Saturday, November 14, 2020

Pertimbangkan Ini Saat Memilih Sekolah Dasar Untuk Anak (Part 2)

 Halo momies~ Masyaa Allah udah akhir 2020 aja nih. Assalamualaikum 🎈

Dulu janji mau bikin part 2 tentang pertimbangan memilih sekolah anak, jengjeeng.. 2 tahun kemudian utangnya baru dibayar 😂

Akhirnya dibayar karena abis ikutan acara open house online. Subhanallah, siapa yang sangka ya pandemi hit us, tanpa pemberitahuan. Masih galau banget S bakal sekolah dimana dan bagaimana, karena ni virus aja belum jelas kapan musnahnya. So saaaad~

Back to the topic, Masyaa Allah.. sekolah inceran emaknya S sejak 2 taun lalu bagus banget konsep dan valuenya. Masa iya nonton open housenya aja sampe monangis 😭😂 Mudah-mudahan emang sebagus itu ya, bukan pencitraan belaka. 🤪

Nah, besok S mau ikutan open house lagi nih, tapi buat TK sih. TK Online pula. Ini jadi ikut-ikutan open house gegara mak ichaaa wkwk. Pandemi ini membuatku shantay, dan selaaww banget tentang sekolah S, karena auk ah pusing banget mikirin sekolah kudu online segala.

Lalu tersadar, dan yak, aku harus bangkit dari kemalasan ini 😂💪🏻

Minta doanya aja agar kami bisa dapet sekolah terbaik dan terbarokah, yaaa.

so, here we go again, hal-hal apa saja ya yang bisa kita pertimbangkan buat memilih sekolah anak:

bismillaah~

✨ Kemampuan Finansial

Cita-cita boleh setinggi langit, tapi jangan lupa tetep "napak bumi". Nah, ini kriteria penting banget ya, mams. Budgetnya cukup atau nggak? Kalo cukup alhamdulillah, kalo nggak, masih bisa diusahakankah? atau lebih baik mundur teratur? Kita yang tahu sendiri nih detilnya. Buat uang pangkal, bisa diakalin nabung/invest dana pendidikan dari sejak hamil atau pas melahirkan ya. Yang khawatirnya kelupaan justru biaya bulanan yang jangan sampe nih, malah bikin lebih besar pasak daripada tiang.

Selain itu, yang mungkin perlu kita pikirin, gimana pergaulan anak-anak kelak? Kalau taraf ekonominya terlalu jomplang, tapi kita maksain naik ke level ekonomi yang jauh di atas kita, khawatirnya anak-anak kita jadi minder. Atau ya, paling ngga nanti biaya pergaulannya jadi mahal sekaliii~ karena lingkungannya membentuk seperti itu. Jangan sampe nih, kita cuma mampu liburan ke Puncak, eh temen-temen anak kita PP Jakarta-Singapur macem Depok-Bandung 😌 Biaya pergaulan tu kayak jumlah minimal arisan ibu-ibunya, biaya makan siang cantik di resto tempat ngocok arisannya, dll. Mau nggak mau, biasanya selalu ada nih "biaya" bergaul, baik buat orang tua atau anak-anaknya. Intinya jangan maksain diri sih, kalo mampunya arisan buku/baju ya jangan ke sekolah yang ibu-ibunya pada arisan berlian 😋, semampunya lebih baik, insya Allah.

✨ Banyak Gugling, Banyak Membandingkan, Buat School Survey Sheet kalo perlu.

Kenapa? Soalnya kalo ga dirangkum poin-poinnya tu bercabang aja terus di kepala. Dan enak kalo udah dicatet/ditulis/dibandingkan gitu, Mams. Kayak clear aja gitu kan, plus semakin mantap deh pilihannya mau kemana karena terpampang nyata tuh perbedaannya. Nah, setelah itu kertasnya tinggal kasi ke pak suami deh buat acc atau nggak (biayanya) *eh 🤭

✨ Datangi sekolah minimal 2x (penting: diluar acara open house ya!)

Saat kita datangi sekolah secara "tiba-tiba" maka yang terjadi di sekolah saat itu adalah kondisi yang memang biasa terjadi di keseharian mereka (bukan settingan karena lagi open house 🤭). Disitu kita selain bisa eksplore sekolah, kita juga bisa lihat aktifitas guru-guru + murid-muridnya secara real. Beneran menerapkan value yang mereka anut atau nggak? 

Biasanya nih, pada saat mendatangi sekolah kita bingung apa-apa aja sih yang perlu di observasi. Karena takut kepanjangan, aku buatin di part ketiga aja yaaa.

Sampai jumpa di postingan berikutnya, semoga bermanfaat dan semoga bisa berjodoh dengan sekolah yang cocok buat si kecil ya Mams ❤️

Wassalammualaikum 💫

Friday, September 6, 2019

Personal Boundaries


Sering nggak sih, kita ga sadar kalo orang lain sedang ‘menjajah’ personal boundaries kita. Sudahlah kita nggak sadar sedang dijajah, orang itu pun nggak sadar juga sedang menjajah diri kita.

Versi menjajahnya seperti ini:
- Susah menolak permintaan orang lain
- Memberikan orang lain kesempatan untuk mendikte atau mendefinisikan siapa diri kita, padahal kita nggak suka, dan nggak bisa memberikan kejelasan kepada mereka.

Kadang, hal itu terjadi karena kita terlalu percaya sama seseorang atau  sebaliknya, terlalu tidak percaya

Maka penting sekali menurut saya, bagi kita semua, khususnya mama-mama disini untuk meningkatkan awareness akan personal boundaries (batasan diri) serta membangun personal boundaries yang sehat.



Disclaimer, semua kita sedang belajar. Begitupun saya. Saya sendiri sharing ini karena seringkali melihat kondisi ini menjadi terlalu lumrah di sekeliling kita, khususnya hubungan dengan orang lain (bukan kepada suami/orang tua dan atau orang yang WAJIB kita taati, karena tentu berbeda konteksnya). Kemudian jika ingin menyuarakan sesuatu kepada yang lebih tua atau seseorang yang wajib kita hormati, kita harus menomorsatukan unggah-ungguh, atau adab sesuai Quran Hadits.

Walaupun dalam Islam, tentu ada hal-hal yang tidak bisa kita hindari intervensinya, karena Allah lebih tau yang terbaik untuk hamba-hambaNya, tinggal kita mengikuti perintahNya menjauhi laranganNya.

