Showing posts with label Lesson's Life. Show all posts
Showing posts with label Lesson's Life. Show all posts

Wednesday, February 7, 2018

Cinta itu Fitrah


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Ar-rum ayat 21

Cinta itu fitrah. Cinta tidak pernah salah, namun sering dijadikan alasan untuk berbuat salah. Cinta adalah anugerah, tidak ada yang salah dari manusia yang memiliki cinta. Justru karena cintalah manusia menjadi manusia seutuhnya, menumbuhkan harapan hidup, mengimani Tuhan, Rasul dan kitan-kitabnya serta mewarnai perjalanan takdirnya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Ali Imran: 14

Seperti ayat di bawah ini, cinta adalah salah satu tanda bahwa kita beriman. Allah menurunkan rasa cinta dan kasih sayang kepada hamba-hambaNya, sebagai tanda bagi orang yang beriman.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. Maryam: 96

Ketika kita merasakan sesuatu yang berbeda terhadap lawan jenis saat melihatnya, sesuatu yang membuat jantung berdegup kencang, perut seperti dipenuhi kupu-kupu atau perasaan membuncah luar biasa tak terlukiskan, maka jangan panik! Itu bukanlah penyakit. Dan ia juga bukan sebuah dosa, atau setidaknya belum tentu menjadi sebuah dosa.

Sangat wajar bila tumbuh perasaan tertarik atau suka diantara laki-laki dan wanita dewasa juga yang sedang bertumbuh dewasa. Tetapi, bukan berarti ketika Allah mengaruniakan Cinta sebagai fitrah manusia, lantas manusia bebas mengekspresikannya, tidak.
Ada waktu, cara dan aturannya. Oleh sebab itu Allah menurunkan Islam agar kita menjadi manusia yang berakal, bermoral serta beriman. Tidak seperti hewan yang bebas berekspresi sesuai keinginan mereka tanpa malu dan berpikir.


Wednesday, August 2, 2017

Tentang Menikah (1)


Bayang-bayang indahnya kebersamaan dalam sebuah mahligai rumah tangga insyaAllah sering muncul di hati para singlewan/singlewati.

Hal ini, wajar saja terjadi karena manusia secara naluriah memang ingin hidup berdampingan, butuh teman, perlu berkembang biak dan sebagainya, dan sebagainya.

Saat ini, kita (saya kali, ya maksudnya) seringkali melihat atau mendengar seruan kepada pemuda/i untuk segera menikah. Tanpa mengurangi rasa hormat atas niat baik tersebut, penting bagi saya untuk mengungkapkan hal ini.

Saya wondering bagaimana ketahanan diri dan upaya merek menuju ke jenjang pernikahan setelah dikompor-kompori dengan berbagai macam sindiran baik langsung maupun tidak langsung, dipertanyakan statusnya dengan baik-baik maupun dengan tidak baik.

Apakah para pemuda yang 'ditantang' untuk segera menikah ini sudah siap, baik lahir maupun bathinnya?

Apakah para pemuda-pemudi ini sudah sedikit banyak faham tentang ilmunya?

Apakah pemuda-pemudi ini sudah paling tidak, mengerti dengan baik dan benar bab tentang thoharoh/kesucian?

Apakah pemuda-pemudi ini sudah betul-betul siap diamanahi sesuatu yang luar biasa besar dengan berbagai suka dukanya?

Apakah mereka benar-benar sadar dan ikhlas dan sabar saat menentukan pilihan untuk menikah?

Ataukah itu hanya rasa terburu-buru akibat pressure lingkungan yang bahkan tidak memfasilitasi ilmunya?

Ataukah itu hanya rasa penasaran dari gembar gembor overclaim sebuah citra pernikahan yang tak peduli bagaimana perjalanan penuh kerikilnya?

Ataukah itu hanya syahwat yang membara dan tak tertahankan?

Ataukah itu hanya sebagai pembuktian naik level ke status berikutnya?

Kenapa sih, saya berpikir sampai sejauh ini? Karena jaman saya muda, saya pun juga merasakan minimnya fasilitas ilmu ke arah sana. Saya USAHA SENDIRI belajar, mencari dan mendekati majlis-majlis ilmu ataupun buku-buku yang berhubungan dengannya.

Ilmunya nggak ujug-ujug ada. Nggak tiba-tiba datang sendiri. Ada waktu, tenaga, usaha, uang yang perlu dikeluarkan untuk berikhtiar mengkaji sebelum beramal.

Kenapa waktu jaman nabi banyak yang nikah muda? Karena can you imagine, mereka abis baligh aja udah maju ke medan perang. Udah jadi pemimpin perang. Mereka mencapai usia baligh dibarengi dengan kematangan psikis dan cara berpikirnya. Mereka baligh di usia, katakan 12-15 tahun, bersamaan dengan kemampuan berpikir, memilih, dan mengambil keputusan yang baik. Pendidikannya jauh berbeda dengan pemuda-pemudi saat ini yang nilai oriented. Mata pelajaran/sks oriented. Sementara ilmu agama dikesampingkan, orang tua pun ikut mensukseskan program prestasi dunia lebih penting ketimbang bekal hidup untuk akhirot.

Pembelajaran tentang agama nggak sebanding dengan usia yang semakin menua. Kebanyakkan dati mereka belum siap berumah tangga karena jiwanya tidak dipersiapkan untuk itu (tugas orang tua). Pun tidak berusaha juga untuk mempersiapkan hal itu (ikhtiar dari diri sendiri).

Hal ini tentu membuat saya, dan beberapa teman sedih. Saya prefer mengajak orang untuk cari ilmu dulu yuk, yang banyak. Jangan tanggung-tanggung.

Masa-masa singlenya dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk dipakai untuk mengupgrade ilmu tentang pernikahan. Jangan nilai kuliah aja mati-matian diperjuangin, tapi nilai-nilai kehidupan berumah tangga diantepin.

Biasanya hal ini disebut dengan memantaskan diri. Apakah saya benar-benar pantas untuk diamanahi Allah sebuah pernikahan?

Nikah itu nggak sekedar happy-happy macem endingnya drama korea. Ada segudang amanah yang perlu ilmu sekecamatan. Ada suka duka yang perlu banyak keikhlasan juga kesabaran.

Deket sama Allah aja kadang-kadang, upgrade ilmunya ogah-ogahan, kedewasaan masih jauh dari usianya, eh, mau nikah? Astagfirulloh..

Saya ngeri, seriously. Bagi anak-anak pengurus yang "hubungan" dengan ayahnya baik, insyaAllah sering denger selentingan-selentingan tentang kasus cerai.

Terkadang mendengar saat orangnya datang langsung ke rumah, curhat sama bapak kita.

Beberapa tak sengaja mendengar percakapan antara ayah dan ibu kita.

Terkadang ayah menasihati kita dengan berbagai petuah kehidupannya, hikmah-hikmah yang bisa ia bagikan dari berbagai kasus perceraian anak-anak muda saat ini.

Masalah cerai yang perlu kalian ketahui sebagai hikmah kita bersama itu seringkali cuma masalah sepele.

- Istrinya nggak mau buatin suaminya kopi
- Nggak cocok sama design rumah
- Beda pendapat
- Berantem-berantem kecil yang lama-lama menggunung karena penyelesaiannya nggak pernah tuntas
- Gagal move on dari mantan (terus, ngapain milih nikah, sik? Move on aja belom, duh. -_-)
- dan buanyak lagi.

Maksudnya saya apa sih ngejembrengin kasus-kasus itu? Supaya kita dan teman-teman kita yang belum nikah itu sadar bahwa cobaan nikah itu nggak segampang ijab kabulnya.

Supaya kita sama-sama mengerti bahwa syetan benci pernikahan dan akan terus menggoda pondasi dasar itu supaya hancur, karena Allah benci perceraian. Jadi kalau ada alasan-alasan cerai yang terlalu sepele, itu sangat mungkin terjadi. Karena syetannya yang goda juga nggak tanggung-tanggung melakukan aksinya.

Semua hal diatas membuat saya selalu merasa terpanggil untuk meng-encourage teman-teman, yuk sama-sama belajar tentang sebuah ikatan suci ini. Ikatan yang nggak bisa putus-nyambung seenak lidah kita. Mental pacaran jangan sampai dibawa ke pernikahan.

Diluar semua motivasi menggembor-gemborkan nikah muda baik ke pemudanya maupun ke orang tuanya, yuk, kita ambil peran sebagai orang yang memfasilitasi dibidang keilmuannya.

