang dijadikan contoh adalah Showcase Portfolio .

Contoh Scenario Perencanaan Portfolio

1. Maksud: Untuk menyoroti kinerja dalam perkembangan aspek fitrah melalui beragam proyek atau kegiatan
2. Purpose Type: Showcase Portfolio
3. Context/Scope Type: Personal Portfolio (bukan Schoolwide Portfolio, bukan Academic Portfolio)
4. Structure: Rangkaian Proyek atau Kegiatan yang masing masing punya folder atau dokumentasi sendiri
5. Timeframe: 2 tahun
6. Standar Framework: Fitrah based Education version 7.0 (akan dijelaskan kemudian dalam contoh)
7. Major Subject to Achieved: 8 Aspects of Fitrah especially "Fitrah Bakat" and "Fitrah Keimanan"
Reflection: "Orangtua sering menekan saya untuk menambahkan lebih banyak akademik dalam program saya dan membuat stress. Saya menjadi frustasi sebab akademik bukan bakat saya..."
8. Audience: Orangtua, Maestro, Murobby, Rekan
9. Products/Artefacts/Evidence: Working Paper, Project Delivery, Lesson Learned, Project Evidence (Movie, Audio, Image)
10. Reflection Technic: Menggunakan Design Thinking atau Emisol atau Ediprot (Akan dibahas mendalam kemudian)
11. Timeline & Cost: Terlampir

Silahkan tambahkan point lainnya, seperti bagaimana mengatasi perubahan atas isu yang terjadi (corrective action), partner atau mitra yang terlibat, cara penyimpanan dokumen (hardcopy atau soft copy) dsbnya

Jangan ragu membuat perencanaan karena kita perlu untuk mengawali pembuatan Portfolo, jika ada perubahan bisa kapanpun dilakukan. Jika perencanaan selesai maka tiba saatnya untuk memulainya atau melanjutkan apa apa yang sudah dimulai namun dengan dokumentasi portfolio yang lebih baik dari sebelumnya.

Langkah 3.Membangun dan Mengorganisasi Portfolio

Selama kegiatan atau proyek atau program berlangsung maka kita mulai dapat mengkoleksi Evidence (Bukti bukti) dengan pengorganisasian yang baik. Apa yang dimaksud dengan Evidence? Bagaimana Mengorganisasikan Porttolio dengan baik termasuk pembuatan jurnal dsbnya?

(Bersambung)

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation
#portfoliofitrah
#portfolio

Sunday, February 5, 2017

NHW 2: Indikator Profesionalisme Perempuan


Assalamualaikuum,
Alhamdulillah akhirnya selesai juga setelah kejar-kejaran dengan deadline :')

So, here it is

NICE HOME WORK 2

Setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

📝✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅📝
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yang kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.
Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:

- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Jawaban:
A. Indikator sebagai Individu

1. Membaca Buku (Parenting khususnya, atau yang berkaitan)
Measure: 1 Buku/bulan
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

2. Tilawah
Measure: minimal 9 ayat/hari;
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

3. Sholat tepat waktu paling lambat 30 menit setelah adzan
Measure: minimal 4 waktu/hari
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

4. Sholat Dhuha 
Measure: Minimal 2 rakaat/hari
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

5. Sholat Tahajud 
Measure: minimal 1 kali/pekan
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

6. Berbagi tulisan di blog (tentang parenting dan yang berkaitan, khususnya)
Measure: minimal 2 tulisan/pekan
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

7. Olahraga secara teratur
Measure: Minimal 3x per pekan
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 2 minggu sekali.

8. Membaca Artikel Parenting
Measure: Minimal 1 artikel per hari
Sholat tepat waktu paling lambat 30 menit setelah adzan; 
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan serta berkelanjutan, serta menuliskan rangkumannya (boleh di blog/bukutulis/notes digital) dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 2 minggu sekali.

9. Bersedekah
Measure: Minimal 1x dalam sehari
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan dan berkelanjutan dengan catatan evaluasi dan strategi perbaikan setiap 1 bulan sekali.

10. Berdzikir Pagi dan Sore
Measure: minimal 100x
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

11. Minum air putih 
Measure: minimal 8x sehari
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

12  Melanjutkan strata 2
Measure: Maksimal lama pendidikan 2.5 tahun
Timebond: 5-7 tahun ke depan.

13. Memulai Bisnis
Measure: as soon as possible, dengan analisa yang cukup
Timebond: Akhir 2017

14. Membantu/memberikan saran untuk permasalahan teman/kerabat/keluarga
Measure: Minimal 3x dalam sepekan
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

15. Konsisten memberikan manfaat terhadap orang-orang sekitar maupun teman-teman (termasuk komunikasi secara digital)
Measure: minimal 4x dalam sepekan
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

16. Konsisten mencatat buku harian Muslimah Productive Journal
Measure: minimal 3x dalam sepekan
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya




17. Salam, senyum, sapa dan ramah kepada tetangga/ lingkungan sekitar
Measure: setiap berpapasan
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

18. Membaca berita hari ini minimal 5 artikel/ulasan
Measure: setiap hari
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

B. Indikator sebagai Istri

Sebenarnya, suami saya sosok suami yang "gampangan", Alhamdulillah barokallohulana. Gampang memaafkan, gampang dimintai tolong, gampang lupa (baik kesalahan saya maupun hal-hal yang sebaiknya tidak dilupakan, seperti saat pertama kali kita bertemu, misalnya wkwkw). 