Eh eh terus kenawhy si perlu mengerti ini? Agar kita tak membiarkan orang lain melanggar batasan pribadi kita, dan sebaliknya, kita tidak melanggar batasan orang lain tanpa sengaja atau tanpa disadari.

Batas pribadi adalah ruang antara kita dan orang lain. Anggap saja seperti pagar atau gerbang. Sebagai penjaga gerbang, Anda yang memutuskan seberapa dekat orang lain boleh mendekat, baik secara fisik atau keemosian. Dengan adanya batas pribadi, kita meminta orang lain untuk membuktikan dahulu bahwa dia bisa dipercaya sebelum masuk dalam kehidupan kita.

Memiliki batasan pribadi yang tidak sehat, seringkali berakibat buruk pada mental health kita. Depresi, takut, khawatir, tidak percaya diri, you named it.

Maka nggak selamanya "gaenakan" sama orang lain DEMI menjaga perasaaannya itu baik. Kadang kita juga HARUS menjaga perasaan dan kewarasan kita sendiri.

Karena personal boundaries yang sehat itu adalah salah satu bentuk selflove kita pada diri kita.

Jadi sebaiknya kita mulai dari mana?

Mulai dari menghormati diri kita sendiri, lalu hormati orang lain. Kelebihan kekurangan kita, apapun itu, terima dan hormati. Tentu lebih baik jika kita terus berusaha memperbaiki diri. Jika kita sudah dengan sadar menghormati diri sendiri, kita akan secara otomatis mengeliminasi orang-orang yang tidak menghormati diri kita, sebagaimana manusia sepatutnya.

Katakan apa yang sebenarnya kita inginkan orang lain tahu, jika di konfrontasi.

Semua orang bebas berpendapat dan punya keyakinan, ketika orang lain memaksa pendapatnya atau keyakinannya kepada anda, beritahukan kepada mereka bahwa anda memiliki pendapat/keyakinan yang berbeda. Lets agree to disagree. Terlebih untuk hal-hal yang sangat personal, seperti agama, value dan prinsip dalam hidup, etc

Just say NO clearly, saat kita diminta sesuatu yang buat kita nggak nyaman, nggak bisa, atau nggak sesuai dengan value/prinsip hidup kita.

Kalau nggak bisa agree to disagree ya tinggalkan saja perdebatan itu. Hentikan lalu tinggalkan, seperti yang telah nabi pesankan.

Peka terhadap warning signs. Seiring perjalanan hidup kita, kita akan menemukan seseorang melanggar batas kita dan tergolong parah, ada juga yang masih bisa kita ditoleransi.

Jika personal boundaries kita dilanggar berkali-kali oleh orang yang sama, walaupun mungkin menurut kita pelanggaranannya masih dalam taraf bisa ditoleransi, maka sesungguhnya itu sudah cukup menjadi RED FLAG bahwa orang tersebut PERLU kita hindari atau eliminasi dari kehidupan kita.



Kita harus mengajak pada kebaikan dan mengajak untuk menjauhi kemungkaran, TAPI bukan tanggung jawab kita untuk merubah orang lain, apalagi memaksanya untuk berubah. Suatu waktu kita mungkin bertemu sessorang, dan seiring berjalannya waktu kita akan semakin mengetahui karakternya, JIKA karakter dasarnya merugikan kita, bukan tanggung jawab kita untuk merubahnya. Dont waste your time and energy. Be wise.

Bertanggung Jawablah pada keputusan kita.

Pada dasarnya, hak dasar manusia untuk menentukan keputusan apapun dalam hidupnya. Dan sejatinya kita nggak perlu menjelaskan atau mempertanggungjawabkan keputusan pribadi kita kepada orang lain.

Jika keputusan tersebut bisa berdampak pada orang lain atau berpotensi menyusahkan orang lain, tentu kita harus menjelaskan dan mempertanggung jawabkannya untuk banyak pihak.

Tapi kalau keputusan itu adalah hal pribadi dan ga ada sangkut-pautnya dengan orang lain, we have the right to decide or change our mind at any time.



Kalo katanya Mami Ubii (dengan editan saya sedikit di akhir kalimat), "Establishing healthy boundaries is a life-long learning. But it's worth trying. 'No' might make them angry. But sometimes, it's what we need to set us healthy ❤"

BONUS:
saya tambahin sekalian ya, bahwa anak kita juga harus tahu tentang personal boundaries ini lhoo 💥



Is the Balance Bike really Worth the Hype? (Part 2)


Belajar mengendarai balance bike mirip belajar sepeda roda dua pada umumnya, pertama-tama mereka akan berjalan dengan pelaaann sekali dan bahkan nggak bisa sambil duduk. Lama kelamaan mereka semakin cepat, lalu mereka bisa mengendarai sepeda dengan menduduki joknya sambil berlari, step terakhir mereka bisa mengendarai dengan cara duduk, berlari kemudian mengangkat kakinya.



Belom baca Part 1 nya? Klik dong 😉

Kalau anak sudah bisa mengangkat kakinya saat bermain artinya mereka sudah menemukan keseimbangannya sendiri.

Belajar mengendarai balance bike adalah kegiatan yang menantang, beberapa anak merasa nggak asik memainkannya karena belum terbiasa, takut jatuh, dlsb. Pernah S ada di fase itu, jadi itu si balance bike di minggu-minggu pertama diem aja di rumah, nggak dipake sama sekali. Karena menurut dia ngga seru.

Tapi sebagai orang tua, saya tetap support dia kalau dia bisa, dia berani, its okay pelan-pelan dulu, nanti lama-lama juga bisa. Beberapa anak lain butuh diyakinkan dengan safety equipment seperti helm, sarung tangan, pelindung siku dan lutut, serta sepatu yang nyaman.

Saat anak melihat sendiri bahwa bermain balance bike ternyata ada progressnya, anak akan senang dan tanpa ia sadari ia terlatih untuk lebih berani, tetap berhati-hati, percaya diri serta memiliki penguasaan gerak tubuh yang baik.

Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, manfaat balance bike tentu bukan hanya “demi bisa cepet belajar sepeda”. Yang paling terlihat dari progress S bermain balance bike adalah, dia jadi lebih percaya diri, berani dan memiliki penguasaan gerak tubuh yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Karena ringan, anak bisa menentengnya sendiri, menaiki beberapa anak tangga, masuk-keluarin sepeda dari rumah. Saya pribadi seneng sih, karena dia jadi merasa punya tanggung jawab atas sepedanya, dan bisa percaya diri karena sepedanya dia kendalikan semua sendiri.

Nah, jadi apa bedanya Balance Bike vs Training Wheels (roda empat)?