Yuk, kita teladani teman-teman kita supaya mau membaca kisah-kisah nabi dengan para istri. Begitu pula kisah-kisah sahabat lainnya. Bagaimana mereka bersikap, menghormati, menghargai, rebutan ngalah dan toleransi dengan pasangan.

Bagaimana nabi menjaga perasaan Aisyah saat ia membuat minumannya dengan garam, bukan dengan gula.

Bagaimana Ibu Khodijah menyemangati dan menenangkan Nabi, mensupport Nabi saat Nabi ketakutan bahkan sampai menggigil ketika mendapat wahyu pertama kali.

Bagaimana respon sahabat Umar saat 'diomeli' istri, dan bagimana-bagaimana yang lainnya.

Maka yuk, teman-teman kita belajar juga menjaga komitmen kita dengan Allah untuk tidak alay, tidak centil terhadap lawan jenis. Baik centil yang diniati tebar benih atau centil yang cuma iseng aja.

Yuk, teman-teman kita belajar menjaga aurot kita semata-mata karena kecintaan kita kepada Allah. Termasuk yang laki-laki juga, ya.

Yuk, ikhwan-ikhwan sholih, komitmen menjaga pandangan. Jangan gampang nge-like muka cantik orang di instagram. Belajar menjaga komitmen kepada Allah dengan menjaga mata serta kemaluannya. Menjaga mata itu termasuk dari ngeliatin foto-foto cantik seseartis di instagram atau dimanapun, yah.

Hal-hal tersebut diatas akan membentuk kita menjadi pribadi yang sadar bahwa menjaga komitmen tidak mudah, tapi HARUS. Membentuk pribadi yang kuat, taat semata-mata ikhlas karena Allah. Sabar menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Untuk para orang tua, yuk, kita juga harus sadar bahwa pembelajaran tentang pernikahan sebaiknya sejalan dengan usia balighnya. Semuanya tentu bertahap sesuai dengan tahapan usianya.

Yuk, para orang tua juga sibuk saat anaknya menjalani masa ta'aruf. Sibuk istikhoroh, sibuk hajat sebagaimana kita sibuk mencarikannya sekolah terbaik atau universitas ternama. Secara langsung ataupun tidak langsung, ini adalah langkah terakhir kita sebagai orang tua untuk membersamai anak. Tinggalkanlah memori terindah untuk anak-anak dengan membersamainya.

Bersambung..

Dengan segenap kasih sayang sesama orang beriman, catatan pengingat diri, saat ini dan nanti.
Bogor, 2817


Saturday, July 29, 2017

Sakinah yang Kita Cari

Yang dicari dalam pernikahan salah satunya adalah sakinah. Sakinah itu tenang, tenteram, damai.

Menjadi keluarga sakinah itu nggak ujug-ujug. Ada harga yang harus dibayar. Apa itu? Tentu saja ketakwaan. Ketaatannya terhadap Allah, Rasul.

Pikirkan kembali baik-baik mengapa ingin menikah. Karena proses ibadah ini akan sangat panjang. Selain butuh ilmu, ia juga membutuhkan mental.

Menyendirilah sejenak.
Komunikasikan segala kegelisahan dan kealfaan kita kepadaNya di sepertiga malam.
Singkirkan ego dan pikiran-pikiran kita tentang dunia.

Karena lewat menikah, jalan surga kita lebih mudah. Hisaban yang sebenarnya begitu banyak, Allah beri potongan kepada muslimah melalui pernikahan.
Bersyukurlah.

Menikahlah karenaNya, menikahlah sesuai dengan koridorNya. Menikahlah karena banyak harapan yang ingin kita capai untuk mendapatkan ridhoNya.

Sakinah yang kita cari insyaAllah akan hadir dalam rumah. Bertemu pasangan bawaannya sumringah. Sebal, marah, lelah sampai rumah hilang seketika, Alhamdulillah.

Tidak seperti diluar sana yang mencari-cari ketenangan pada dunia. Dikantor ruwet, sampai rumah mumet. Suami kesal istripun bengal. Lingkaran setan yang sempurna karena lupa pada TuhanNya.

Sakinah itu tak dapat kita upayakan tanpa menjadi orang islam yang kaaffah.
Sakinah itu rezeki yang mahal.
Allah berfirman, hanya muslim beriman dan taat yang dapat merasakannya.

Semoga Allah selalu mudahkan langkah hijrah kita. Semoga Allah barokahkan keinginan-keinginan baik kita.



#empoweringmuslimah ❤

Friday, July 28, 2017

Passion atau Calling?

Menjadi Ibu Rumah Tangga itu bukan passion saya. Passion saya kerja. Iya, saya betah berlama-lama dikantor. Disuruh ngerjain 3 task saya berani kasih 5 atau 7 buat kantor. Saya pegawai yang loyal, simply karena saya suka banget kerja dan saya merasa bersyukur, saya selalu belajar disetiap tugas yang diberikan.

Tapi bener nggak ya, passion saya kerja. Bosen sama kerjaan pasti pernah, lah ya. Katanya kalo passion nggak boleh bosen? Tapi ya masa gitu amat, namanya berkecimpung di dunia itu bertahun-tahun?
Tapi saya orangnya passionate banget sih saat kerja, pun belajar (saat ini, sih. Jaman SMA kayaknya nggak hahahaha)

Katanya juga passion itu pencarian seumur hidup. Jadi kalo ditanya nulis itu passion atau nggak? Kayaknya nggak, hobi aja. Soalnya saya kalo nggak nulis ya nggak apa-apa. Jadi kenapa-kenapa karena saya kebanyakan ide. Agak ganggu banget, sih. Pengen banget gitu ngeblog berbagai macam hal tapi merasa nggak ada waktu. Dan saya berakhir baik-baik aja padahal banyak ide buat nulis. Tapi waktu jamannya kerja, pasti ada banget yang aneh kalo nggak kerja. Kalo kerjaannya dikit atau leha-leha. Eh, jangan-jangan passion saya itu di pembukuannya, bukan di kerja? Hahaha.

Nggak sih, saya terlampau cinta sama kantor lama saya. Atmosfernya, ekskulnya, mesjidnya, toiletnya, gedungnya, kubikelnya, mengeluarkan energi berpikirnya, kantinnya almost semuanya. Dan saya senang berada disana dan sibuk. Dan berguna. Dan berfaedah. Jadi saya seneng kerja kan, ya? *malah balik nanya* 😅

Untuk menjadi pro dibidangnya, orang perlu mengetahui passion yang dimiliki sedini mungkin. Buat yang belum menemukan passion, ya gali terus. Kita nggak pernah tau di depan kita nanti akan ada apa.

Tapi, nggak semua passion bisa buat bahagia, menurut saya. Karena ada 'calling'. Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah calling. Panggilan jiwa, panggilan hidup. Hidup ini untuk apa? Untuk siapa? Mau cari apa?

Nah, misalnya passionnya travelling tapi nggak punya duit, terus gimana mau jalan-jalan? Bekerja di korporasi dan punya duit dan bisa jalan-jalan kan lebih enak, bukannya?

Atau passionnya fotografi tapi punya istri dan anak yang kalo ngandelin fee dari passion itu ya mana cukup, akhirnya bekerja sesuai ijazah S1 demi ngasih yang terbaik buat keluarga, apa salah? Ya, nggak dong. Bahagia pula kan bisa bahagiain keluarga? Calling itu semacam itu.

Letak kebahagiaan itu bukan di passion, tapi di rasa bersyukurnya.

Saya kuliah nggak sesuai yang saya minati, so far ya so good aja, tuh. Saya menikmati. Mungkin ada rasa syukur disana, ditambah ridho orang tua. Hasilnya? Luar biasa. Walaupun cuma lulusan PTS, saya bisa cum laude. Saya bisa bekerja di korporasi yang bergengsi di Jakarta. Allah paring saya nggak ngeluh dan bersyukur menjalaninya. Jadi hasilnya ya Alhamdulillah.

Coba bayangkan orang yang kuliahnya nggak sesuai dengan yang dia minati, ditambah dia jadi ngeluh mulu dengan keputusannya kok mau aja nurut sama orang tua. Ditambah lagi dia benci sama jurusannya. Sama semua hal yang berbau dengan jurusan itu, trauma. Kasian kan? Hasilnya nggak ada apa-apanya, padahal dia fight keadaan itu bertahun-tahun.

Padahal perbedaannya sereceh rasa syukur sama nggak, doang. Tapi efeknya bisa merubah takdir dan kehidupan. Masyaa Allah.


