Showing posts with label Nikah. Show all posts
Showing posts with label Nikah. Show all posts

Wednesday, August 2, 2017

Tentang Menikah (1)


Bayang-bayang indahnya kebersamaan dalam sebuah mahligai rumah tangga insyaAllah sering muncul di hati para singlewan/singlewati.

Hal ini, wajar saja terjadi karena manusia secara naluriah memang ingin hidup berdampingan, butuh teman, perlu berkembang biak dan sebagainya, dan sebagainya.

Saat ini, kita (saya kali, ya maksudnya) seringkali melihat atau mendengar seruan kepada pemuda/i untuk segera menikah. Tanpa mengurangi rasa hormat atas niat baik tersebut, penting bagi saya untuk mengungkapkan hal ini.

Saya wondering bagaimana ketahanan diri dan upaya merek menuju ke jenjang pernikahan setelah dikompor-kompori dengan berbagai macam sindiran baik langsung maupun tidak langsung, dipertanyakan statusnya dengan baik-baik maupun dengan tidak baik.

Apakah para pemuda yang 'ditantang' untuk segera menikah ini sudah siap, baik lahir maupun bathinnya?

Apakah para pemuda-pemudi ini sudah sedikit banyak faham tentang ilmunya?

Apakah pemuda-pemudi ini sudah paling tidak, mengerti dengan baik dan benar bab tentang thoharoh/kesucian?

Apakah pemuda-pemudi ini sudah betul-betul siap diamanahi sesuatu yang luar biasa besar dengan berbagai suka dukanya?

Apakah mereka benar-benar sadar dan ikhlas dan sabar saat menentukan pilihan untuk menikah?

Ataukah itu hanya rasa terburu-buru akibat pressure lingkungan yang bahkan tidak memfasilitasi ilmunya?

Ataukah itu hanya rasa penasaran dari gembar gembor overclaim sebuah citra pernikahan yang tak peduli bagaimana perjalanan penuh kerikilnya?

Ataukah itu hanya syahwat yang membara dan tak tertahankan?

Ataukah itu hanya sebagai pembuktian naik level ke status berikutnya?

Kenapa sih, saya berpikir sampai sejauh ini? Karena jaman saya muda, saya pun juga merasakan minimnya fasilitas ilmu ke arah sana. Saya USAHA SENDIRI belajar, mencari dan mendekati majlis-majlis ilmu ataupun buku-buku yang berhubungan dengannya.

Ilmunya nggak ujug-ujug ada. Nggak tiba-tiba datang sendiri. Ada waktu, tenaga, usaha, uang yang perlu dikeluarkan untuk berikhtiar mengkaji sebelum beramal.

Kenapa waktu jaman nabi banyak yang nikah muda? Karena can you imagine, mereka abis baligh aja udah maju ke medan perang. Udah jadi pemimpin perang. Mereka mencapai usia baligh dibarengi dengan kematangan psikis dan cara berpikirnya. Mereka baligh di usia, katakan 12-15 tahun, bersamaan dengan kemampuan berpikir, memilih, dan mengambil keputusan yang baik. Pendidikannya jauh berbeda dengan pemuda-pemudi saat ini yang nilai oriented. Mata pelajaran/sks oriented. Sementara ilmu agama dikesampingkan, orang tua pun ikut mensukseskan program prestasi dunia lebih penting ketimbang bekal hidup untuk akhirot.

Pembelajaran tentang agama nggak sebanding dengan usia yang semakin menua. Kebanyakkan dati mereka belum siap berumah tangga karena jiwanya tidak dipersiapkan untuk itu (tugas orang tua). Pun tidak berusaha juga untuk mempersiapkan hal itu (ikhtiar dari diri sendiri).

Hal ini tentu membuat saya, dan beberapa teman sedih. Saya prefer mengajak orang untuk cari ilmu dulu yuk, yang banyak. Jangan tanggung-tanggung.

Masa-masa singlenya dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk dipakai untuk mengupgrade ilmu tentang pernikahan. Jangan nilai kuliah aja mati-matian diperjuangin, tapi nilai-nilai kehidupan berumah tangga diantepin.

Biasanya hal ini disebut dengan memantaskan diri. Apakah saya benar-benar pantas untuk diamanahi Allah sebuah pernikahan?

Nikah itu nggak sekedar happy-happy macem endingnya drama korea. Ada segudang amanah yang perlu ilmu sekecamatan. Ada suka duka yang perlu banyak keikhlasan juga kesabaran.

Deket sama Allah aja kadang-kadang, upgrade ilmunya ogah-ogahan, kedewasaan masih jauh dari usianya, eh, mau nikah? Astagfirulloh..

Saya ngeri, seriously. Bagi anak-anak pengurus yang "hubungan" dengan ayahnya baik, insyaAllah sering denger selentingan-selentingan tentang kasus cerai.

Terkadang mendengar saat orangnya datang langsung ke rumah, curhat sama bapak kita.

Beberapa tak sengaja mendengar percakapan antara ayah dan ibu kita.

Terkadang ayah menasihati kita dengan berbagai petuah kehidupannya, hikmah-hikmah yang bisa ia bagikan dari berbagai kasus perceraian anak-anak muda saat ini.

Masalah cerai yang perlu kalian ketahui sebagai hikmah kita bersama itu seringkali cuma masalah sepele.

- Istrinya nggak mau buatin suaminya kopi
- Nggak cocok sama design rumah
- Beda pendapat
- Berantem-berantem kecil yang lama-lama menggunung karena penyelesaiannya nggak pernah tuntas
- Gagal move on dari mantan (terus, ngapain milih nikah, sik? Move on aja belom, duh. -_-)
- dan buanyak lagi.

Maksudnya saya apa sih ngejembrengin kasus-kasus itu? Supaya kita dan teman-teman kita yang belum nikah itu sadar bahwa cobaan nikah itu nggak segampang ijab kabulnya.