Balance bike mengajarkan anak untuk mengendarai sepeda secara seimbang. Berbeda dengan training wheels (sepeda roda empat), ia menopang anak ketika tidak seimbang, biasanya training wheels akan menopang anak agar tidak jatuh saat sepeda miring.

Saat anak belajar sepeda roda dua dengan melepas kedua training wheelsnya, baru ia akan belajar bagaimana mengendarai sepeda sambil belajar keseimbangan. Tetapi dengan balance bike, anak akan belajar menguasai teknik keseimbangan diri dalam bersepeda sejak hari pertama ia mengendarainya.

Bagaimana sih cara mainin Balance Bike?

Seperti yang sudah saya jelaskan di part satu ya, semuanya natural sekali. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘nanti kalau main balance bike kakinya taruh dimana?’ atau ‘gimana caranya sih mengendarai sepeda tanpa pedal?’ itu umumnya muncul dari para orangtua. Anak-anak sih, nggak banyak mempertanyakannya hal itu, tapi langsung penasaran lalu mencoba mengendarai, dan lama kelamaan, mereka tahu bagaimana cara memainkannya dengan asik dan seimbang.

Bisakah merombak Sepeda Roda Dua Berpedal menjadi Balance Bike?

Setahu saya sih, bisa ya. Dan sudah ada yang jual juga balance bike yang ada pedalnya dan bisa dilepas. Kalau dari sepeda roda dua yang defaultnya berpedal, kemudian pedalnya dicopot, mungkin yang agak bikin risih itu ada rantainya. Tapi kalau ditanya bisa atau nggak, seharusnya sih tetap bisa.

Kalau ditanya kenapa balance bike? ya karena ia didesain sangat ringan agar anak lebih optimal dalam belajar keseimbangan tubuhnya. Desain yang ringan bermanfaat bagi anak untuk bisa bangun dan mengangkat balance bike sendiri tanpa bantuan orangtua, saat ia jatuh. Jadi, si balance bike ini ceritanya memfasilitasi anak dalam kemandirian juga "bersenang-senang" sebelum akhirnya mereka menggunakan sepeda roda dua yang ada pedalnya.

Setau saya, sepeda roda dua yang memiliki pedal jauh lebih berat, sehingga sebenarnya lebih sulit digunakan saat belajar keseimbangan untuk anak-anak usia preschool/toddler. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk anak berusia lima tahun atau lebih jika mau merombak sepeda berpedal menjadi balance bike. Karena mereka sudah lebih kuat dan memiliki kemampuan motorik yang lebih baik dibandingkan anak usia toddler atau preschool.

Perlengkapan yang Diperlukan Saat Mengendarai Balance Bike apa aja ya?

Keselamatan anak adalah yang utama. S belom beli sih hueheheh, karena emang baru-baru ini mulai ngebut dan bisa angkat kakinya. Sudah harus beli, memang. Biar dia aman dan semakin percaya diri. Insya Allah.

Pelindungnya biasanya ya berupa helm, sarung tangan, pelindung siku-lutut juga sepatu yang aman dan nyaman. Sejauh ini S juga belum pernah jatuh, soalnya mainnya ya gitu, hati-hati banget. Saya juga kaget waktu dia ternyata udah bisa ngebut dan angkat kaki padahal bukan dijalan yang mulus kayak aspal, Masyaa Allah.

Balance Bike punya S: Harga, Tempat Beli, Mahal?

Balance bike punya S merknya London Taxi warnanya merah. Saya beli waktu S usia 3 tahun lebih, lah. Udah telat sih, memang. Tapi abihnya kepengen banget, saya yang belom ngerti buat apasih sepeda gini-gini, kok mahal, dlsb ya respon pertamanya pasti menolak. Tapi abis itu ya cari tau, pikir-pikir, timbang-timbang lagi, toh uang-uang bapaknya juga yang beli ahaha, yaudah deh mumpung yang kepengen bapaknya. Jadi dia belinya juga seneng gitu kaan. Nggak kaya waktu saya minta beliin buku satu set yang harganya jut-jut itu, bapaknya masih iya-iya, nggak-nggak. Akhirnya saya beli aja pakai uang saya sendiri, hasil dari keuntungan nulis dan jualan buku. (Malah curhat 😂)

Ohiya, lanjut ke harga balance bike tadi. Harganya dikisaran 1jutaan. Seinget saya sih, kita belinya online dan cari yang freeongkir. Karena yakan mahal kalo nggak freeongkir ya buuu. Seinget saya juga, belinya dulu dapat harga diskon, cuma bener-bener lupa deh dapet harga pas 1juta atau dibawah itu sedikit.

Kok Mahal?
Jengjeeeeng. Pertanyaan emak-emak, saya pun begitu waktu abihnya S minta beli itu sepeda. Balik lagi sih ya, mahal itu relatif banget. Kalau satu jutanya dipikir bisa buat beli garem yaiya jadinya banyak, mahal. Tapi kalo dipikir masa guna sepeda = bisa dipakai berapa tahun? manfaat sepeda = bisa buat stimulasi apa aja? bisa diturun temurunkan ke adik-adiknya, nggak?

Kalau saya jawab pertanyaan itu satu-satu ya jawabannya sepedanya nggak mahal sih jadinya. Puasa ke kidzoona 12 kali aja, bisa deh punya alat buat stimulasi motorik kasar anak secara lengkap dan dapat digunakan setiap hari, iya setiap hari.

Menimbang saya paling males harus keluar rumah, utamanya sih buat stimulasi motorik kasar anak, jadi yaudah lah beli aja. Masa udah beli dengan harga segitu masih mau males juga? 😆

Last FYI, untuk merk lain, ada kok yang harganya di kisaran 500-800 ribuan. Seperti Maynine, dll.

Balance bikes teach toddlers and kids how to ride while balanced, whereas training wheels teach how to ride while unbalanced.

Sumber bacaannya:


Is the Balance Bike really Worth the Hype? (Part 1)


Buat yang kemarin-kemarin liat story/status WhatsApp aku tau ya Kalo S mainan sepeda. Tapi sepeda S nggak Ada pedalnya karena memang jenis sepeda balance bike atau kick bike, alias sepeda tanpa pedal, jadi ya sepedanya bergerak dengan cara berjalan atau berlari gitu, bukan digowes.

Karena story kemarin (atau karena liat S main sepeda di depan cluster), banyak beberapa yang tanya,

"Wah, S udah bisa roda 2 ya?"

"Kok sepedanya nggak ada pedalnya?"

"Sepedanya beli dimana?"