Sehingga ketika ditanya, apa indikator istri profesional kebanggan keluarga buat abih?

Jawabannya satu: taat.

Kemudian terjadilah drama (atau negosiasi? Lol) 

"yah, bih.. kalo abih minta amih cuci piring tapi si abang nangis, gimana? Amih gak taat dong :'( " 

Lalu beliau jawab dengan kalimat yang memudahkan saya sebagai istri:

"Ya kan sak pol kemampuan, mih.. " 
Yang kalau diartikan pakai bahasa minang, as much as you can.

Alhamdulillah. Tabarokalloh, mudah-mudahan selalu saling surga-mensurgakan hingga maut memisahkan. :')

Tapi, selayaknya istri yang selalu ingin membahagiakan suaminya, maka beberapa list di bawah ini adalah indikator Istri profesional kebanggaan keluarga.

1. Menjaga kehormatan diri, salah satunya dengan tidak mengunggah foto-foto selfi (foto sendiri, close up) ke sosial media yang bisa di akses dan dilihat sepuasnya oleh laki-laki non muhrim. 
Measure: Setiap hari
Timebond: sampai akhir hayat. InsyaAlloh.

2. Menjaga kehormatan suami. Menutupi aibnya, menjaga serta merawat rumah dan anak-anaknya dengan bahagia, sepenuh hati.
Measure: Setiap hari
Timebond: sampai akhir hayat, InsyaAlloh

3. Berpakaian rapi dan wangi di rumah untuk menyenangkan suami
Measure: Setiap hari
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

4. Berhubung suami kurang suka liat istrinya menggunakan make up, maka saya perlu konsisten menggunakan skincare wajah agar tetap segar, bersih dan tidak kusam tanpa make up di rumah. 
Measure: 1x per hari (sebelum tidur)
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

5. Mengadakan quality time bersama (membahas keuangan, tumbuh kembang anak, rencana jangka pendek dan jangka panjang)
Measure: minimal 4x dalam sepekan
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

6. Memberikan pijatan pada suami. Measure: Minimal 2 Kali/pekan
Timebond: mulai hari ini hingga 1 bulan ke depan, dan berkelanjutan

7. Mengingatkan serta mensupport suami untuk mengikuti kajian Alquran dan Alhadits 
Measure: Minimal 2x dalam sepekan
Timebond: sampai akhir hayat, insyaAlloh

8. Melayani kebutuhan suami sesuai kesepakatan.
Measure: all day long
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

9. Membuat catatan laporan keuangan keluarga setiap bulan
Measure: Mencatat cashflow minimal 3x dalam sepekan
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya, dengan evaluasi dan catatan disetiap bulannya.

10. Mengingatkan suami untuk menanyakan kabar orang tua
Measure: Minimal 1x dalam sepekan
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

11. Mendoakan baik suami
Measure: setiap habis solat wajib
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

12. Menyiapkan makanan yang sehat, halal, dan baik 
Measure: setiap hari
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

13. Menjadi pendengar yang baik
Measure: setiap hari
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

14. Konsisten mencari ilmu tentang istri sholihah
Measure: minimal 1x dalam sepekan
Timebond: dimulai hari ini dan seterusnya.

15. Merapikan rumah 
Measure: minimal 3 kali dalam sepekan
Timebond: mulai hari ini dan dievalusia sebulan setelahnya

16. Mengingatkan tahajud
Measure: minimal 1x dalam sepekan
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

17. Memberikan kejutan, berupa hadiah/kreasi/masakan dengan resep baru (atau modifikasi) dan lain-lain
Measure: minimal 1x dalam sepekan
Timebond: mulai hari ini dan seterusnya

18. Konsisten menulis surat cinta
Measure: Minimal 1000hari pernikahan, sekali
Timebond: sepanjang hayat, insyaAlloh


C. Indikator sebagai Ibu

1. Menyusun menu bergizi untuk anak setiap bulan
2. Konsisten mencatat portifolio masing-masing anak, minimal 3x dalam sepekan



3. Membacakan buku cerita anak minimal 15 menit dalam sehari
4. Bermain secara total bersama anak minimal 30 menit dalam sehari
5. Memfasilitasi permainan yang menstimulasi anak, minimal 4x dalam sepekan
6. Konsisten mencatat tumbuh kembang anak sesuai KPSP, 3 bulan sekali.
7. Konsisten mencari informasi seputar anak dan keluarga, minimal 1 tema per hari
8. Bermain bersama, bercanda tawa riang, peluk sebanyak mungkin, minimal 3 waktu dalam sehari
9. Mengajarkan Tauhid kepada anak melalui cerita/tanya jawab, 1 waktu dalam sehari
10. Konsisten mengajarkan doa-doa harian, minimal 1 doa dalam sehari
11. Konsisten mengajarkan lafal-lafal ayat suci AlQuran minimal 4 ayat dalam sehari
12. Mendoakan kebaikan-kebaikan untuk anak, minimal setiap habis sholat

Note: 
1. Indikator di atas akan mulai dijalankan pada 5 Februari - 28 Februari 2017
2. Akan dilakukan evaluasi pada pekan I bulan Maret 2017
3. Mudah-mudahan Alloh berikan kemudahan, kelancaran dan istiqomah dalam mengaplikasikan standar indikator perempuan profesional versi saya pribadi.

Wassalamualaikum, selamat berjuang, pejuang Ibu Profesional! ❤