Passion dan Calling terkadang memicu pergulatan bathin. Saya berani menuntaskan perang bathin saya dengan memilih sebagai Ibu Rumah Tangga. Ini sulit, tapi demi kedamaian jiwa saya.

Menurunkan ego dan memilih untuk memberdayakan potensi saya dirumah bukan berarti karena saya tidak mempunyai pilihan pun juga karena saya tidak berprestasi di kantor. Melainkan skala prioritas keluarga adalah kewajiban, yang bagi saya, sulit untuk disub-kontrakkan untuk saat ini.

Menjadi Ibu Rumah Tangga bukan berarti berdiam diri, mengabaikan potensi, tetapi memaksimalkan kemampuan. Sama seperti di kantor, saya harus profesional. Sama seperti saat kuliah, kalo perlu saya harus cum laude lagi. Untuk apa? Untuk pahala. Untuk jariyah saya, nanti.

Tujuan hidup yang cuma satu itu memang jalan jihadnya bisa lewat mana saja dan salah satunya ialah menjadi Ibu Rumah Tangga.

Hal ini tentu saja bisa berbeda dengan teman perempuan-perempuan yang mengemban ilmu untuk kemashlatan umat seperti dokter, perawat, guru, ustadzah, bidan dan lain sebagainya. Kalau nggak ada perempuan di bidang-bidang tersebut, insyaAllah kita juga yang jadi bingung.

Jadi, temukan passionmu. Jika ia tak bisa menjadi tempat maisyah atau tempat bahagiamu, kamu hanya perlu tau untuk apa kamu hidup. Untuk apa Allah menciptakanmu, maka insyaAllah hidupmu jauh lebih tenang ketimbang orang yang hanya menjalankan passionnya tanpa mengenal arti hidupnya. Tanpa dekat dengan Tuhannya.

#empoweringmuslimah

Monday, April 10, 2017

Single or Double? Yang Penting Berprinsip~


Setiap manusia yang bernyawa insyaAllah selalu ada ujian ataupun musibah dalam hidupnya. Eh, kalo manusia yang udah nggak bernyawa mah namanya mayat ya, bukan manusia. 




Nah, jadi kalau mau hidupnya "baik-baik" saja tanpa ujian dan musibah ya berarti kudu jadi mayat dulu. Etapi sebenernya udah jadi mayat juga masih ditanya-tanya yah sama malaikat, belom kelar juga dong berarti itu si ujian? 

*nadya anaknya plinplan*
*abaikan*

Jadi, kalau kita ngeliat sesembak atau sesebabang yang sudah menikah kok hidupnya hepi terus, feed sosmednya keliatan lifegoals banget, bukan berarti hidupnya tanpa ujian, ya. Jomblo aja banyak ujiannya, *ahem* apalagi menikah? Kenapa menikah lebih banyak ujiannya? Karena dengan menikah juga lebih banyak pahalanya. Dengan menikah, hampir semua pengamalan dikalilipatkan oleh Allah, pahalanya. Nah, menurut kamyu aja nih, kalo pahalanya banyak, yakali jalannya mudah dan lempeng?
Nggak mungkiin.
Karena hadiahnya bukan gelas cantik, tapi syurga.



Trus yah, kenapa sih kita kalo taking picture hampir selalu berkali-kali (lu aja, nad) sampe nemu angel terbaik dan dipajang deh tuh hasil gambar yang paling baik menurut kita.
Banyak ya, alasannya.
Salah satunya ya, nggak pengin aja yang liat feeds kita jadi sakit mata. Syukur-syukur bisa menginspirasi dan jadi jariyah.

Nah, begitupun dengan konsep berumah tangga dalam Islam, suami istri itu saling menjaga, saling melengkapi, saling menutupi aib pasangan, karena suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain.

Pasangan ada kekurangan? 
Ya, jangan diumbar. 
Punya masalah? 
Apalagi. 
Kecuali mentok nggak ada jalan keluar, sekiranya bisa dikonsultasikan ke pihak yang 'berwenang', itu jauh lebih baik.

Alhamdulillahnya saya juga bukan tipe yang suka nyindir-nyindir suami lewat status yang aku share dari sesembak psikolog, atau sesesiapapun lah. Kalau ada artikel yang kebetulan "pas" sama kejadian hidup, biasanya aku copast kirim ke watsap/email suami (jika sedang rajin). Jika sedang tidak rajin, minimal aku mensyen paksu di statusnya seseibu atau sesembak tersebut. Jadi, mudah-mudahan si, circle-ku nggak "ngeh" kalau kita sedang ada apa-apa. Ehee.
Ehya, ini syarat dan ketentuan berlaku, yah. Karena nggak semua suami bisa terima "dibeginiin" istrinya, jadi balik lagi sesuaikan dengan sikon masying-masying.

Lalu, biasanya juga buibu ni doyan curhat, ya (ups 🙈). Nah, kalau sudah menikah ini kudu hati-hati banget. Jangan sampai jadi pasangan yang suka umbar-umbar kekurangan partner hidupnya. 
Biar apa coba curhat? 
Biar tenang? 
Mau tenang mah tilawati, dzikir, sujud, sabar. Kan udah dikasih tau sama Allah rumusnya....

(Ngomong mah gampang, prakteknya susah, nad..... iya, bener. Hiks) 

Yakan udah dibilangin kalo mudah mah hadiahnya payung cantik, bukan surga. Deal with it.



Lagian kasian kan, pasangannya malu, kekurangannya diketahui orang lain. Masalahnya pun belum tentu juga selesai dengan kita cerita-cerita. Paling temennya juga cuma angguk-angguk sambil bilang sabar-sabar. Paling mentok ya kasih saran, tapi ya belum tentu juga cocok sarannya, karena yang paling tau masalahnya ya kita, dan Allah. Ujung-ujungnya kita juga yang malu karena akhirnya baikkan sama pasangan, dan ada pihak luar yang tau "aib" keluarga kita.
Curhatnya jadi sia-sia.





“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari Muslim)


Jadi pertama kali yang perlu kita lakukan sebelum bertemu masalah (kembali), adalah mencari sebuah prinsip hidup supaya ketika kita dihadapkan oleh sebuah masalah, kita siap menghadapi dan menyelesaikannya.

Kenapa sih prinsip-prinsip hidup ini menjadi penting? Soalnya kalo kita nggak punya prinsip, hidup kita jadi seperti terombang-ambing di lautan geloraa~~ 

*kemudian nyanyik*
*salah gaul*

Hidup kita jadi plinplan, bingung, galau, resah, gelisah, kemudian laper. Dan jarum timbangan makin geser ke kanan *ini mah gue* 🙈

Maka temukanlah prinsip-prinsip hidup tersebut dalam Alquran dan Alhadits. Karena, sudahlah pasti benar bahwa Islam adalah solusi hidup untuk siapapun di muka bumi ini. Apalagi kita yang muslim/muslimah, jungkir balik solat, ngaji, ibadah, jangan sampai lupa bahwa solusinya ada semua disini (Islam).

Nggak mau nikah beda kasta, yang satu turunan darah biru, pasangannya darah ungu (emang ada?).
Nnggak mau nikah beda lidah, yang satu doyan pedes, satunya doyan pedes banget pake micin dikit.
Nggak mau nikah beda suku, yang satu dari sunda, pasangannya jawa.

Terus, kenapa? 
Hey, terus kenapaa?
Biar kata Hayam Wuruk nggak jadi nikah sama Dyah Pitaloka konon akibat perang yang tidak berimbang karena sebuah kesalahpahaman diantara mereka dan pasukannya yang kemudian sampai saat ini menjadi alasan segelintir masyarakat untuk melakukan "perang dingin" diantara kedua suku, kalau prinsipnya berkiblat pada Islam, maka hal itu menjadi mudah. Tak perlu lah ada dendam diantara kita, apalagi kita nggak tau persis kejadiannya seperti apa. 

Sudah berumah tangga, prinsipnya ya jalan terus sesuai Alquran dan Sunnah. InsyaAlloh, Allah mudahkan kesempitan-kesempitan yang dirasa. Allah berikan ilham-ilham yang baik diluar logika kita.

Begitu pula yang masih single, sendiri itu bukan karena nggak laku, nggak ada yang ngajakkin maksiat, tapi karena sadar betul bahwa sebagai hamba Allah, harus menjaga diri dan hawa nafsu agar masuk surga, selamat dari neraka. 
Ini prinsip. 
Pegang yang teguh, jangan gampang belok. 

Kudu setrong, shay.