"Kisaran harga berapa, itu?"

"Manfaatnya apa balance bike?"

Untuk pertanyaan yang terakhir, sebelum beli sih saya udah riset kecil-kecilan dulu. Tapi, begitu ditanya lagi, saya udah lupa manfaatnya apa aja hahaha. Jadi, mending sekalian dibuat aja blognya ya, biar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan netyjen tersuyung.

Jadi apa sih sebenarnya Balance Bike itu?



Balance bike atau kick bike adalah sepeda dua roda, tanpa pedal. Saat ini, di Indonesia udah mulai banyak yang menggunakan, ada komunitasnya pula. Gemes sih kalo liat instagram komunitasnya, coba deh liat-liat. Nah, tapi kalau di negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, Jepang, Inggris, Korea, dlsb, balance bike atau kick bike sudah lama dijadikan media belajar bersepeda usia dini.

Sebenarnya, ada banyak sebutan untuk sepeda roda dua tanpa pedal ini, ia bisa disebut; balance bike, push bike, kick bike, training bike, run bike, baby bike, trainer wheels. Berbeda merk, berbeda pula bentuk, ukuran, berat dan bahannya. Ada yang terbuat dari  kayu, alumunium, bahkan plastik.

Berapa sih usia yang tepat bagi anak untuk bisa mengendarai Balance Bike?

Jadi, balance bike ini memiliki berbagai ukuran, dan ukuran terkecilnya dapat dikendarai sejak anak berusia 18 bulan. Di negara maju, anak-anak ini memang biasanya diberikan balance bike sejak mereka baru bisa jalan dengan mantep, ajeg atau sekitar umur 18 bulan-24 bulan. Balance bike sendiri bisa digunakan hingga anak berusia sekitar 5 tahunan.

Saran saya, saat ingin membeli, pastikan untuk memilih ukuran, bahan dan bentuk balance bike yang sesuai dengan kebutuhan anak, ya. Soalnya ukuran balance bike itu ada yang cocoknya untuk tinggi anak 3 tahun hingga 5 tahun. Tapi ya ada juga balance bike yang cocok untuk usia anak mulai 2tahun.

Berbeda bahan/merk tentu berbeda juga beratnya. Menurut saya, berat balance bike ini cukup mempengaruhi manuver dan kepercayaan diri anak saat bermain sih. Karena balance bike bisa digunakan dengan baik jika telapak kaki anak sudah bisa menapak dengan sempurna saat menggunakan balance bike (nggak terlalu jinjit).

Usia 2 tahun biasanya mayoritas orang tua di Indonesia membelikan anaknya sepeda roda tiga, ya. Sayangnya, sepeda roda tiga itu nggak mengajarkan keseimbangan sama sekali loh. Jadi saat anak makin besar, stepnya kemudian anak diberikan sepeda roda empat (roda dua dengan roda kecil disampingnya). Lalu, mereka naik step lagi belajar sepeda roda dua. Jadi, ya belajar keseimbangannya baru di roda dua itu, cukup lama nggak sih? Dan sayang banget aja stimulasinya lebih sedikit menurut saya, sementara dengan balance bike, sejak usia 2 tahun dia sudah bisa distimulasi lebih optimal.

Kabar baiknya, dengan stimulasi menggunakan balance bike dimulai usia 2 tahun, idealnya saat ia 4 tahun, anak sudah siap menggunakan sepeda roda dua.

Tetapi tentu, tiap anak pasti berbeda-beda perkembangannya. Hanya saja, secara logika ketika anak sudah terbiasa dan bisa mencari keseimbangan sendiri dengan bermain balance bike, ia akan jauh lebih mudah belajar sepeda dengan pedal karena sedikit banyak, sudah tahu dan mengerti cara menyeimbangkan tubuhnya.

So, sebenarnya apa aja sih manfaat Balance Bike?

Balance bike fungsinya tentu sebagai pengganti tricycle atau training wheels (roda tambahan pada sepeda roda dua; roda empat). Dengan mengoptimalkan stimulasi keseimbangan serta koordinasi tubuh yang dipelajari dari balance bike, anak diharapkan dapat langsung beralih ke sepeda roda dua yang sebenarnya dengan lancar tanpa bantuan training wheels.

Sepengalaman saya, dengan desain balance bike yang ringan dan tanpa pedal itu membuat anak lebih cepat beradaptasi dengan sepeda tersebut. Mungkin sama seperti pengalaman ibu-ibu lainnya saat pertama kali mengenalkan anak mengendarai sepeda roda tiga, anak-anak biasanya nggak ngeh kalau kaki seharusnya ditaro di pedal lalu pedal digowes. Anak-anak cenderung menggunakan kaki mereka untuk menggerakkan sepeda. Kudu dijelasin dulu, baru deh dia ngerti.

Nah, berbeda dengan balance bike, S waktu pertama kali ya langsung bisa. Karena naturally anak akan melakukan hal yang sama seperti saat dia menaiki sepeda roda tiga. Tentu tidak langsung ngebut atau seimbang, tapi dia mengerti bahwa cara memainkannya dengan duduk terlebih dahulu, pegang stang, lalu gerakkan kaki ke tanah agar bisa maju. Naluriah sekali.

Selain itu, lagi-lagi karena desain balance bike yang ringan, ringkes, simple nyatanya sangat memudahkan anak untuk menguasai gerakan belok, memutar, zig-zag hingga menanjak dan meluncur dengan seimbang. Balance bike juga sangat ramah pada permukaan jalan atau tanah yang tidak rata, mudah digunakan di permukaan yang berbatu. Untuk tricycle manfaat ini tentu tidak dirasakan, untuk training wheels (sepeda roda empat), pendapat subjektif saya sih kurang optimal, ya. Anak terlihat mudah menggowes karena jalanannya oke/mulus. Untuk bermanuver sepertibberbelok, memutar, zigzag juga tidak "selincah" menggunakan balance bike.



Jika dilihat dari bentuknya yang sangat fleksibel dan ergonomis dibandingkan tricycle, Balance bike dapat digunakan untuk menempuh jarak yang jauh. Berbeda dengan tricycle yang sangat tidak efisien untuk dikendarai anak dengan jarak yang jauh. Biasanya juga tricycle dilengkapi dengan pegangan ya, supaya kita, orangtua bisa bantuin mendorong mereka ketika mereka capek, hal ini akhirnya membuat anak bergantung pada orangtua dalam mengendarainya. Balance bike lebih menstimulasi kemandirian anak.