Supaya kita sama-sama mengerti bahwa syetan benci pernikahan dan akan terus menggoda pondasi dasar itu supaya hancur, karena Allah benci perceraian. Jadi kalau ada alasan-alasan cerai yang terlalu sepele, itu sangat mungkin terjadi. Karena syetannya yang goda juga nggak tanggung-tanggung melakukan aksinya.

Semua hal diatas membuat saya selalu merasa terpanggil untuk meng-encourage teman-teman, yuk sama-sama belajar tentang sebuah ikatan suci ini. Ikatan yang nggak bisa putus-nyambung seenak lidah kita. Mental pacaran jangan sampai dibawa ke pernikahan.

Diluar semua motivasi menggembor-gemborkan nikah muda baik ke pemudanya maupun ke orang tuanya, yuk, kita ambil peran sebagai orang yang memfasilitasi dibidang keilmuannya.

Yuk, kita teladani teman-teman kita supaya mau membaca kisah-kisah nabi dengan para istri. Begitu pula kisah-kisah sahabat lainnya. Bagaimana mereka bersikap, menghormati, menghargai, rebutan ngalah dan toleransi dengan pasangan.

Bagaimana nabi menjaga perasaan Aisyah saat ia membuat minumannya dengan garam, bukan dengan gula.

Bagaimana Ibu Khodijah menyemangati dan menenangkan Nabi, mensupport Nabi saat Nabi ketakutan bahkan sampai menggigil ketika mendapat wahyu pertama kali.

Bagaimana respon sahabat Umar saat 'diomeli' istri, dan bagimana-bagaimana yang lainnya.

Maka yuk, teman-teman kita belajar juga menjaga komitmen kita dengan Allah untuk tidak alay, tidak centil terhadap lawan jenis. Baik centil yang diniati tebar benih atau centil yang cuma iseng aja.

Yuk, teman-teman kita belajar menjaga aurot kita semata-mata karena kecintaan kita kepada Allah. Termasuk yang laki-laki juga, ya.

Yuk, ikhwan-ikhwan sholih, komitmen menjaga pandangan. Jangan gampang nge-like muka cantik orang di instagram. Belajar menjaga komitmen kepada Allah dengan menjaga mata serta kemaluannya. Menjaga mata itu termasuk dari ngeliatin foto-foto cantik seseartis di instagram atau dimanapun, yah.

Hal-hal tersebut diatas akan membentuk kita menjadi pribadi yang sadar bahwa menjaga komitmen tidak mudah, tapi HARUS. Membentuk pribadi yang kuat, taat semata-mata ikhlas karena Allah. Sabar menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Untuk para orang tua, yuk, kita juga harus sadar bahwa pembelajaran tentang pernikahan sebaiknya sejalan dengan usia balighnya. Semuanya tentu bertahap sesuai dengan tahapan usianya.

Yuk, para orang tua juga sibuk saat anaknya menjalani masa ta'aruf. Sibuk istikhoroh, sibuk hajat sebagaimana kita sibuk mencarikannya sekolah terbaik atau universitas ternama. Secara langsung ataupun tidak langsung, ini adalah langkah terakhir kita sebagai orang tua untuk membersamai anak. Tinggalkanlah memori terindah untuk anak-anak dengan membersamainya.

Bersambung..

Dengan segenap kasih sayang sesama orang beriman, catatan pengingat diri, saat ini dan nanti.
Bogor, 2817


Saturday, July 29, 2017

Sakinah yang Kita Cari

Yang dicari dalam pernikahan salah satunya adalah sakinah. Sakinah itu tenang, tenteram, damai.

Menjadi keluarga sakinah itu nggak ujug-ujug. Ada harga yang harus dibayar. Apa itu? Tentu saja ketakwaan. Ketaatannya terhadap Allah, Rasul.

Pikirkan kembali baik-baik mengapa ingin menikah. Karena proses ibadah ini akan sangat panjang. Selain butuh ilmu, ia juga membutuhkan mental.

Menyendirilah sejenak.
Komunikasikan segala kegelisahan dan kealfaan kita kepadaNya di sepertiga malam.
Singkirkan ego dan pikiran-pikiran kita tentang dunia.

Karena lewat menikah, jalan surga kita lebih mudah. Hisaban yang sebenarnya begitu banyak, Allah beri potongan kepada muslimah melalui pernikahan.
Bersyukurlah.

Menikahlah karenaNya, menikahlah sesuai dengan koridorNya. Menikahlah karena banyak harapan yang ingin kita capai untuk mendapatkan ridhoNya.

Sakinah yang kita cari insyaAllah akan hadir dalam rumah. Bertemu pasangan bawaannya sumringah. Sebal, marah, lelah sampai rumah hilang seketika, Alhamdulillah.

Tidak seperti diluar sana yang mencari-cari ketenangan pada dunia. Dikantor ruwet, sampai rumah mumet. Suami kesal istripun bengal. Lingkaran setan yang sempurna karena lupa pada TuhanNya.

Sakinah itu tak dapat kita upayakan tanpa menjadi orang islam yang kaaffah.
Sakinah itu rezeki yang mahal.
Allah berfirman, hanya muslim beriman dan taat yang dapat merasakannya.

Semoga Allah selalu mudahkan langkah hijrah kita. Semoga Allah barokahkan keinginan-keinginan baik kita.



#empoweringmuslimah ❤

Ilmu dulu, sebelum Beramal


Tentang jodoh yang sedang kau renung-renungkan semalaman. Saran saya, jangan terlalu pusing memikirkannya.

Sibuk memasang kriteria. Baik, sholih, tampan, mapan, berkepribadian. Punya rumah pribadi, apartemen, dan kolam renang.

Tentang dirimu yang kau pandang-pandangi semalaman. Kurang putih, kurang langsing, kurang tinggi.