Allah sudah berbaik hati mengirimkan surat cinta kepada hamba-hambaNya lewat utusanNya. Yang kalau dibaca menghasilkan pahala, yang jika dihapalkan kelak ia akan menjadi syafaat di hari kiamat.

Allah juga berbaik hati memberikan solusi diatas semua solusi dalam urusan kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi melewati Alquran dan perilaku keseharian Nabi Muhammad SAW.
Terus mau apalagi? Kamu kok ya dikasih kunci jawaban kehidupan sak pol-pol ne, yo ora diwoco? Arepe opo, toh?

Ayok berubah, sebelum dirimu punah! 
Bismillah.
Mudah-mudahan Allah paring istiqomah, yah! 

Nadya, 
Wif ❤

----
*notetoself

Sunday, April 9, 2017

Pernikahan yang Bahagia


Pernikahan yang bahagia itu bukan pernikahan yang tanpa masalah. Tapi pernikahan yang saling mengerti bahwa ketika ada masalah maka "kita" harus mencari jalan keluarnya bersama-sama. Kenapa "kita" nya di bold? Karena menikah itu ya berdua, menyatukan dua orang yang berbeda untuk mendapatkan ridhoNya. Jadi, berjuangnya ya berdua dong, ya. Kalo sendirian kan jomblo namanya. Eh. 😜


Jangan baper, becanda yaaw



Nah, Alhamdulillah, kabar baiknya ialah dalam Islam selalu ada jalan keluarnya.
Serius?

SERIUS.


Karena menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya adalah KOENTJI. 





Make it simple, mau bahagia? Taat Allah Rasul. As simple as that. Like really? Iya. Beneran. Beneran bangeet. Pengalaman hidup pribadi dan orang lain mengajarkan saya tentang hal ini. Kamu juga, kan?

Misalnyapun ada berbagai macam teori tentang pernikahan, percayalah bahwa pondasi utamanya tetap ada di kecintaan kepada Tuhannya lebih dulu, kemudian ilmu lalu amal untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan ketentuanNya.

Karena dibilang kudu komunikasi blablabla kalo hobinya maksiat ya tetep aja komunikasinya nggak efektif. Why? Soalnya dia nggak komitmen sama Allah. Waktu ijab kabul, dia lupa atau nggak ngerti maksudnya pernikahan itu apa. Menikah itu gampang, menjaganya yang susah.

Karena pelanggaran-pelanggaran dan maksiat yang dikerjakan itu nggak akan pernah membawa kebahagiaan bagi pelakunya. Ketika Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, maka orang tersebut akan bertaubat sambil menyesal telah melakukan perbuatan-perbuatan maksiat tersebut. Mungkin sampai akhir hayatnya dia 'dibebani' rasa bersalah yang amat sangat sehingga, menjadi cambuk untuknya supaya bisa beramal sholih lebih lebih dan lebih banyak lagi. 

Namun, jika Allah tidak lagi peduli dengannya, pelaku tetap merasa tenang-tenang saja hingga kebahagiaan yang fana tersebut pada akhirnya akan hilang dan berganti. Mereka tidak pernah kekal, bahkan mudah sekali pergi. Mudah sekali, secepat anak 2 tahun yang udah bisa ini itu padahal kok kayaknya baru kemarin lahiran.

*tapi boong*
*dua tahun berasa kali, ah*



Rumus yang udah absolut ini masih selalu ada aja yang nyeletuk,

"Ah, nggak juga tuh. Si A kerjanya maksiat mulu, rejeki lancar aja. Anak-anak berprestasi, istrinya cantik dlsb"

We never know what someone is going through yekan, boebo?
Lagian orang mah pengennya kamu-kamu itu taunya ya baik-baiknya aja, yegak?



"Itu si B ahli ibadah, anak-anaknya tahfidz quran kok rumah tangganya berantakan?"

Kita juga nggak pernah tahu hati orang lain, atau jangan-jangan perceraian lah jalan terbaik untuk si B, sehingga bisa mendapat istri yang sholihah nan taat.

Saya pribadi sih percaya kualitas kebahagiaan hidup seseorang ditentukan dari seberapa dekat dia dengan TuhanNya, seberapa taat dia dan seberapa kuat dia berjuang meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan. Ketika saya lagi turun keimanan, ya ada aja (banyaque) perasaan-perasaan negatif muncul. Mau me time ke salon kek, buang-buang uang makan di tempat yang bukan kelasnya saya (nggayae rek, kek punya duit saja kau nak 😂), berenang, tidur, traveling, apapun, ujung-ujungnya saya baru bisa tenang kalo udah tsurhat ke Yang Maha Memberi Ujian dan Rasa. Jadi dahulu kala, saya nggak pernah sedih kalo nggak ada bahu, lantai mesjid banyak cin, sujud ateuh. Dijamin kepala adem, hati pun. Masyaa Alloh, Alhamdulillah.

Karena percayalah kebahagiaan yang HQQ itu cuma bisa didapet kalo kita deket sama yang Empunya bahagia. 



Pernikahan bahagia juga bukan karena keduanya saling mencintai (saja), namun karena keduanya lebih mencintai Allah yang kemudian Allah turunkan benih-benih cinta diantara keduanya. Sehingga Allah tambah mencintai hamba-Nya yang saling cinta-mencintai karenaNya. InsyaaAlloh. 

Bingung nggak? 
Gausah bingung, istikhoroh sama hajat aja yang banyak. InsyaAlloh tahun ini, yaa? Aamiiin 😘

Nadya, With Love ❤

--------

*sebagai pengingat diri sendiri
**doa terakhir khusus pejuang single yang sedang mencari pasangan halalnya.

Sunday, March 5, 2017

Muslim yang Kaaffah (Part 1)

Menjadi seorang muslim yang kaaffah itu tidak mudah. Mengapa? Karena hadiahnya surga. Kalo mudah, yabiasalah hadiahnya bukan surga, mungkin kipas angin atau piring syantik.

Sependek pengetahuan saya, golongan manusia-manusia itu sudah dijelaskan dalam Al-Quran.

Apa sajakah itu?

 1. Golongan Mu’min, yakni golongan yang menerima dan menyakini rukun iman yang enam, iman kepada Allah, MalaikatNya, KitabNya, RasulNya, Hari akhir, dan TakdirNya dengan tulus dan jujur. Golongan ini tidak hanya menerima akidah dengan hatinya, melainkan juga mengakui dengan lisannya, dan mengamalkan dengan tingkah lakunya. 



Orang Iman/Mukmin terbagi lagi menjadi 3:
Sabiqun Bilkhoirot (Berlomba-lomba dalam kebaikan)
Muqtashid (Pertengahan)
Dzholimu Linafsi (Menganiaya diri sendiri)

2. Golongan Kafir, yakni golongan yang menolak rukun iman secara terang-terangan. 

3. Golongan Munafik, yakni golongan yang pada lahirnya menerima akidah islam namun sebenarnya hatinya menolak dan tidak mempercayai akidah islam. Mereka menampakan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya.

4. Golongan Musyrik, yakni golongan yang mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain. 

5. Golongan Murtad, yakni golongan yang dulunya beriman kepada Allah SAW kemudian keluar dari agama Islam. 

6. Golongan Fasiq, yakni golongan orang yang selalu melakukan dosa
akan menganggap bahwa dosa adalah hal yang biasa dan sulit untuk meninggalkannya. Dan, hal tersebut dapat membuat mereka keluar dari agama (murtad).

Masing-masing golongan dijelaskan pula contoh/ciri khasnya. Ada yang bisa dilihat dengan mata telanjang, ada yang tidak. Boleh di cek lagi Quran Haditsnya masing-masing ya sist.

Namun, sebagai manusia dengan keterbatasannya, kita tidak dapat menjustifikasi seseorang karena hal tersebut adalah haknya Allah. Tapi, kita bisa menjaga diri kita dari kemaksiyatan-kemaksiyatan yang telah dicontohkan, pun menjaga diri kita agar tidak terpengaruh pada orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri dengan melanggar perintah Allah dan Rasul.

Ketika kita berhijrah ke arah yang lebih baik, tentu saja selalu ada cobaannya. Kalau lulus ujian bisa naik kelas, kalau gagal ya menunggu ujian selanjutnya, supaya tetap bisa naik kelas. Masa mau stuck disitu saja keimanannya? Jangan dong, ya. 



Sebagai generasi akhir zaman, cobaan mukmin akan lebih dahsyat lagi. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah cobaan pergaulan. Lingkungan ini berpengaruh sangat besar pada keimanan dan pola pikir kita. Dan memang sudah rumusnya, yang seakidah akan berteman dengan sesamanya. Karena melelahkan sekali tentunya berteman dengan orang yang berbeda cara pandang tentang Islam padahal seagama.