Anak-anak yang mengendarai balance bike dapat melatih keseimbangan motorik kasarnya dan juga keseimbangan pada otak kanan dan otak kirinya. Hal ini terjadi karena adanya sinergi dari seluruh aspek indra anak, koordinasi total antara mata, tangan, kaki, badan maupun otak untuk mengendarai sepeda tanpa pedal tersebut. Sebuah stimulasi paket lengkap untuk motorik kasar. Wow.


Cukup menarik ya?

Ohiya, saya mau nambahin gambar anak-anak yang sedang ikut aktifitas balance bike di komunitas balabiboo (balance bike bogor)



Seru yaa, lanjut baca-baca seputar balance bike di Part 2 ini yaa 😊 

Thursday, September 27, 2018

Pertimbangkan Ini saat Memilih Sekolah Dasar untuk Anak (1)


Heyhoo~ Assalamualaikum

Karena guglang gugling nggak jelas juntrungannya itu capek sih, maka saya kepikiran bakal buat google sheet yang sekarang masih di corat coret dulu di google keep. Biar enak baca dan bandingin plus minus sekolah yang diincar.

Nah, sekarang saya mau sharing kriteria apa saja yang bisa kita pertimbangkan buat memilih sekolah anak. Khususnya sekolah dasar ya, karena anak akan menghabiskan masa anak-anaknya di sana. 6 Tahun lama ya kan, buk. Nggak kebayang kalau tiba-tiba anak bosen tengah jalan.



Yang mau menambahi, silahkan lhooo~

🌇 Tipe Sekolah

Sekolah negeri atau sekolah swasta? Sekolah umum atau sekolah alam? Sekolah agama (Islam, Kristen, Katolik) atau sekolah biasa aja yang campur semua, supaya belajar toleransi etc etc. Pilih dulu tipe sekolah yang sekiranya sreg dengan visi misi serta jaman yang kelak akan dilewati anak-anak kita.

🌇 Cek Visi Misi Sekolah

Mau nikah aja cek visi misi pasangan dulu, ya. Biar sejalan, lancar, nggak banyak berantem atau beda pendapat krusial. Apalagi ini urusannya tentang 'menitipkan' amanah kita, ya walaupun 'sebentar' dan sudah pasti sebenarnya mereka adalah tanggung jawab penuh kita sebagai orang tua, maka memilih sekolah yang sejalan dengan visi misi kita, mempermudah jalan kita dalam menjaga serta mendidik amanah yang telah diberikan olehNya, insyaAllah.

Kalau perlu, cari tahu juga owner/kepala sekolahnya, ngobrol bareng mereka. Sedikit banyak kita akan tahu segreget apa si owner/kepsek ingin memajukan pendidikan, memaksimalkan potensi siswa-siswanya dengan menyajikan pendidikan yang menyenangkan di sekolah tersebut.

🌇 Lokasi dan lingkungan Sekolah

Sekolah bagus mungkin banyak, sayangnya nggak semua sekolah dapat kita akses dengan mudah sehingga bagi saya penting untuk mempertimbangkan beberapa hal ini:
📍 Jarak
Bersyukur beberapa sekolah incaran kami berada di radius kurang dari 5 KM, dan saya rasa, saya mungkin juga masih menolerir jarak 7-8 KM jika daerah sekolah tersebut agak terpencil/ daerah jarang macet. Jarak yang tidak terlalu jauh ini akan berdampak pada kondisi anak. Anak tidak akan terlalu capek di jalan karena macet atau lain hal, tidak perlu berangkat terlalu pagi dan pulang terlalu siang, menghemat waktu juga biaya serta memudahkan kita untuk antar jemput jika dilakukan secara mandiri.
📍 Lingkungan Sekolah
Selain itu hal yang bisa dipertimbangkan tentang lingkungan sekolah, mungkin beberapa orang tua lebih nyaman jika sekolah tidak berada di kawasan yang ramai lalu lintas, di pinggir jalan raya atau di dekat lokasi pusat perbelanjaan. Juga lingkungan sekolah yang kondusif, sekolah lebih menjorok ke dalam sehingga hiruk pikuk suara di luar sekolah tidak mengganggu kegiatan atau konsentrasi belajar anak-anak.

🌇 Tes Masuk Siswa Baru

Beberapa sekolah favorit (both, swasta/negeri) ada yang mewajibkan tes masuk seperti calistung: (membaca, menulis dan berhitung) dari hal ini kita bisa menilai kemungkinan-kemungkinan cara belajar yang diberikan oleh sekolah tersebut. Mayoritas sekolah yang menggunakan keunggulan prestasi anak dalam 'angka' sebagai filter penerimaan siswa, dalam sistem pembelajaran kemungkinan besar akan memakai sistem DIRECT TEACHING. Sistem pembelajaran satu arah seperti saat kita sekolah dahulu. Guru mengajar, memberikan latihan dan PR secara konvensional.
Tes masuk dengan observasi/wawancara dari pihak sekolah. Terkadang pada praktiknya yang di interview hanya orang tua saja, beberapa sekolah lainnya menggunakan metode interview 2 arah, anak juga orang tua, mereka mengkonfirmasi kesiapan kedua belah pihak. Sekolah yang menerima murid baru melalui tes wawancara biasanya sistem pembelajaran yang akan digunakan mereka adalah ACTIVE LEARNING.

Beberapa sekolah paham betul bahwa bekerjasama dengan orang tua yang kurang peduli/cuek, tidak memiliki prinsip tertentu atau terlihat tidak siap terlibat perihal sekolah anak hanya akan membawa petaka bagi pihak sekolah.



🌇 Kurikulum/Metode Pembelajaran

Mau kurikulum yang seperti apa? Kurikulum nasional? nasional plus? Internasional seperti IB/Cambridge? Cari tahu lebih banyak tentang metode pembelajaran ini, yaa. Nasional plus itu biasanya yang plus islami, bernafaskan islam. Plus montessori, atau plus kurikulum khusus yang diramu secara mandiri oleh sekolah yang bersangkutan.

Saya pribadi condong ke nasional plus, memang. Kalo bisa sekalian sekolah yang pake kurikulum nasional plus dan internasional mah boleh banget dong, asal harganya jangan mahal-mahal amat yaaaa. Hahahaha. Pelik memang kalau sudah menyangkut biaya 😪
Selain itu preferensinya juga kalau bisa bilingual atau full english juga boleh. Kan lumayan ngirit biaya les sekalian *emakperhitungandetected 🌋

Kok, mau yang pake english segala sih? Banyak mau ngana! 😅 Ya, pengen aja. Wkwk. Adalah sesuatu yang kalo diterawang-terawang di masa kini, kok sepertinya butuh, gitcu.
 