Sibuk mempercantik diri dengan jilbab lilit sana lilit sini, beserta perintilan make up dan aksesoris yang harganya tak tanggung-tanggung jika dibelikan garam.

Sungguh, mereka itu tak seindah kelihatannya. Tak segenting yang kita kira. Karena dalam rumah tangga yang bisa 'menjaga', insyaAllah, ilmu yang diikhtiarkan pencariannya. Serta seberapa dekat kita kepadaNya.

Masalah jodoh sudah ada pasangannya. Jodoh bukan sendal yang bisa saja tertukar. Tenang saja, insyaAllah ada gilirannya.
Namun, di dalam Islam yang berat justru menjaga pernikahannya. Melewati bahtera kehidupan bersama. Menjadi istri sekaligus teman seperjuangan mencari surga.

Apa mudah? Ya, tentu tidak. Menikah ialah ibadah serta ujian terpanjang dalam kehidupan. Yang saat kita gelisah, dia bisa buat tenang, disaat kita tenang, dia bisa juga buat kita gelisah.

Ilmu agama adalah pondasi berumah tangga, pondasi awal dalam setiap amalan. Kenikmatan membersamai Allah dalam segala aktifitas kita adalah maintenance-nya.

Allah akan mudahkan jalan kita. InsyaAllah.

Kita dimudahkan bertemu dengan yang salih, lengkap dengan tata cara hidup yang benar dalam Alquran. Juga dikuatkan saat guncangan-guncangan dalam rumah tangga melanda. Ditenangkan. Diberikan sakinah, mawaddah dan rohmat. Masyaa Allah.

Jadi sebelum sibuk dengan "siapa jodoh saya", "apakah saya terlihat cantik?" Sungguh bijak jika kita memprioritaskan ilmu agama. Ilmu menghadapi bahtera rumah tangga, kelak.

Merintis kenikmatan-kenikmatan mencari ilmu beserta perasaan membuncah saat mengamalkannya. Merenungi dosa-dosa yang bertumpuk dengan derai-derai air mata dalam taubatan nasuha.

InsyaaAllah, Allah beri ilmu dan kekuatan. Allah berikan pasangan. Karena kebahagiaan yang haqiqi dalam pernikahan ialah perjalanan untuk saling surga-mensurgakan.

#empoweringmuslimah ❤

Friday, July 28, 2017

Komunikasi Dengan Pasangan


Kita boleh jadi memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan pasangan. Mungkin banyak, bahkan seringkali menimbulkan "gesekkan" dalam rumah tangga.

One of his best attitude, All praises to Allah, Alhamdulillah. Alhamdulillaah. Saya sangat bersyukur pasangan saya 'mostly' bisa menerima dan mencoba memahami pandangan dan pengalaman yang berbeda dari saya.

Why 'mostly'? karena memang nggak selalu~

Pasti ada gesekkan dalam rumah tangga, insyaAllah. Pendapat kita nggak melulu sama tentang segala hal. Apalagi punya istri yang kritis, tumbuh dalam keluarga demokratis dan sok tau macam saya hahahaha. Sabar-sabar ya pak suami, luv! ❤

Pun begitu saya mencoba memahami frame of references-nya dan frame of experience-nya sebagai anak bungsu yang hidupnya, bisa dikatakan selalu dimudahkan oleh Allah.

Kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda.

Tetapi tentu ada yang perlu saya garisbawahi mengenai pentingnya menikahi dengan seseorang yang pemahaman agamanya baik.

Dengan BERSAMA-SAMA mengusahakan pemahaman Islam yang baik, maka segala sesuatunya insyaAllah lebih mudah. Hanya perlu menyesuaikan dengan Alquran dan Alhadits.

Landasannya jelas dan tak terbantahkan sehingga hal ini sangat meminimalisir komunikasi tidak produktif (bermasalah), yang seringkali merupakan awal dari tidak rukunnya berumah tangga.

Bersama-sama berjuang. Tentu saja karena ini adalah ikhtiar yang panjang dari kedua belah pihak.



Pemahaman agama yang baik, dilengkapi dengan kemampuan berkomunikasi, sadar juga dewasa dalam memberikan/menerima pendapat orang lain, (khususnya pasangan) serta tidak MEMAKSAKAN pendapat, akan berdampak pada perjalanan hidup berumah tangga yang terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Insya Allah.

Sejak awal menikah, dengan modal bawaan komunikasi seadanya-semampunya, kami bersyukur #KomunikasiProduktif yang kami jalani, meskipun belum sempurna, namun terasa semakin baik kualitasnya. Alhamdulillaaah.

Sehingga jujur dalam berumah tangga saat ini, tantangan-tantangan serta perbedaan-perbedaan yang kami hadapi, seringkali terselesaikan dengan baik dan (semoga) tak pernah ada perasaan yang 'mengganjal' diantara kita. Alhamdulillaaah. Segala puji bagi Allah yang memberikan kemudahan-kemudahan dalam berumah tangga. Semoga akan selalu dan selalu diberikan kemudahan, kebarokahan serta hidayah dan lindunganNya. Aamiin :')

#kuliahBundaSayang #kuliahbunsayiip #level1 #komunikasiproduktifdenganpasangan #tantangan10hari #harike9


Monday, April 10, 2017

Single or Double? Yang Penting Berprinsip~


Setiap manusia yang bernyawa insyaAllah selalu ada ujian ataupun musibah dalam hidupnya. Eh, kalo manusia yang udah nggak bernyawa mah namanya mayat ya, bukan manusia. 




Nah, jadi kalau mau hidupnya "baik-baik" saja tanpa ujian dan musibah ya berarti kudu jadi mayat dulu. Etapi sebenernya udah jadi mayat juga masih ditanya-tanya yah sama malaikat, belom kelar juga dong berarti itu si ujian? 