Jadi jangan heran ketika kita mencoba menjadi muslim yang kaaffah, lalu ada saja diantara beribu teman yang menjuluki kuno. Kolot. Norak. Konservatif atau apalah. 

Santai saja.



Karena tidak pernah ada penjelasan dalam Alquran maupun Alhadits tentang jenis Islam yang kolot dan jenis Islam yang bebas. Itu hasil buah pikir manusia saja demi memuaskan hawa nafsu dan syahwat mereka.

Jangan terpengaruh.

Kembalikan lagi kepada pedoman hidup kita, Alquran dan Alhadits. Pedoman hidup itu berlaku MUTLAK. Sekali lagi ya, MUTLAK. All in.
Tidak bisa dicomot yang sesuai keinginan kita dan dibuang yang tidak kita suka. Tidak bisa juga bebas mengartikannya sesuai pola pikir kita. Tidak bisa. Ada aturan mainnya. Harus sama persis dengan apa yang Rasulullah sampaikan kepada umat terdahulu. 



Menjadi muslim yang baik, menghormati sesama, menutup aurot (dalam artian yang sesungguhnya, bukan berpakaian tapi telanjang), berdakwah, menyampaikan kebenaran Alquran walaupun seayat, dan beribu perilaku juga syarat menjadi muslim yang kaffah lainnya adalah satu paket. Jangan dipisah-pisah. 

Karena menjadi orang baik saja tidak bisa mengantarkan kita ke surga. Perlu iman, ilmu, amal yang sesuai kaidahNya serta taat, ikhlas dan takwa kepada Lillahi Ta'ala.



Katakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah sesuai Alquran dan Alhadits. Karena hanya menjadi baik saja tidak perlu beriman kepada Allah tapi menjadi BENAR dan baik harus selalu berlandaskan ketentuan Allah. Dan tidak semua hal yang BENAR itu menyenangkan. Karena tentu saja, mendapatkan surga itu tidak mudah, jenderal. 



Jangan sampai, hidup singkat, sekali di dunia ini malah menanam jariyah dosa atas pola pikir dan perilaku salah kita yang menginspirasi orang lain untuk ikut serta melakukannya.



Dosa dilakukan sendiri, tanggung jawab sendiri. Dosa dilakukan sendiri namun kemudian diketahui publik dan menginspirasi orang lain untuk berbuat dosa juga, maka menjadi jariyah dosa untuk kita sampai hari kiamat.

Naudzubillahi min dzalik.




Semoga Allah selalu berikan petunjuk serta perlindunganNya untuk kita semua. 
Semoga Allah terus memberi kita kekuatan dan keteguhan untuk melewati ujian-ujian akhir zaman.
Semoga Allah terus menumbuhkan niatan-niatan baik dalam diri kita untuk terus memperbaiki kekurangan diri dan bisa merealisasikannya sesuai Alquran dan Alhadits.
Semoga Allah selalu menjaga dan memberikan pemahaman yang benar kepada anak turun kita.
Aamiin. Yaa robbal 'alamiin.

#notetoself
#personalthoughts

All sourcepict: pinterest/Lia

Thursday, February 16, 2017

NHW #4 MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH





Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?

Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Ya, semenjak anak saya sulit menyusu dari botol, sekitar 4-5bulan, itu menjadi titik balik hidup saya, bahwa saya ingin menjadi Ibu yang mau belajar dan benar-benar mengerti apa yang kelak keluarga saya butuhkan. Ibu yang bukan abal-abal, Ibu yang aerius menjalani perannya bukan hanya sampingan.

b.  Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita?

Belum.. saya masih keteteran menjaga ritme dan memanage waktu. Terutama waktu-waktu ketika suami libur/ada dirumah. Ibadah-ibadah sunah banyak yang masih terlewatkan :'(

Namun, dengan adanya target, saya merasakan perubahan yang cukup besar dalam hidup saya, karena sebelum menikah saya cukup aktif di beberapa organisasi dan pernah mengalami fase kuliah sambil bekerja, sehingga saya sempat jenuh dan 'kebingungan' ketika memilih harus berada di rumah. Dalam kegagapan saya merawat serta mendidik anak, bertemu dengan kelas matrikulasi ini merupakan secercah cahaya yang saya nanti-nantikan. Kemudian hidup saya menjadi bergairah kembali, ingin segera menuntaskan target-target harian dengan maksimal. Hari terasa cepat berlalu dan saya bahagia menjalankannya

Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

I'll do my best! Bismillah..
Ganbatte! ✊🙏

c.Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Misi Hidup : memberikan semangat, membantu mengedukasi, serta mencoba memberikan inspirasi berupa tulisan (dan praktek) kepada lingkungan sekitar
Bidang : Ilmu parenting/Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Motivator, Penggerak/Aktivis

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

1. Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang 

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Saya menetapkan KM 0 pada usia 25 th, dan memaksimalkam kemampuan serta memantapkan komitmen saya agar mencapai 10.000 (sepuluh ribu) jam terbang pada bidang yang saya minati. 

Sejak saya resign (Desember 2015) setiap hari saya berproses serta mendedikasikan waktu saya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, serta menuliskannya bersama anak-anak dengan menggunakan fasilitas yang ada secara maksimal.  

Sehingga saya berharap, dalam jangka waktu kurang lebih 4 s/d 5 tahun, kelak akan terlihat hasilnya. 

Milestone hidup Nadya Sholihati Vaizal  :
KM 0 – KM 2 ( tahun 1 dan 2) : Menguasai Ilmu seputar pengasuhan anak
KM 2 – KM 3 (tahun 3) : Menguasai Ilmu seputar pengelolaan diri dan rumah tangga
KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar minat, bakat dan kemandirian finansial dll
KM 4 – KM 5 (tahun 5) : Menguasai Ilmu seputar berbagi manfaat kepada banyak orang

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Secara keseluruhan, sudah. Namun saya akan lebih mendetilkan lagi waktu serta ilmu apa saja yang perlu saya pelajari beserta strategi terbaiknya. Setelah ini, akan saya periksa kembali tugas tersebut dan menambahkan kekurangan yang ada, terimakasih banyak sudah mengoreksi dan mengingatkan. Alhamdulillah ❤

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Bismillaaah! Laa haula wa laa kuwwata illa billah :') ✊🙏

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. 

I will.. insyaa Allah..
I'm on the right track

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Bismillah semoga Istoqomah! ❤


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

Wednesday, December 4, 2013

Hidup, Pilihan?

"Ketika kamu memutuskan untuk melakukan suatu hal, kemudian secara tiba-tiba ada kesempatan lain yang mengakibatkan kamu berkeinginan kuat untuk memilih melakukan aksi yang pertama atau yang kedua, maka pilihlah yang kedua.

Karena jika kamu serius dan yakin dengan keputusan kamu yang pertama, kamu tidak akan tergoda dengan pilihan yang kedua."


Atau sebut saja ini tentang jodoh. Jodoh dengan pekerjaan, penjurusan, menentukan arah pulang, atau.. pasangan?

Karena, mungkin idealnya bagi seseorang memilih (si)apapun, yang membuatnya berakhir pada keputusan untuk berhenti memilih. Mengejar sesuatu yang pada akhirnya membuat dia berhenti mengejar (yang lain). Atau, mencari (si)apa saja yang pada akhirnya membuat dia berhenti mencari. Mungkin tidak sempurna, tapi dia bersyukur dengan sungguh atas (si)apapun itu.

Selamat Pagi, Cinta..

Siapa yang mengira saya sudah sampai pada tahap ini. Saya pun tidak. Tapi seperti biasa, kehidupan memang selalu tampak mengejutkan. Ada kejutan-kejutan baik, ada pula kejutan-kejutan buruk. Satu hal yang sepatutnya semua orang tahu dan jalani ialah, apapun kejutan itu, hadapi dengan positive dan bijak. Sehingga setiap kejadian, memiliki ‘add value’ bagi kehidupan kita, maupun orang lain yang menjadi terinspirasi atas hal tersebut.

Perjalanan yang berliku, celaan, amarah, iri, dengki, dan segala negative thingy, yang beredar disekitar orbitmu, sebenarnya memberikan pelajaran begitu berharga. Tuntutan dan tekanan membuat seseorang lebih dewasa dan bijak daripada sebelumnya, kalau ia mau mengambil pelajaran dari setiap detik yang ia jalani.