Montessori akan sangat menjadi nilai plus! Sayangnya sekolah dengan montessori di Bogor pilihannya sangat minim, dan bagi saya kurang sreg aja setelah cari tahu via google dengan pilihan beberapa primary school dengan montessori yang ada.

Intinya sih mau sekolah yang nggak maksa anak duduk belajar, belum ada PR untuk anak kelas 1 sampai 2 SD, kalau pun ada PR, PR nya berupa project yang memang butuh pengawasan orang tua, bukan PR textbook gitu, jadi anaknya bahagia di dalam kelas. Bahkan kangen mau sekolah mulu 😝 Sekolah yang mengutamakan akhlak, mengembangkan leadership serta kepercayaan diri dengan cara yang menyenangkan.
Rewel amat sih ibu bangsa satu ini........ 🙄

Masih ada beberapa pertimbangan lainnya, bahas di next post aja, ya! Kepanjangan banget inih 😁

See ya! Assalamualaikum 🎈

Wednesday, September 26, 2018

Kenapa (kami rasa) butuh SD Swasta?

Yap, Assalamualaikum gengs 🍒

Jadi berangkat dari obrolan grup watsap makemak kesayangan berfaedahku *halah, saya jadi tertamvar bahwa, wow S udah 3 taun lebih ajaaaah. Pet ngets, yes moms. Sudah mau sekolah bentar lagiii. Sudah yakin belum ya SD mana yang akan kami pilih? Eh, SD nya pake waiting list nggak? Dana pendidikan sudah siap? (Eaaa, ini masalah terpeliknya 😂) dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam dada.

(Warning: postingan panjang kali lebar 😅)

Dahulu kala jaman S masih 1 taunan (sekitar 2016 2017an lah, ya), saya udah mulai cari-cari tau, kira-kira nanti S SD nya dimana, ya? Berapa uang pangkalnya? SPP nya? Di Depok atau di Bogor aja? Sekolah alam atau sekolah umum aja? Kurikulum nasional atau internasional? dlsb.




Saya juga sudah coba hitung-hitung inflasi biaya pendidikannya untuk 6 tahun ke depan, karena kan nggak mungkin biaya sekolahnya akan sama dengan harga yang saya lihat saat itu dong, ya.

Nah, bermula dari situlah saya bisa memprediksi, oke saya dan suami butuh sekian puluh juta untuk rata-rata uang pangkal SD-SD yang menurut kami sesuai kriteria untuk S dan tentunya juga kami sebagai orang tua.

Oiya, kita (saya sih lebih tepatnya huehehe) emang nyari SD swasta, dan kayaknya kurang sreg dengan kurikulum serta budaya di SD Negeri. Saya masih mempertanyakan apakah metode pembelajarannya masih sama seperti saya dulu? Kelas dengan banyak anak, dipaksa mandiri, PR, beban materi sekolah yang cukup berat, murid fokus pada satu guru dan gurunya nggak fokus sama semua murid alias nggak student centered dlsb dlsb yang mungkin mayoritas pembaca mengalami pengalaman tersebut di masa kecilnya, dan baik-baik saja seperti saya. Hahaha

Walaupun sebenernya saya dan suami typical manusia yang nggak susah bangun pagi buat sekolah, nggak malesan,  anak yang tertib peraturan, rajin mengerjakan PR endembre endembre (lalu membanggakan diri, lol), intinya bukan type anak yang nggak bergairah ke sekolah gitu lah, kami bahagia sekolah walaupun sekolahnya negeri dengan tuntutan dan beban yang cukup berat kalau dipikir-pikir saat ini, khususnya setelah saya menjadi orang tua. Iya, sekolah yang ramah anak rasanya jadi prioritas sekali saat ini.

Belum lagi, ada peraturan terbaru tentang minimal usia dan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (khususnya sekolah dasar). Saya akan mention beberapa peraturan terkait, yaa.

Dikutip dari akun instagram resmi Kemendikbud @kemdikbud.ri dan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai sistem zonasi dalam PPDB 2018 diantaranya:

1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda) wajib menerima calon peserta didik berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah dengan kuota paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

...
...

8. Untuk jenjang SD, sistem zonasi menjadi pertimbangan seleksi tahap kedua setelah faktor minimum usia masuk sekolah sudah terpenuhi. Sedangkan bagi SMK sama sekali tidak terikat mengikuti sistem zonasi.

Yap, kesempatan masuk SD lebih besar ketika usia anak kita lebih tua dibanding calon siswa lainnya. Setelah usia, maka filter kedua adalah zonasi.

Filter yang ada, membuat sekolah favorit seperti 'kehilangan' giginya. Kehilangan lingkungan anak-anak yang terseleksi berdasarkan prestasi.

Familiar nggak sih, temen-temen sekolah dulu rumahnya ada yang diujung timur satu lagi diujung barat banget sekolah, jauuuuuh bener.

Kok, mau ya? Ya, mau lah kan sekolah favorit!

Kok, bisa ya satu sekolah sama kita yang rumahnya cuma segelindingan doang dari sekolah? Ya, bisa lah! Kan filternya nilai UN, NEM, tes calistung, IQ dlsb.

Jadi, sekolah favorit saat ini seharusnya akan sangat-sangat "multicultural" = anak pandai, rajin, malas, kurang berakhlak, orang tua peduli, orang tua cuek, orang tua dengan ilmu parenting baik, orang tua dengan sabodo amat yang penting anak gua bisa makan, sekolah dlsb dlsb. Tidak seperti seleksi alam sebelumnya, sekolah favorit kini akan menjadi sekolah "biasa saja" dengan beragam culture dari calon siswa dan orang tuanya.

Yang padahal sebelumnya, bisa jadi (bisa jadi lho ya, ini subjektif sekali memang), sudah terseleksi dengan prestasi, which is kemungkinan besar anak-anak dan orang tua masing-masing memiliki "latar belakang" tidak terlalu jauh berbeda gap diantara mereka.

Apakah sekolah swasta terjamin baik? Ya nggak juga. Tapi meminimalisir 'resiko' tercampur baurnya lingkungan yang tidak teridentifikasikan, setidaknya bisa diikhtiarkan, bagi saya.

Apakah sekolah negeri jadi sedemikian jauh kriterianya dari sekolah ideal? Ya, balik lagi, tergantung prinsip dan keyakinan masing-masing orang tua serta kebutuhan juga ketahanan anak dalam beradaptasi pada metode pembelajaran yang disajikan.