*nadya anaknya plinplan*
*abaikan*

Jadi, kalau kita ngeliat sesembak atau sesebabang yang sudah menikah kok hidupnya hepi terus, feed sosmednya keliatan lifegoals banget, bukan berarti hidupnya tanpa ujian, ya. Jomblo aja banyak ujiannya, *ahem* apalagi menikah? Kenapa menikah lebih banyak ujiannya? Karena dengan menikah juga lebih banyak pahalanya. Dengan menikah, hampir semua pengamalan dikalilipatkan oleh Allah, pahalanya. Nah, menurut kamyu aja nih, kalo pahalanya banyak, yakali jalannya mudah dan lempeng?
Nggak mungkiin.
Karena hadiahnya bukan gelas cantik, tapi syurga.



Trus yah, kenapa sih kita kalo taking picture hampir selalu berkali-kali (lu aja, nad) sampe nemu angel terbaik dan dipajang deh tuh hasil gambar yang paling baik menurut kita.
Banyak ya, alasannya.
Salah satunya ya, nggak pengin aja yang liat feeds kita jadi sakit mata. Syukur-syukur bisa menginspirasi dan jadi jariyah.

Nah, begitupun dengan konsep berumah tangga dalam Islam, suami istri itu saling menjaga, saling melengkapi, saling menutupi aib pasangan, karena suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain.

Pasangan ada kekurangan? 
Ya, jangan diumbar. 
Punya masalah? 
Apalagi. 
Kecuali mentok nggak ada jalan keluar, sekiranya bisa dikonsultasikan ke pihak yang 'berwenang', itu jauh lebih baik.

Alhamdulillahnya saya juga bukan tipe yang suka nyindir-nyindir suami lewat status yang aku share dari sesembak psikolog, atau sesesiapapun lah. Kalau ada artikel yang kebetulan "pas" sama kejadian hidup, biasanya aku copast kirim ke watsap/email suami (jika sedang rajin). Jika sedang tidak rajin, minimal aku mensyen paksu di statusnya seseibu atau sesembak tersebut. Jadi, mudah-mudahan si, circle-ku nggak "ngeh" kalau kita sedang ada apa-apa. Ehee.
Ehya, ini syarat dan ketentuan berlaku, yah. Karena nggak semua suami bisa terima "dibeginiin" istrinya, jadi balik lagi sesuaikan dengan sikon masying-masying.

Lalu, biasanya juga buibu ni doyan curhat, ya (ups 🙈). Nah, kalau sudah menikah ini kudu hati-hati banget. Jangan sampai jadi pasangan yang suka umbar-umbar kekurangan partner hidupnya. 
Biar apa coba curhat? 
Biar tenang? 
Mau tenang mah tilawati, dzikir, sujud, sabar. Kan udah dikasih tau sama Allah rumusnya....

(Ngomong mah gampang, prakteknya susah, nad..... iya, bener. Hiks) 

Yakan udah dibilangin kalo mudah mah hadiahnya payung cantik, bukan surga. Deal with it.



Lagian kasian kan, pasangannya malu, kekurangannya diketahui orang lain. Masalahnya pun belum tentu juga selesai dengan kita cerita-cerita. Paling temennya juga cuma angguk-angguk sambil bilang sabar-sabar. Paling mentok ya kasih saran, tapi ya belum tentu juga cocok sarannya, karena yang paling tau masalahnya ya kita, dan Allah. Ujung-ujungnya kita juga yang malu karena akhirnya baikkan sama pasangan, dan ada pihak luar yang tau "aib" keluarga kita.
Curhatnya jadi sia-sia.





“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari Muslim)


Jadi pertama kali yang perlu kita lakukan sebelum bertemu masalah (kembali), adalah mencari sebuah prinsip hidup supaya ketika kita dihadapkan oleh sebuah masalah, kita siap menghadapi dan menyelesaikannya.

Kenapa sih prinsip-prinsip hidup ini menjadi penting? Soalnya kalo kita nggak punya prinsip, hidup kita jadi seperti terombang-ambing di lautan geloraa~~ 

*kemudian nyanyik*
*salah gaul*

Hidup kita jadi plinplan, bingung, galau, resah, gelisah, kemudian laper. Dan jarum timbangan makin geser ke kanan *ini mah gue* 🙈

Maka temukanlah prinsip-prinsip hidup tersebut dalam Alquran dan Alhadits. Karena, sudahlah pasti benar bahwa Islam adalah solusi hidup untuk siapapun di muka bumi ini. Apalagi kita yang muslim/muslimah, jungkir balik solat, ngaji, ibadah, jangan sampai lupa bahwa solusinya ada semua disini (Islam).

Nggak mau nikah beda kasta, yang satu turunan darah biru, pasangannya darah ungu (emang ada?).
Nnggak mau nikah beda lidah, yang satu doyan pedes, satunya doyan pedes banget pake micin dikit.
Nggak mau nikah beda suku, yang satu dari sunda, pasangannya jawa.

Terus, kenapa? 
Hey, terus kenapaa?
Biar kata Hayam Wuruk nggak jadi nikah sama Dyah Pitaloka konon akibat perang yang tidak berimbang karena sebuah kesalahpahaman diantara mereka dan pasukannya yang kemudian sampai saat ini menjadi alasan segelintir masyarakat untuk melakukan "perang dingin" diantara kedua suku, kalau prinsipnya berkiblat pada Islam, maka hal itu menjadi mudah. Tak perlu lah ada dendam diantara kita, apalagi kita nggak tau persis kejadiannya seperti apa. 

Sudah berumah tangga, prinsipnya ya jalan terus sesuai Alquran dan Sunnah. InsyaAlloh, Allah mudahkan kesempitan-kesempitan yang dirasa. Allah berikan ilham-ilham yang baik diluar logika kita.