Cinta, persahabatan, hadiah, senyuman, pujian, doa, pencapaian baik dan segala positive thingy, yang melingkupi lintasanmu, menciptakan pribadi yang anggun dan berlaku positive jika ia bisa belajar dan menanggapi semua hal tersebut tanpa kesombongan dengan penuh rasa syukur.

Kali ini, marilah kita mempersilahkan diri kita untuk menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan. Biarkanlah segala hal positive berkeliaran didiri kita, apapun yang akan terjadi diluar sana. Tetaplah berbahagia dengan apapun yang telah kita miliki, dan berusahalah dengan baik atas apa-apa yang kita inginkan.

Selamat Pagi, Cinta..

reposting blog lama

Wednesday, July 24, 2013

What Why then Who! Just Be Fast!

Setelah membaca Tweet Salah satu orang sukses di twitland, saya jadi ingin mengulasnya sedikit. Well, sebelumnya mari kita simak apasih twitnyaa?

@TungDW: "Kalo udah tau What i Want, dan Why I Want, daripada mikir How nya, mending cari Who Already there! Learn dan kerjasama! Lebih cepat!"

Singkat Padat dan Jelas yaa.. ihik X)

Kira-kira begini konsepnya, what why = pelajari, who = cari partner, how = kerjasama! Secara waktu, usaha, bahkan juga modal seharusnya bisa berjalan efisien, yakan? Kemudian, bisa berkembang lebih banyak ide, yang diharapkan ide tersebut tersaring dengan pemikiran matang sehingga menjadi mutakhir. Kalau memang sudah satu tujuan dan satu konsep dengan si partner, ide kita (insyaAlloh) akan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Thats why two people is better than one!
Hihi. Tinggal actionnya, nih! Ayo kapan "ber-Action" para Generasi Muda! :'D

Teori ini berlaku untuk berbisnis atau segala bentuk kerjasama demi membuahkan hasil yang baik serta mencapai kesejahteraan bersama. Setuju? :)

Lalu untuk kepengurusan suatu acara, membuat event yang manfaat bagi lingkungan sekitar, butuh partner juga dong ya, supaya mau bersukarela menyediakan waktu, tenaga dan tanggung jawabnya demi keberlangsungan acaraa? Nah, daripada mikir HOW nya sendirian, kelamaan. Mending cari WHO ALREADY therenya dulu, kaan? Tanpa bermaksud, tidak memikirkan HOW nya sama sekali, karena tujuan kalimatnya ialah, dengan mencari who already-nya terlebih dahulu (setelah memahami what i want and why i want), maka akan membuat kita ber-action lebih awal, dan bergerak lebih cepat! Kobisa?! karena memikirkan How-nya bersama-sama. Sesimple itu? InsyaAlloh, iya :)

Lalu, kita coba contoh ruang lingkup yang lebih kecil namun efeknya besar.
Contoh:
Ingin berkeluarga.
#eeaa
(gue tau banget deh kalo yang baca temen-temen gue pasti ungkapan #eeaa itu semacam automaticly bunyi dari mulut mereka. Pffft!)

Kenapa What, Why dan Who?
What : Apa yang kamu mau dari pasangan. (gaperlu muluk, yang penting satu visi misi dalam berumah tangga, khususnya untuk kepentingan akhirot)
Why : Kenapa memilih kriteria/tujuan seperti itu? Apa yang diharapkan setelah mendapatkan (kriteria/tujuan yang sama) itu?

Sudah mengerti sampai disini?
Oke, lanjut.
Who : Nah! pada fase ini, kalau ingin efektif efisien, tinggal cocokin deh sama what dan why tadi ke objek nyata-nya. Walaupun, semua kembali lagi ke kodarnya masing-masing, tapi kan manusia itu wajib usaha. Ya gak?
Kalo udah cocok sama What dan Why nya tadiii, istikhoroh deh! #eheeaaa XD << eeaa lagi :p

Untuk step How-nya:
Gimana nikahnya, gimana resepsinya, gimana gedungnya, gimana lalalalala-nya, Ntar dulu!
Yang penting udah tau what why sama who nya. Kalo belum tau, ya gimana bisa ke step How. Iya apa iyaaaa? hmmm.. :)

Nah, terkadang proses How ini bisa terjadi sebelum fase who. Kenapaaaa? Karena ternyata si Who already nya, gak ready tuh! Salah target, dong? Jelas. Udah istikhoroh, hasilnya "engga", etapi kok maksa. Hasil "engga" ini, bisa jadi karena si Who (target) belum siap, atau gak cocok, atau bahkan beda visi misi. Nah, biasanya dari perbedaan-perbedaan tersebut, hasilnya udah keliatan insyaAlloh "engga" nih, etapi ya tetep maksa, alasannya cinta. Haduuh kaaak.. Yang lebih kasian lagi, kitanya malah jadi pusing mikirin How to make (S)He to be "The One Who Already" for you. Cape gak sih, kak? Agak oon juga sih, sebenernya. :|

Padahal, seperti yang sebenarnya kita sudah ketahui, Alloh itu kan udah nyiapin "Who Already for us" in one day. Kenapa juga jadi pusing-pusing mikirin yang jelas-jelas unready or not into you, sih?
Someday, (S)He is really into us itu bakal dateng, kok (insyaAlloh). Syaratnya cuma doa, usaha, iman (percaya) dengan kesemuanya aja. Setelah kesemuanya itu sudah dilakukan, tawakal.. Iyes, ngomong gampang, praktek ... gakmudah, tapi bukan berarti gakbisa, toh? ;) Semangats! ^^/

Tuesday, July 9, 2013

The End is The Beginning

Sebuah akhir sejatinya adalah sebuah permulaan. Permulaan kehidupan baru, atau permulaan wujud baru, atau permulaan kewajiban juga tanggung jawab baru. Sama seperti ketika air berakhir di titik 0 derajat celcius, maka ia adalah awal dari perubahan wujud menjadi es. Sama seperti akhir dari sekolah (lulus), merupakan awal dari melanjutkan tingkat sekolah yang baru. Sama seperti akhir dari masa kelajangan, menikah, adalah awal dari sebuah perjuangan hidup yang baru. Bahkan kematian, adalah awal dari sebuah kehidupan baru, kehidupan yang kekal.

Akhir dari sesuatu ada begitu banyak cara dan jalannya. Ada yang indah, ada yang berliku, ada yang pahit, ada yang mulus. Bukan, bukan kita yang dapat memilih bagaimana jalan itu seharusnya. Tapi, adalah kita yang dapat menentukan untuk tetap hidup dan memulai kehidupan baru yang lebih baik, atau terpuruk dan menyesali yang telah lalu.

Setiap akhir, sepatutnya menjadi pembelajaran kehidupan untuk melangkah dan berkembang lebih baik dari sebelumnya. Setiap akhir, memiliki hikmah, pesan moral, kekuatan, wawasan, memperkaya paradigma, membuka hati agar selalu lapang, apapun hasilnya. Ketika hasil akhir adalah baik, maka manusia dituntut untuk tidak besar hati, namun dicoba dengan berbagai hawa nafsu untuk berbangga diri, yang padahal, dirinya bukanlah apa-apa. Ketika hasil akhir adalah buruk, atau tidak seperti yang diharapkan, maka manusia dituntut untuk kuat, menerima dengan lapang, tetap bersyukur dengan ikhlas, namun dicoba untuk frustasi, depresi, tidak dapat mengendalikan emosi yang begitu menyesal dengan sebuah akhir. Yang seharusnya, akhir itu adalah cambuk untuk memulai awal yang baru, yang jauh lebih baik.

Ketika sesuatu berakhir, sekuat apapun perjuangannya, seburuk apapun hasilnya, serumit apapun jalannya, seperih apapun rasanya, tetaplah tersenyum, bersyukur dan yakin, bahwa Dia yang anda percaya, akan memberikan awal yang jauh lebih baik kedepannya.

Ketika sesuatu dimulai, seindah apapun bayangan anda, sehebat apapun rencana anda, dan sematang apapun pengalaman hidup anda, cobalah untuk tidak berjalan sendiri, titipkan hati anda secara utuh kepada Dia yang anda pintai, untuk menjaga hati anda, melindunginya, dan menetapkannya tetap dalam keimanan, dan bahagia untuk terus beribadah kepadaNya. Percayalah, suatu saat terjadi sesuatu yang buruk pada hidup, hati anda tetap utuh, indah, tidak akan ada lecet bahkan luka, satu milimeterpun.

Thursday, June 20, 2013

Musik? Just be wise!