Pasti ada kok orang tua yang bisa menolerir metode pembelajaran konvensional, dan ya kok anaknya juga baik-baik aja tuh di sekolah tersebut, malah berprestasi. Jadi, balik lagi memang, kebutuhan dan preferensinya tergantung dari individunya masing-masing. Nggak ada yang sama, karena semua orang unik, yes?

Dalam peraturan kemendikbud disebutkan, ternyata masih ada kesempatan, dikecualikan untuk siswa yang di luar zonasi, tetap dapat mendaftar sekolah impiannya dengan syarat tertentu yang terdapat pada poin 6. Cukup menarik, mari kita simak.

6. Calon siswa di luar zonasi dapat diterima melalui beberapa cara yakni:

a. Melalui jalur prestasi dengan kuota paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

b. Alasan perpindahan domisili orangtua/wali atau alasan terjadi bencana alam/sosial dengan paling banyak 5% (lima persen) dari total keseluruhan siswa yang diterima.

Untuk jalur prestasi ini, masyaa Allah, insyaAllah banyak aja nih ya saingannya? Eh, saya kurang tahu ya kalau pada SD Negeri praktiknya seperti apa. Apakah berdasarkan IQ, tes calistung serta wawancara dlsb untuk menentukan calon siswa tersebut berprestasi atau tidak. Yang jelas, masuk SD Negeri saingannya makin ketat, kalau sekolah favorit anak-anak saya bertempat di luar zonasi calon sekolah favoritnya.

Nah, balik lagi nih, tes calistung ini kan kontroversi juga di kalangan emak-emak, ya. Ada yang pro ada juga yang kontra. Ada yang anaknya udah bisa, ada yang belom bisa. Ada yang udah bisa tapi nggak mau lah pilih sekolah baru SD aja tes calistungan segala, ada yang gapapa lah kan diseleksi yang terbaik doong, biar lingkungan bagus. Macem-macem lah ya. Bebas aja, selama orang tua dan anak sama-sama mengerti mau kemana dan seperti apa nantinya di sekolah.

Jadi, cari sekolah, SD ya khususnya, karena kalau TK kan nggak terlalu lama, 2 tahun paling lama, dan TK PG mah mostly main-main berfaedah aja. Nah, kalau SD ini kan cukup lama ya buk, 6 tahun. Jadi milihnya tuh agak tricky, buat emak-emak yang banyak maunya kek saya 😂 

Belum lagi di usia 6-12 tahun itu anak akan melewati berbagai puncak fitrah yang menjadi pondasi dasar karakternya menuju aqil baligh kelak, sehingga memikirkan ini jauh-jauh hari menjadi pilihan yang cukup bijak, kok gengs.

Jangan gegabah beberapa bulan sebelum tahun ajaran anak mulai sekolah, baru sibuk cari sekolah, karena yang udah booking dari sejak bayinya baru lahir pun ada, haha masyaa Allah ya buibu jaman naw ieu teh, mantul 👍 Yang mendadak, baru sibuk cari sekolah terus nggak dapet karena nggak cocok atau nggak keterima dimana-mana juga ada loh, anaknya jadi mundur lagi ke TK atau nunggu lagi setahun. Pilihan yang cukup berat, well... You choose, parents 🙃

Oiya, jangan lupa persiapkan budgetnya sedini mungkin, agar supaya nabungnya nggak berat-berat amat dan kita memiliki keleluasaan serta kesempatan untuk memilih sekolah menjadi lebih lebarrr daripada "berpura-pura" amnesia selama 7 tahun, nggak nyiapin apa-apa, tahu-tahu amanah kita (anak) udah gede aja dan bulan depan bakal jadi murid di suatu sekolah.

Oya, termasuk homeschooling! Biaya homeschool juga nggak sedikit loh, yaaa. Apalagi ilmu, komitmen juga kekuatan untuk menyelesaikannya dari A sampai Z. Superb lah buat yang bisa homskul, saya saluuute.

So, oke sampai sini, saya dan suami masih berpikir bahwa kami butuh SD Swasta untuk S. Menimbang berbagai hal serta melihat saya dan suami rasanya juga nggak sanggup kalo berkomitmen dengan metode homskul.

Disclaimer, kalo SD Negeri jaman S kelak tau-tau jadi bagus yaaa, mungkin bisa jadi kami akan pilih SDN aja karena lebih hemat yakaaaan hahaha *teteup *makemak

Untuk postingan selanjutnya, saya akan bahas beberapa yang perlu dipertimbangkan saat memilih sekolah (SD), dan kegalauan kami yang dihadapkan situasi kurang mendukung. See ya! Selamat merenung, gengs. Assalamualaikum~

Wednesday, September 5, 2018

Informasi Biaya Periksa Kandungan Depok - Bogor

Halo, Assalamualaikum!
Duh, kangennya sama blog ini. Sudah lama sekali saya tidak update blog. Kemarin sempat ada wacana mau menulis seputar seks yang bikin penasaran para singlewan singlewati, tapi apadaya saya belum juga membuat draftnya. Huhu.




Baik, kali ini saya (insya Allah) ingin berbagi informasi mengenai biaya periksa kandungan di Depok-Bogor dan sekitarnya. Saya mengumpulkan informasi dari internet, forum-forum ibu hamil, bertanya kepada beberapa teman yang sudah atau sedang hamil dan rutin ke dokter kandungan juga pengalaman pribadi. Saya usahakan harga yang tertera update 2018, jika tidak, maka akan saya tambahi informasi untuk tahun berapa biaya tersebut saya dapatkan.


Biaya cek kehamilan yang saya infokan bisa saja berubah. Jadi, untuk lebih jelasnya boleh langsung konfirmasi ke RS/RSIA/Klinik/RB yang dituju.

Jika ada informasi mengenai harga rumah sakit boleh banget langsung komen di kolom komentar, ya. Saya akan berterimakasih sekali atas hal itu. Huhuhuhu.

Dan, fyi HARGA BELUM TERMASUK OBAT/VITAMIN YAAAA...