Begitu pula yang masih single, sendiri itu bukan karena nggak laku, nggak ada yang ngajakkin maksiat, tapi karena sadar betul bahwa sebagai hamba Allah, harus menjaga diri dan hawa nafsu agar masuk surga, selamat dari neraka. 
Ini prinsip. 
Pegang yang teguh, jangan gampang belok. 

Kudu setrong, shay.



Allah sudah berbaik hati mengirimkan surat cinta kepada hamba-hambaNya lewat utusanNya. Yang kalau dibaca menghasilkan pahala, yang jika dihapalkan kelak ia akan menjadi syafaat di hari kiamat.

Allah juga berbaik hati memberikan solusi diatas semua solusi dalam urusan kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi melewati Alquran dan perilaku keseharian Nabi Muhammad SAW.
Terus mau apalagi? Kamu kok ya dikasih kunci jawaban kehidupan sak pol-pol ne, yo ora diwoco? Arepe opo, toh?

Ayok berubah, sebelum dirimu punah! 
Bismillah.
Mudah-mudahan Allah paring istiqomah, yah! 

Nadya, 
Wif ❤

----
*notetoself

Sunday, April 9, 2017

Pernikahan yang Bahagia


Pernikahan yang bahagia itu bukan pernikahan yang tanpa masalah. Tapi pernikahan yang saling mengerti bahwa ketika ada masalah maka "kita" harus mencari jalan keluarnya bersama-sama. Kenapa "kita" nya di bold? Karena menikah itu ya berdua, menyatukan dua orang yang berbeda untuk mendapatkan ridhoNya. Jadi, berjuangnya ya berdua dong, ya. Kalo sendirian kan jomblo namanya. Eh. 😜


Jangan baper, becanda yaaw



Nah, Alhamdulillah, kabar baiknya ialah dalam Islam selalu ada jalan keluarnya.
Serius?

SERIUS.


Karena menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya adalah KOENTJI. 





Make it simple, mau bahagia? Taat Allah Rasul. As simple as that. Like really? Iya. Beneran. Beneran bangeet. Pengalaman hidup pribadi dan orang lain mengajarkan saya tentang hal ini. Kamu juga, kan?

Misalnyapun ada berbagai macam teori tentang pernikahan, percayalah bahwa pondasi utamanya tetap ada di kecintaan kepada Tuhannya lebih dulu, kemudian ilmu lalu amal untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan ketentuanNya.

Karena dibilang kudu komunikasi blablabla kalo hobinya maksiat ya tetep aja komunikasinya nggak efektif. Why? Soalnya dia nggak komitmen sama Allah. Waktu ijab kabul, dia lupa atau nggak ngerti maksudnya pernikahan itu apa. Menikah itu gampang, menjaganya yang susah.

Karena pelanggaran-pelanggaran dan maksiat yang dikerjakan itu nggak akan pernah membawa kebahagiaan bagi pelakunya. Ketika Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, maka orang tersebut akan bertaubat sambil menyesal telah melakukan perbuatan-perbuatan maksiat tersebut. Mungkin sampai akhir hayatnya dia 'dibebani' rasa bersalah yang amat sangat sehingga, menjadi cambuk untuknya supaya bisa beramal sholih lebih lebih dan lebih banyak lagi. 

Namun, jika Allah tidak lagi peduli dengannya, pelaku tetap merasa tenang-tenang saja hingga kebahagiaan yang fana tersebut pada akhirnya akan hilang dan berganti. Mereka tidak pernah kekal, bahkan mudah sekali pergi. Mudah sekali, secepat anak 2 tahun yang udah bisa ini itu padahal kok kayaknya baru kemarin lahiran.

*tapi boong*
*dua tahun berasa kali, ah*



Rumus yang udah absolut ini masih selalu ada aja yang nyeletuk,

"Ah, nggak juga tuh. Si A kerjanya maksiat mulu, rejeki lancar aja. Anak-anak berprestasi, istrinya cantik dlsb"

We never know what someone is going through yekan, boebo?
Lagian orang mah pengennya kamu-kamu itu taunya ya baik-baiknya aja, yegak?



"Itu si B ahli ibadah, anak-anaknya tahfidz quran kok rumah tangganya berantakan?"

Kita juga nggak pernah tahu hati orang lain, atau jangan-jangan perceraian lah jalan terbaik untuk si B, sehingga bisa mendapat istri yang sholihah nan taat.

Saya pribadi sih percaya kualitas kebahagiaan hidup seseorang ditentukan dari seberapa dekat dia dengan TuhanNya, seberapa taat dia dan seberapa kuat dia berjuang meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan. Ketika saya lagi turun keimanan, ya ada aja (banyaque) perasaan-perasaan negatif muncul. Mau me time ke salon kek, buang-buang uang makan di tempat yang bukan kelasnya saya (nggayae rek, kek punya duit saja kau nak 😂), berenang, tidur, traveling, apapun, ujung-ujungnya saya baru bisa tenang kalo udah tsurhat ke Yang Maha Memberi Ujian dan Rasa. Jadi dahulu kala, saya nggak pernah sedih kalo nggak ada bahu, lantai mesjid banyak cin, sujud ateuh. Dijamin kepala adem, hati pun. Masyaa Alloh, Alhamdulillah.

Karena percayalah kebahagiaan yang HQQ itu cuma bisa didapet kalo kita deket sama yang Empunya bahagia. 



Pernikahan bahagia juga bukan karena keduanya saling mencintai (saja), namun karena keduanya lebih mencintai Allah yang kemudian Allah turunkan benih-benih cinta diantara keduanya. Sehingga Allah tambah mencintai hamba-Nya yang saling cinta-mencintai karenaNya. InsyaaAlloh. 

Bingung nggak? 
Gausah bingung, istikhoroh sama hajat aja yang banyak. InsyaAlloh tahun ini, yaa? Aamiiin 😘

Nadya, With Love ❤

--------

*sebagai pengingat diri sendiri
**doa terakhir khusus pejuang single yang sedang mencari pasangan halalnya.