#RepostDariBlogLama

Assalamualaikum tuips! *eh *kebiasaan :P
Halloow, apakabar semua! Udah lama ya nggak ngobrol disini. *maksudnya ngobrol apagitu selain autis tentang sebuah rasa :P #eeaah.
Baiklah, sekarang mau ngobrolin musik! Saya abis baca blog ini >> http://sagoeleuser5.wordpress.com/ daann.. makjleb! Penasaran? Mari kita bahas! :’D

Beberapa hari ini saya lagi suka dengerin musik. Biasanya sih, ya biasa aja. Gak suka, gak benci juga. Palingan jarang dengerin, dan emang nggak apdet juga. Tapi saya sih gak peduli, mau orang orang bilang selera musik saya rendah, lawas, atau apalah. Yang penting kan saya kece! *loh *dikeplak XD

Saya emang dengerin musik, based on kuping dan suasana hati aja. Kalo ditanya selera, lebih banyak dengerin qiroatus sab’ah sih *halah *dustaa XD lebih ke jazz, r n b, pop, musik klasik juga suka sih *yaitusihsemuanyaajanad lol. Nah saking suka semua, dan ga tau ini yang nyanyi siapa, sejarah kehidupannya gimana, yang penting enak dikuping dan sesuai dengan suasana hati saya, makanya saya jadi gatau apa-apa tentang musik. Ya dengerin aja.

Kalo lagi semangat, atau lagi males nyarinya ya, lagu lirik dan musik yang bikin semangat. Pun saat lagi jatuh cinta *eeaa. Kalo lagi patah hati, lebih suka baca Quran sih *asli *pencitraan XP

Okeh, bektudetopik. Musik, belakangan ini sedang saya nikmati. Sebelumnya? Hidup saya hampir tanpa musik. Ya, kadang kadang ada lah dengerin. Yang gak sengaja denger dlsb. Paling sehari ganyampe sejam dengerinnya. Kadang 10menit pun enggak. Nah, beberapa minggu ini, bisa berjam jam! Astagfirullooohh T.T kemudian, temen saya si @jihanhasby ngetwit sebuah link yang saya sebutkan diatas tadi. Saya kan kepo, eh pas pertama baca, kok sekilas ngomongin dalil. Tapi kok kece tulisannya. Gak berhenti dengan sekilas satu artikel, saya coba baca berkilas kilas artikel lainnya. *maksudnya beberapa artikel lain *bahasa alien banget deh Nad XD. Kok makin seruuuu~ akhirnya, sampailah saya pada satu artikel “titik rendah musik” ini saya coba bacanya gak sekilas. Saya baca, sampai habis! Wuoh! Baru baca pembukaannya aja, nih >>
Hadits ini betul-betul menohok saya. Diriwayatkan dari Abu Daud (4927): Lagu menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Deg! Kena banget.

Saya semakin tertarik. Perlahan saya baca. Sambil saya memikirkan efek setelah saya mendengarkan musik. Setelah terlalu lama mendengarkan musik biasanya saya jadi malas sekali beribadah sunah, pun wajib ikut keteteran. Entah, sebenarnya itu akibat dari musik atau memang keimanan saya yang lagi turun. Sesungguhnya, saya sudah pernah mendengar pun membaca beberapa dalil yang menerangkan musik itu tidak baik, dan blablabla. Tapi sungguh, saya baru tau bahwa efeknya menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Huft! Naudzubillahi min dzaliiik. Orang munafik itu, ya memang ada diantara orang iman. Dia juga mengerjakan ibadah wajib, serta sunah, bahkan! Tapi ya mau bagaimana, kalau selama ini beribadah, tanpa disadari, karena saya mendengarkan musik terlalu asik dan khidmat, benih benih kemunafikan itu tumbuh. Aaaaaaaaaaaaaa! Menyeramkan! T.T naudzubillahiindzalik ya Alloh.

Saya sudah pernah mencoba beberapa bulan hidup tanpa musik, dan memang sebenarnya kehidupan saya baik-baik saja tanpa musik. Jika sesekali terdengar, tanpa diresapi pun diacuhkan, musik menjadi tidak bermakna. Tapi, kalian pernah dengar, baca, atau nonton tentang pengkristalan molekul air yang dibacakan/diucapkan kalimat positif atau negatif? Ohiya, hal ini dibahas juga di blog tadi, blognya Bang Iqbal.

Pernah dengar Professor Masaru Emoto dari Jepang yang meneliti perubahan bentuk molekul air ketika dibacakan kalimat positif dan negatif? Molekul akan berubah menjadi bagus ketika dibacakan kalimat positif, dan sebaliknya. Teori sepertinya juga bisa menjelaskan kenapa kita dilarang bego-bego-in anak kecil (mengatakan “bego lu!” atau semacamnya ke anak kecil), karena otak si kecil akan mengolahnya untuk menjadi seperti yang orang lain katakan. So watch out your mouth!

Tidak selesai sampai disana, kenyataannya memang banyak lagu-yang-bahkan-pendengarnya tidak peduli apa artinya. Suka musiknya, maka mari dengarkan. Saya termasuk orang yang sangat pemilih terhadap lirik musik. Saya mungkin tidak punya selera yang bagus dalam bermusik, tapi setidaknya saya sangat memilih lirik-lirik berkualitas, yang setidaknya berefek baik bagi tubuh saya. Yap, berdasarkan riset tersebut, maka saya menjadi pemilih, pemilih terhadap lirik musik.

Kemudian. Beberapa dalil (dari blog nya Bang Iqbal) yang lagi-lagi menerangkan tentang titik rendahnya musik:

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS Luqman 6-7)

Perut yang dipenuhi nanah busuk itu lebih baik daripada dipenuhi syair (Muslim 2257).

Pernah denger berita seseorang menusuk anaknya 11 kali lalu membunuh istri dan putrinya akibat setelah mendengarkan lagunya Eminem? Saya pernah membacanya. Dan saya membaca berita itu lagi di blog nya Bang Iqbal.

So, Nadya.. hidup adalah pilihan. Pilih-pilih musik yang baik. Yah, mungkin saya akan menjadi sangat pemilih sekarang, juga harus harus harus mengurangi intensitasnya. Pilihlah yang benar. Pilihlah yang tidak bertentangan dengan Quran Hadits. Bismillah! Niati perjuangan!

Friday, April 5, 2013

Isi Kepala session 1

Saat itu saya juga pernah berpikir bahwa, apa sih orang-orang ini, terlalu mengejar dunia. Kepada mereka yang mengaji Al-quran dan Alhadist secara berjamaah namun, sangat giat mencari dunia. Well, hal ini sangatlah lumrah bagi saya yang tiga tahun terpenjara suci dalam sebuah lingkungan yang biasa disebut dengan pesantren. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk membentuk pribadi, pola pikir, karakter, attitude dan mengisi kekosongan ilmu pastinya. Banyak sekali manfaat yang saya dapat, dimana anak-anak lain seusia saya yang diluar lingkungan pesantren tersebut gak akan pernah dapatkan apa yang sudah saya dapat disini.

Pertama, mungkin saya akan bercerita sedikit tentang diri saya waktu masih duduk dibangku SMP. Saya bersekolah di SMPN 2 Depok. SMP Negeri favorit Depok. Yang ujian masuknya aja, katakanlah ‘naujubileh’. Anak-anak usia pelajar begitu membludak di Depok. Sekolahnya terbatas. Jadilah,sekolah favorit adalah ajang adu otak dari sekian ribu pendaftar. Disana saya hanya sebatas butiran debu *halah* :P yes, gak terkenal sama sekali. Yah, hanya cukup aktif, dikelas. Ikut organisasi pengurus kelas gitu maksudnya? Haha! masuk 10 besar di tiap semester, tapi bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Minder. Kuper-kurang pergaulan. Introvert. Pulang sekolah langsung pulang gapake nongkrong. Tertib. Taat peraturan sekolah, takut sih lebih tepatnya.hehehek. Tergolong anak yang sangat pintar, tidak. Jauh malah. Tergolong anak yang banyak prestasi juga tidak. Boro-boro berprestasi, ikut lomba pun gak pernah. Hanya anak-anak yang prestasinya masih terbilang lumayan, jika diantara 43-45 orang siswa dikelasnya. Saya lulus, tidak meninggalkan apa-apa. Bekas setitik penghargaan pun untuk SMP saya. Saya lulus, ya lulus saja, sudah. Punya beberapa teman akrab, tergantung kelasnya. Setiap semester kelas berubah. Setiap semester pula teman dekat saya berubah.