BOGOR

1. Klinik Paramitha – Website


Jl. A. Yani No.01, Tanah Sareal, Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat 16129

0812-8881-919

dr. Gharini Paramitha -> praktek juga di RS Siloam, RS Hermina dan RS Salak Bogor

Senin - Sabtu: Sesuai perjanjian (di atas jam 3 sore biasanya)

Biaya (diluar resep obat) adalah :
Administrasi: 30ribu
Konsultasi dokter: 120ribu
Print USG: 180ribu (2 lembar ya, 1 foto USG, 1 lagi informasi terkait si cabang bayi, USG harus di print)


2. RS. Bogor Medical Center (BMC) – Website

Jalan Pajajaran Indah V No. 97, Kota Bogor, Jawa Barat 16143 Telp :

(0251) 8307900

Biaya: Informasi yang saya dapatkan dari Momo (Mutiara Pratiwi), (diluar resep obat) adalah:
Administrasi: (sekitar) Rp. 30.000,-
Konsultasi dokter: Rp. 175.000,-
Print USG: Rp. 230.000,-

3. RS Hermina Bogor – Website

Perumahan taman yasmin, Jl. Ring Road 1 Kav 25_27, Kota Bogor, Jawa Barat


(0251) 8382525

Harga : Di RS Hermina ada dua jenis klinik, yaitu klinik Reguler dan klinik Eksekutif, yaa seperti klinik VIP. Perkiraan Biaya yang dikeluarkan adalah (2016):
Administrasi: 20ribu
Konsultasi Dokter: 150ribu (Reguler) atau 226ribu (Eksekutif)
USG: 80ribu (tanpa print, print lebih mahal)
*Print 2 USG harganya Rp. 250ribu

4. RSIA Bunda Suryatni Bogor – Website

Jalan K. Haji Soleh Iskandar No.21, Sukadamai, Tanah Sereal, Cibadak, Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat 16161  Telp :

0251 754 3891 / 92 GSM : 085714046481


Perkiraan biaya saya dapatkan untuk tahun 2016:
Konsultasi Dokter: 110ribu
USG: 75ribu (sudah print USG)
Administrasi: 19ribu
(Normalnya inflasi/kenaikan biaya kurang lebih sebanyak 10% per tahun, bisa saja kurang atau lebih dari itu)

5. RSIA Sentosa Kemang Parung – Website

Jl. Kemang No.18, Pd. Udik, Kemang, Bogor, Jawa Barat 16164 Telp :

(0251) 7541900

Besar biaya untuk periksa kehamilan (2016):
Administrasi: 45ribu
Konsultasi dokter: 125ribu
Biaya USG (sudah termasuk print): 138ribu

(Normalnya inflasi/kenaikan biaya kurang lebih sebanyak 10% per tahun, bisa saja kurang atau lebih dari itu)

6. RSIA UMMI Bogor – Website


Jl. Empang II No.4, Empang, Bogor Sel., Kota Bogor, Jawa Barat 16132 Telp :

(0251) 8341600

Informasi harga dari Mbak Agustin (temannya cek dengan dr. Arina) adalah:
Konsultasi dokter: 135ribu
USG: 110ribu (sudah print); Tanpa print 100ribu
Administrasi: 30ribu


7. Klinik Nuraida Bogor – Website

Jl. H. Achmad Sobana, SH No.87-89, Bantarjati, Tegal Gundil, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat 16152 Telp :

(0251) 8376009

Fax: (0251) 835 3377

Berdasarkan pencariaqn Internet, biaya yang dikeluarkan sekali pemeriksaan (2016) adalah
Konsultasi Dokter: 160ribu
USG: 115ribu (sudah print USG)
Administrasi: 15ribu


8. RS. PMI Bogor – Website

Jl. Rumah Sakit I, Tegallega, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129 Telp :

(0251) 8324080

Informasi harga dari Mbak Agustin untuk tahun 2016 adalah:
Konsultasi dokter: 90ribu
USG 3D: 230ribu (sudah print)
Administrasi: 10ribu

DEPOK

1. RS Hermina Depok – Website


Jl. Siliwangi No.50, Depok, Pancoran MAS, Kota Depok, Banten 16436

(021) 77202525

Informasi dari Vindy Utami:
400ribuan sudah sama Vitamin. Untuk USG dan Konsul sekitar 250ribu (belum termasuk biaya administrasi dan USG tidak di print). Untuk konsultasi dokter ada perbedaan harga jika praktek dokter bukan reguler (eksekutif).

(Tambahan info dari internet) Total biaya admin, konsultasi dokter, usg 3D, dan 2 jenis vitamin + Obat Penguat Rahim: sekitar 1.2 juta.

Tanpa penguat rahim (USG 3D): sekitar 700-800ribu

2. RS Mitra Keluarga Depok – Website

Jl. Margonda Raya, Pancoran Mas, Depok, Pancoran MAS, Kota Depok, Jawa Barat 16424


(021) 77210700

Perkiraan biaya yang dikeluarkan adalah,
Administrasi: 30ribu
Konsultasi Dokter: 180ribu
USG: 210ribu (tanpa print, print tambah 40ribu per lembar)

3. RS Grha Permata Ibu – Website

Jl. KH. M. Usman No. 168 Kukusan - Beji Depok. 

021-777 88 99; 021-777 89 98

Perkiraan biaya yang dikeluarkan untuk biaya admin, konsultasi dan USG tanpa print, sekitar 300ribu-an.

4. Rumah Bersalin Depok Jaya 
– Website

Jl. Rambutan VIII No. 19-20 Depok Jaya Pancoran Mas Depok Jawa Barat, Depok Jaya, Pancoran MAS, Kota Depok, Jawa Barat 16436

(021) 7759148

Biaya tanpa resep obat, konsultasi, intip USG (tidak di print) sekitar 200ribu-an

nb: Dokter favoritnya, dr. Nelwati dan dr. Rizal. Untuk dokter Nel, daftar untuk periksanya sangat kompetitif ya. Via telepon jam 8 Pagi di hari dokter tersebut praktek. Jam 8 lewat beberapa menit saja biasanya sudah closed.

5. RSIA As-syifa Parung Bingung – Website

Jalan Cinere Raya Parung Bingung no. 9. Depok, Jawa Barat, Indonesia 16434. 

021-77883905. Fax: 021-77885454.

Biaya tanpa resep obat, konsultasi, intip USG (tidak di print) 155ribu, kalau di print nambah 35ribu.

LAIN-LAIN

1. RS Mitra Keluarga Cibubur – Website

Jl. Alternatif Transyogi Cibubur, RT 02 / RW 09, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17435

(0218) 4311771

Informasi dari Ginariska:
Biaya (tanpa resep obat),
Administrasi + Konsultasi: 350ribu
Print USG: 250ribu
(Kalau tidak di print, kena biaya admin+konsul, 350rb sahaja).



Jika ada update terbaru, akan saya tambahi info-nya. Untuk jadwal dokter silahkan cek ke website masing-masing atau langung telepon ke nomor yang sudah tertera. Semoga bermanfaat yaa <3