Thursday, February 9, 2017

Surat Cinta Sehidup Sesurga



Aku tidak mengingat kapan tepatnya kita saling kenal, namun aku mengingat hari pertama kau sentuh ubun-ubunku lalu berdoa. Rasanya campur aduk. Lega, bahagia, takut, berdebar-debar menjadi satu. Tapi satu hal yang aku sadari, aku tidak ragu untuk melangkah ke jenjang itu.

Sebelumnya, aku berdoa disetiap malamku, sesenggukan. Aku memanjangkan sujudku, agar Allah membersamai langkah dan keputusanku. Tidak pernah aku merasa sangat yakin namun dibarengi ketakutan yang besar, bahwa inilah laki-laki yang aku tunggu. Ketika aku sudah memilih, maka aku memilih untuk selamanya sebagai konsekuensinya.

Perjalanan menuju pernikahan pun terbilang mudah, jika ada cobaan-cobaan, maka mereka berasal dari luar. Bukan kita dan para orang tua. Aku ingat, bukan kita yang ragu. Tapi mereka.

Kemudian kau sudah terlelap disampingku, aku memandangi seseorang yang telah menjadi imamku. Yang akan bertanggung jawab atas diri dan anak-anakku, kelak. Bebanmu tak mudah. Aku tau, aku wanita yang sulit dan kompleks. Tanpa sadar aku menangis. Haru dan bahagia. Inikah jawaban dari doa dan sujud panjangku? Aku bersyukur, sangat bersyukur.

Kemudian aku mengandung benih cinta kita, ia tumbuh dengan kuat dirahimku. Berbagai kesibukkan dan cobaan kami berdua lalui, ia tetap bertahan dirahimku. Ia tidak menyerah, begitupun aku. Dalam diammu, aku tau kau berdoa. Aku tau kau mengkhawatirkanku.

Tahukah kau, mungkin kau laki-laki yang paling sabar yang kukenal. Jika ada yang lebih sabar darimu, beruntung aku tak mengenalnya lebih dekat. 

Kau menungguku di stasiun sejak setengah enam sore, aku tak bisa menghubungimu karena telepon selulermu mati. Aku telat. Commuter yang biasa kutumpangi tak bisa kunaiki sama sekali. Akhirnya aku berhasil menaiki Commuter yang entah ke berapa lewat didepan mataku. Aku tak takut kau meninggalkanku pulang, aku takut kau marah karena terlalu lama menunggu istrimu yang tak kunjung datang. Setengah delapan aku sampai di stasiun tujuanku, aku mencarimu. Berharap kau masih menunggu walau tanpa kabar, tapi juga berharap kau pulang lebih dulu karena lelah menunggu. Lalu aku menemukan wajahmu diantara deretan motor-motor itu. Aku terharu. Bagaimana bisa kau punya kesabaran sebanyak itu, yang bahkan aku pun ragu ia ada didiriku. 

Kau mencintaiku, pikirku. Sangat mencintaiku.

Kau orang yang paling cemburu. Kau cemburu jika aku tidak berpakaian sesuai syariat dan kau juga cemburu tentang yang lainnya. Kau memang tak pernah mengakui kecemburuanmu tentang yang lainnya tapi aku tau. Anggap saja aku besar kepala, namun aku benar, kan?

Karenanya aku mencintaimu.

Cinta kita tumbuh, menguat, mengisi kekosongan masing-masing. Hingga suatu ketika kita berbeda pendapat, aku tak bisa mengutarakannya secara gamblang, kau pun hanya diam. Aku tak tau apakah kau menyimpan kegelisahan dan keraguan disaat itu atau tidak. Kita diam, bersedih didalam hati sendiri. Menjaga perasaan masing-masing. Aku terlalu takut menjadi wanita yang tak taat. Aku juga terlalu takut menjadi perempuan yang menyebalkan untukmu. Lalu kesabaran dan doa kita membuahkan hasil, kau memelukku meminta maaf, aku pun meminta maaf. Kau menangis, aku tak tega. Hatiku begitu sakit ketika kau ikut menangis juga. 

Dan itu pertama kali aku melihatmu menangis.

Aku tak ingat kita berbeda pendapat tentang apa. Aku selalu bersyukur diberi kemudahan melupakan bagian-bagian tak indah dalam hidupku. Alhamdulillah.

Kemudian kita menertawakan hal yang sama. Berbahagia kembali.

Namun, perjalanan hidup kita, tak selalu berjalan mulus. Kemudian, kau terlihat tak sesabar yang kukira. Kau terlihat tak sehebat yang kubayangkan. 

Setiap kali kita berbeda, aku merasakan mereka muncul dan tak terasa semakin banyak. Semakin jauh. Mengapa begini, mengapa begitu? Tanyaku. Dalam hati. Overthinking. Ya, kau tau itu aku.

Cintaku tak lagi membara, ia tak lagi menggebu-gebu seperti saat pertama. Bagaimana denganmu?

Namun, kemudian kita menemukan diri kita didalam tenangnya solat. Memaknai kehidupan ini dalam doa-doa yang kita pinta. Menemukan perlengkapan rumah yang sama-sama kita inginkan. Menemukan sebuah rumah mungil yang kita idam-idamkan. Menemukan humor-humor berselera rendah yang kita tertawakan. Menemukan film-film untuk menghabiskan malam bersama. Terlelap. Dan aku terbangun dari tidurku serta tetap bersyukur, aku memilikimu. Allah pasti punya alasan yang kuat mengapa kita bersama.