Kemudian, Gadingmangu, Jombang. Pesantren itu. Yang memberikan banyak manfaat untuk saya. Saya anak baru. Telat daftar. Baru masuk sekolah setelah sekolah sudah 2 minggu berjalan. Mudah saja saya menjadi terkenal, karena saya anak baru. Singkat cerita, saya aktif dikelas, saya berprestasi, saya pernah mendapat peringkat pertama. Senangnya bukan kepalang! Saya mulai aktif di organisasi. Saya sering ikut lomba. Saya menang lomba Mading, lomba debat antar kelas. Teman-teman saya orang-orang ‘keren’ pula. Saya …, dengan seluruh kerendahan hati saya, persilahkan saya mengatakan, saya pernah menjadi ‘bintang’ di SMA. Gak kenal saya? Wah, anda kurang gaul, bung. Hahahahaha. #okeskip.bukan itu pointnya, pointnya adalah pesantren sangat banyak membentuk pribadi, karakter, pola pikir, paradigma, keimanan saya sampai saat ini. Sangat bermanfaat, lebih dari sekedar menjadi ‘bintang’ saya banyak sekali belajar tentang kehidupan disana. .

Sekarang saya suka mencoba mengerti kenapa orang tersebut bersikap A, padahal menurut saya sebaiknya B ternyata karena latar belakang kepribadian, pola pikirnya. Saya mulai bisa menimbang-nimbang, apa yang akan dilakukan si introvert atau si extrovert kalau ada kejadian seperti ini. Karena saya pernah mengalami dua kepribadian tersebut. Apa yang akan dipikirkan oleh si ‘butiran debu’ dan si ‘bintang sekolah’ jika ada dalam posisi ini. Saya meraba-raba. Merasa tahu, walaupun mungkin tidak selalu tepat. Tapi saya merasa diri ini menjadi kaya karena semasa hidup saya pernah melewati dua fase tersebut. Saya akhirnya juga mengerti, kenapa orang-oranag jaman sekarang menganggap kesalahan besar, menjadi kecil. Atau sebaliknya, kesalahan kecil, menjadi sangat besar. Karena saya pernah tinggal di dua atmosfer yang berbeda, didalam pondok dan diluar pondok. Didalam, kesemua hal mengenai dosa menjadi terlihat sangat besar dan memalukan, amalan kecil menjadi terlihat besar, dan sekarang (diluar pondok) amalan besar pun, malah terlihat remeh. Memakai kerudung menutupi dada, contoh mudahnya. Itu amalan wajib. Tapi kemudian begitu remeh disini. Dikota saya sekarang tinggal. Dulu, jangankan remeh, menyelempangkan sedikit saja kain kerudung anda, anda akan di cap negative oleh hamper seluruh penghuni ponpes. Kejam sekali. Kemudian sekarang tinggal di luar pesantren, saya mengerti fenomena serta sebab-akibat yang terjadi di sekitar saya. Saya tidak mengklaim diri saya lebih tau dan lebih hebat. Saya hanya merasa, paradigma saya menjadi luas. Toleransi saya menjadi lebih besar, terhadap kesalahan, kesalahan setiap orang. Mereka punya alasan dan latar belakang kenapa mereka melakukan hal tersebut. Kesalahan tersebut tidak benar, bukan berarti saya membenarkan kesalahan tersebut, tetapi saya mulai bisa mengerti sebab apa orang-orang melakukan kesalahan atau tindak tanduk seperti itu, seperti itu. Dulu, mungkin hitam tetaplah hitam, putih tetaplah putih. Karena lingkungan mendukung untuk tetap menghitamkan si hitam. Dan memutihkan si putih. Sekarang, semua abu-abu. Ke-idealisme-an saya dahulu, dan (menurut saya) kekolot-an saya tentang cara berpikir dari doktrin-doktrin yang setiap hari diberikan mengenai akhirot lebih penting, (yang bahkan benar-benar menyepelekan urusan dunia, sekolah contohnya) membuat saya semakin antipati tentang semua hal yang berbau ‘mengejar dunia’. Seseram itu? Iya. Sesering itu di doktrin, bahkan di praktekkan, bahwa dunia tak lebih dari sebelah sayap nyamuk? Iya. Ada beberapa guru yang masih netral dan masih memberikan semangat bahwa dunia its still important, hey dude. How can you exist in this era, if you just doing nothing for your self. For this life. Yang mana kita tinggal, berteduh, menumpang di sini (dunia) untuk menabung amal agar bahagia di akhirot nanti. Dan menabung amal, butuh uang. Butuh potensi. Butuh ‘kecerdasan dunia’ untuk memperjuangkannya.

Kuliah, bekerja, saya semakin tumbuh. Semakin dewasa. Saya belajar lagi bahwa hidup, tidak selalu hitam dan tidak selalu putih. Tidak berarti saya membenarkan si hitam dan menyalahkan si putih. Tapi ketika hitam, maka mungkin sekali menjadi putih. Dan ketika putih, bukan tidak mungkin juga tanpa kecacatan si hitam. Dunia punya rahasia tentang pribadi setiap mahkluk yang tinggal di dalamnya. Saat ini anda berdosa, besok anda meleburnya dengan beristigfar. Sekarang anda beramal sholih sangat besar, besok lebur karena membicarakan orang lain. Ya, akhirnya dunia sekompleks itu. Serumit itu. Tidak semudah, anda berdosa karena anda blablabla. Anda termasuk golongan orang-orang shalih karena anda beramal blablabla. Tidak. Anda tidak mungkin tau amal dan dosa seseorang. Malaikatpun tidak memiliki garansi bahwa hitungannya akan tepat. Ada faktor hati, yang bisa membuat seseorang sombong dan berharap pujian. Atau tulus, mengharap ridhonya saja. Ada hati yang benar-benar bertaubat lagi takut. Dan karena hati pula, yang bertaubat demi mendapat ampunan-sejenak, dan berniat melakukannya kembali, karena menghapus dosanya sangatlah mudah. Manusia bisa saja menilaimu sangat baik, malaikat bisa saja kau tipu, tapi Alloh tak bisa kau curangi. Hati, hanya dia yang mengerti. Hati-hatilah terhadap hati. ia begitu cepat berubahnya, lebih cepat daripada air yang dimasak hingga mendidih.

Pemikiran kolot mengenai ‘mengejar dunia’ pun berubah. Dialah Papa yang terus mengajarkan aku tentang kehidupan. Bersyukur dengan sangat kepada Alloh, ditakdirkan menjadi seorang anak perempuan dari Bapak Irvaizal. Beliau mungkin tidak meninggalkan harta yang seberapa untuk anak-anaknya, beliau mungkin tidak menjanjikan kemewahan hidup untuk dijalani kemarin, saat ini dan nanti, tapi beliau mengajarkan aku tentang hidup. Tentang keseimbangan hidup. Tentang mengantisipasi hidup. Tentang menjalani kehidupan. Tentang bersyukur atas apa saja yang disajikan oleh kehidupan. Satu pesannya, “setiap orang punya jalur perjuangannya masing-masing. Tidak bisa si paspasan yang banyak ilmu menyuruh si kaya supaya terus mengaji yang sangat rajin diatas rata-rata orang sekitar, seperti si miskin. Si kaya mungkin Alloh kodar waktu longgarnya sedikit, tapi ia mampu bershodakoh yang besar, ya lakukan saja. Itu termasuk jalan perjuangan juga. Tidak bisa si pendiam menyuruh si aktif terus mengaji mengikuti peraturan yang ada, karena si aktif punya jalur perjuangan lain yakni membuat acara-acara yang ditujukan utk melestarikan Quran Hadist. Tapi tetap, dengan sesuai syariatnya. Sesuai perijinannya. System yang sudah ada tidak bisa dilanggar, tapi bisa disesuaikan dengan objek yang menjadi bagian dari system. Si kurang pintar tidak bisa menyuruh si pintar untuk melakukan sesuatu yang dibawah kualitas pemikirannya. Justru si pintar punya jalur perjuangan dari cara berpikirnya. Agama membutuhkannya. Semuanya, memiliki jalan perjuangannya masing-masing, amalan andalan masing-masing, termasuk kesalahan masing masing. Maka seimbanglah dunia. Seimbanglah jalan perjuangan. Seimbanglah kesalahan dengan amal baik. Seimbanglah kecerdasan dengan ke-kurang cerdas-an. Seimbanglah si kaya dengan si paspasan. Atmosfer dunia seimbang. Sinerjikan harmoni. Hindarkan perbedaan, atau malah memaksa sebuah kesamaan yang sejatinya semua makhluk itu sudah dicetak berbeda dari Penciptanya.