Aku bersyukur, karena aku mengira tantangan rumah tangga yang kita jalani tak serumit tantangan teman-temanku. Aku bersyukur kau tidak repot mengomentari rumah yang berantakan. Aku bersyukur aku memiliki suami yang ringan membantu pekerjaan domestik. Aku bersyukur kau sabar dan tenang menghadapiku. Aku bersyukur kau mendukung niat-niat baikku. Aku bersyukur kau ikut serta membantu merawat buah hati kita. Aku bersyukur kau jarang sekali mengeluh tentang pekerjaanmu atau kelelahanmu. Bahkan aku lupa kapan terakhir kau mengeluh. 

Aku bersyukur kau seorang laki-laki bertanggung jawab yang cerdas dan menyenangkan.

Tapi percayalah, aku tidak akan mencintaimu apa adanya. Kau tetap harus membimbingku menjadi lebih baik dan aku akan tetap mendukungmu menjadi lebih baik. Hidup ini bukan untuk menjadi biasa-biasa saja. Allah telah menetapkan kita untuk menjalani sebuah misi yang tidak dimiliki pasangan lain, karena tiap pasangan itu unik. Dan Allah berikan mereka misi yang spesifik. 

Kemudian kita mulai menikmati alurnya dan memaafkan semua perintilan kekurangan dalam diri masing-masing. Memulai hari baru dengan lebih dewasa. Setiap tantangan, selalu mendewasakan.

Ternyata, cinta kita yang tak menggebu-gebu lagi itu kini meredup. Meredup bukan untuk mati, tapi menjadi tenang dan menghangatkan. Ia tumbuh menjadi dewasa dan kuat.
Kadangkala ia akan membara, namun bukan membara untuk kemudian terbakar. Tapi membara hanya untuk menikmati roller coasternya percintaan.

Lalu kita mengerti bahwa cinta bukanlah tetang baik-baiknya saja. Cinta juga bukanlah sesuatu yang mesti kita terima apa adanya. Cinta adalah mengharap RidhoNya, dekat denganNya. Menjadi lebih baik di setiap harinya, untuk pertanggung jawaban kita, kelak. Cinta adalah mencintaiNya yang menghasilkan cinta diantara kita. Cinta adalah berjuang untuk bersama-sama sehidup-sesurga.

Demikianlah aku mencintaiNya, sehingga mencintaimu, meski kadang aku lupa mengatakannya.

Alhamdulillahi Jazaa Kallohu Khoiroo atas semuanya, hingga hari ini. Teruslah menjadi baik lillahi ta'ala. Teruslah menjadi suami yang aku cintai sepanjang masa.

8 February, 2017
H-13 menuju 1000 hari pernikahan.


Istrimu,
yang banyak salah dan khilaf.


Tuesday, August 13, 2013

Ini Tentang...

Ini bukan tentang serasi atau tidak serasi. Bukan juga tentang sesuku, berbeda suku, atau sekasta, berbeda kasta. Dan bukan pula tentang lebih tua, seumuran atau lebih muda. Ini tentang satu visi mengenai tujuan hidup. Berproses dengan cara menyeimbangkan hidup agar dapat menapaki jalan kehidupan secara beriringan. Yang menyempurnakan agama masing-masing, menjaga dua per tiga keimanan sehingga menghasilkan ketenangan di hati, kenyamanan di sisi. Tentang bertatapan yang penuh arti, saling melantunkan do’a indah untuk pasangannya, berdiskusi mengenai apapun, berkomunikasi lepas tak berbatas. Tentang beribadah, bersyukur serta menghamba bersama dengan lebih khusyu’ kepada Tuhan.

Ketika dunia begitu kejam, dialah tempatmu untuk selalu pulang. Yang saling menguatkan, sehingga membuatmu sangat sabar dan tetap terus berusaha, meski sulit. Fisik mungkin tak menawan tapi memperjuangkan kebersamaan dengannya itu sesuatu yang sudah kamu yakini sejak awal. Masa lalunya tidak kamu permasalahkan karena sadar itu yang membentuknya sekarang. Kekurangan masing-masing adalah pembelajaran untuk menerima sekaligus memperbaiki menjadi lebih baik. Tentang dia yang kamu ikhlas seumur hidup menjadi makmum atau imamnya. Tentang dia yang kamu bangga menjadi ibu atau ayah dari anak-anaknya. Tentang perjuangan bersama dalam hidup. Tentang upaya saling surga-mensurgakannya sepasang manusia.

Monday, August 12, 2013

#LatePost Menuju I'tikaf 2013

Halo, Assalamualaikum.

Beberapa jam lagi sudah hampir menuju 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Entah postingan terakhir di blog saya ini kapan (padahal tinggal nyontek kebawah:P), sudah lama ya pastinya. Sudah banyak cerita ini itu, ina ita juga sebenarnya. Pertama, saya mau basa basi dulu lah. Apakabar pembaca budiman semuanya? Kangen tidak dengan saya? Tidak ya.. haha. Yasudah, tidak apapa.
Saya punya berita gembira, yang belum seberapa dibanding kegembiraan kalian mungkin. Tapi mudah-mudahan, berita ini akan terus menjadi bahagia sampai nantinya benar-benar Alloh kasih kegembiraan yang paling hakiki didalam semesta ini. Apa beritanya? Oh, tentu saya tidak ingin menjawabnya sekarang. Ketika sudah sampai pada waktunya, semua akan indah. Hihi. Iniapasih.
Saatnya mengasah pedang, menabung kebarokah di 10 hari yang special ini. Dibulan Ramadhan yang penuh rahmat ini. Saya bersyukur, sangat bersyukur. Mudah-mudahan ramadhan-ramadhan berikutnya akan menjadi jauh jauh jauh lebih baik lagi. Alhamdulillah. Bismillah. Aamiin :’)

Percaya tidak percaya, setiap keajaiban selang berganti didalam hidup. Pesan-pesan hikmah bertebaran di sepanjang perjalanannya. Manisnya kemudahan dan pertolongan begitu terasa ketika benar-benar terpuruk dalam sendirinya malam yang penuh isak. Sungguh Maha Besar Kuasanya. Tidak tertandingi. Saya lagi lagi bersyukur atas segala kesempatan dan keajaiban yang Dia berikan. Sekali lagi saya terheran-heran dengan semua rencana indahNya. Sekali lagi saya mengharu biru dengan segala rahmat yang selalu Dia karuniakan. Saya tidak dapat melukiskan perasaan ini secara tepat dengan kata-kata. Terlalu indah. Untuk semua orang yang selalu bersyukur dan merasakan indahnya apapun yang telah Dia berikan, salam sayang dari saya. Kita dalam perasaan yang sama. Tak terkira :’)

Sunday, September 23, 2012

Tuan..

Hal yang perlu anda tau, saya berusaha mencari anda, Tuan. Mungkin seharusnya saya tetap dalam keyakinan saya bahwa anda akan datang disaat yang tepat, tapi ya.. saya manusia. Saya tidak sabar. Seharusnya, manusia bukanlah alasan untuk tidak bersabar bagi saya.

Berkali-kali kaum anda mendekati saya, dan beberapa kali saya kecewa. Mungkin salah satu dari mereka adalah anda, dan mungkin juga tidak. Saya hanya saja berdo'a, jika mereka yang mendekati saya bukanlah anda, maka saya meminta kepada Tuhan kita untuk menjauhkan saya dari mereka, dan hanya merekatkan cinta saya kepada anda.

Tapi, lagi-lagi, tetap, saya belum sabar, dan dengan kemampuan logika, analisa saya sebagai manusia, kemampuan meminta petunjuk dan merebahkan segala ego kepada Tuhan kita, membuat saya selalu mencoba menemukan anda. Mengikat anda dengan sebenar-benarnya ikatan.

Berkali-kali saya mengalami perasaan penuh di lambung, penuh kupu-kupu. Tapi saya tau, anda bukan sekedar efek indah dari kupu-kupu yang terbang di dalam lambung, anda bahkan hampir sama dengan gravitasi. Anda, akan menjatuhkan saya kepada cinta. Dan saya tidak dapat menolak gravitasi, menolak anda.

Anda tau, Tuan.. Saya benar benar berusaha menahan kesabaran saya untuk menjatuhkan diri saya kepada anda. Karena saya benar-benar belum utuh tanpa anda.

Mereka berbicara tentang kemelut yang mereka hadapi setelah mereka utuh, karena keutuhan dan gravtasi tak seindah yang saya tulis sekarang, atau sebelumnya, mengenai anda. Mereka berkata persoalannya akan lebih kompleks dari sekedar utuh dan gravitasi. Mungkin mereka benar. Mereka pengalaman. Mereka telah merasakan asam garam kehidupan.

Tapi anda tahu? Bagi saya, anda dan saya adalah utuh. Utuh dengan manisnya saya dan anda, utuh pula dengan duka nelangsanya anda dan saya. Ya, sekedar itu. Saya dan anda, akan kembali karena gaya gravitasi. Sesulit dan segetir apapun saat itu, saya dan anda, kita akan kembali dengan caraNya. Saya yakin itu, saya hanya sangat yakin dengan itu.

“Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bersikap seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh.” -Dewi Lestari, Supernova - Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh



Sesuatu yang sampai saat ini membuat saya dapat bertahan ialah, karena saya yakin, anda mencintai saya. Dan saya, terlalu mencintai anda. Anda, yang tidak saya ketahui letaknya. Mungkin ini gila, tapi ini adalah cara saya memelihara keutuhan saya dengan anda.

Ketika saya merasa telah menemukan anda, dan ternyata bukan anda.. Cepat-cepat saya mengatur nafas saya untuk hidup, dan bertemu dengan anda, bahagia dengan anda. Tidak peduli dengan mereka yang bukanlah anda.

Ya, saya gila. Saya tergila-gila dengan anda. Segeralah jemput saya, Tuan.. Saya ingin merasakan hebatnya gravitasi yang membuat saya dan anda menjadi satu kesatuan yang utuh. Menjalani perjalanan menuju surga, bersama.

Sunday, March 25, 2012

Jika Hakikat Pernikahan Adalah ...

Berbicara tentang pernikahan pasti terdengar selalu ramai apalagi di umur-umur segini yaa. Terlebih membicarakannya dengan orang yang kita percaya. Namun, jelas ... banyak manusia yang belum mengerti benar apa itu menikah, pun saya. teruuuss aku nemu kalimat-kalimat ini loohh.. lumayan ngerefresh deh bagi yang sudah ada niat ke arah sanaa :) lupa darimana sumbernyaa.. yang jelas di facebook temen :3 maaf ya gak pake link jadinyaa

anywaay just cekidot aja yaaaa :D


Jika hakikat pernikahan adalah karena "hawa nafsu", maka pasangan rajin bertengkar jika "service" tidak memuaskan.

Jika hakikat pernikahan adalah karena HARTA, maka pasangan bakal bubar jika bangkrut.

Jika hakikat pernikahan adalah karena BEAUTY/BODY, maka pasangan bakal lari.

pun jika rambut beruban dan muka keriput atau badan jadi gendut.

Jika hakikat pernikahan adalah karena ANAK, maka pasangan akan cari alasan utk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir.

Jika hakikat pernikahan adalah karena KEPRIBADIAN, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.

Jika hakikat pernikahan adalah karena CINTA, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih baik, lagipula manusia yang dicintai pasti MATI / PERGI.

Jika hakikat pernikahan adalah karena IBADAH kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH itu BEKAL dan MAHA PEMBERI HIDUP kepada makhlukNYA.♥♥♥ ♥♥

Dan ALLAH mencintai hambaNYA melebihi seorang ibu mencintai bayinya.

Maka tak ada alasan apapun didunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan mendurhakai ALLAH.