Showing posts with label Septi Peni Wulandari. Show all posts
Showing posts with label Septi Peni Wulandari. Show all posts

Tuesday, May 1, 2018

Tugas #3: Membangun Karakter Anak lewat Dongeng/Cerita

Sebenarnya setiap malam/siang hari sebelum tidur, saya nggak absen untuk berdongeng/bercerita. Tetapi karena ada kesibukan ini itu rasa malas selalu saja datang menghampiri ketika ingin menulis tugasnya di sini. Di hari ke tiga challenge ini saya bercerita tentang sebuah kejujuran. Bagaimana kelinci pada akhirnya jujur pada Pak Tani bahwa dia yang mencuri wortel, timun serta tomatnya.

Tentu efek yang diharapkan ialah, menanamkan baiknya sebuah kejujuran pada S, dan sekaligus mensugesti dirinya bahwa jujur, sekalipun buruk itu lebih baik diutarakan daripada berbohong dengan dalih kebaikan.

Saturday, April 21, 2018

Tugas #2: Membangun Karakter Anak lewat Dongeng/Cerita

Cerita/Dongeng malam ini tentang Kelinci, Tupai dan Gajah.

Kelinici dan Tupai kelaparan, padahal mereka sudah berusaha mencari makan, tetapi belum menemukannya. Hingga akhirnya mereka berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan rizki yang cukup dan barokah kepada mereka.

Tiba-tiba Gajah datang, ia baru saja dari tepi sungai yang ada di dalam hutan. Gajah membawa 2 buah apel merah yang telah ranum. Gajah memberikan Apel tersebut kepada Kelinci dan Tupai. Mereka senang sekali, dan mengucapkan terimakasih pada Gajah, serta bersyukur kepada Allah, karena telah mengabulkan doa mereka dengan sangat cepat.

Saat berdongeng/bercerita dengan S, kita lebih sering berinteraksi (alias diinterupsi melulu, hahaha). S anak yang punya rasa penasaran cukup tinggi, bisa mengkomunikasikannya dengan baik dan punya standar tertentu atas beberapa hal, maka selain bertanya ia juga sering mengoreksi.

Sedikit warning bahwa "emaknya lagi mau cerita dulu, nih," beberapa kali dilakukan agar jalannya cerita runut sebagaimana bayangan ibunya.

Walaupun kadang gemes juga diinterupsi setiap cerita, but ya, saya bersyukur. Dia punya curiosity yang tinggi, sense of reality, imagination dan daya analisa yang Masyaa Allah, terbilang baik di usianya yang baru 2 tahun 11 bulan ini. Alhamdulillah...

#BundaSayang
#IbuProfesional
#GrabYourImagunation
#Level10
#KuliahBunSayIIP
#day2

Thursday, April 19, 2018

Tugas #1: Membangun Karakter Anak melalui Dongeng (atau cerita/kisah-kisah)

Amih: S mau diceritain apa malam ini?
S: Mmm.. apa ya? Cerita tentang kumbang, Allah, tentang S, katak beracun, nabi, semuanya.
A: Wah, banyak amat? Cerita apa dulu, ya.
S: Allah aja, Allah.
A: Hmm.. Allah itu Maha Baik, ya?
S: Iya...
A: Allah sayang sama S
S: sama amih juga, sama abih juga.
A: iya, Allah sayang sama kita semua, ya?
S: iya...
A: Allah kasih S amih dan abih, untuk menyayangi S, merawat serta mendidik S.
S: Iyah...
A: Allah juga kasih S mata, hidung, mulut, tangan ...
S: Jidat, kuping, pipi, ketรจk juga ya, Mih?
A: Hahaha iya, masyaa Allah hebat. Iya, Allah kasih seemuanya untuk S karena Allah sayang banget sama S, ya?
S: Iyaa.. Amih juga ya, Abih juga. Allah sayang.
A: Iya, Alhamdulillah... karena Allah udah sayang sama kita, makanya kita harus rajin beribadah, ya? Rajin so...?
S: ... lat.
A: Rajin nga?
S: ... ji.
A: Rajin apalagi? Rajin sodakoh, ya? Sodakoh itu yang masukin uang ke dalam kotak di mesjid. Inget nggak S?
S: Ohh.. kotak yang ada rodanya itu, mih?
A: Iyaa.. kotak yang itu, sodakoh ke mesjid, ya?
S: Iyaa...
A: Kalo kita rajin beribadah, nanti Allah tambah sayang sama kita, ya?
S: Iyaa...

Cerita sebelum tidur ini, Alhamdulillah sudah lama saya praktekkan untuk S. Kalau para orang tua biasanya membacakan buku, untuk saya pribadi bercerita dengan mengarang bebas seperti ini lebih fleksible dan nggak harus ribet dengan perintilan buku-buku juga lampu yang harus terus menyala padahal sudah injury time menuju tidurnya S. S terbiasa tidur dalam keadaan gelap, sehingga lampu yang menyala terang membuat ia sulit terlelap.

Bercerita bebas sesuai keperluan orang tua seperti ini sedikit banyak membantu saya untuk menanamkan beragam hal yang ingin saya tanamkan pada diri anak, yang bahkan efeknya bisa sangat maksimal karena dilakukan sesaat sebelum anak terlelap. Alhamdulillah, Masyaa Allah.

Saya terbiasa menceritakan 3 versi cerita, malam ini cerita pertama tentang Allah, cerita kedua tentang S, cerita ke tiga tentang Amih, Abih dan S, yang semua tema tersebut adalah pilihan S sendiri. Bagian saya adalah mengarahkan cerita kedua tentang baiknya membantu orang tua, dan cerita ke tiga tentang jalan-jalan kami ke kebun binatang.

Alhamdulillah, Masyaa Allah.

#KuliahBunsayIIP
#Level10
#GrabYourImagination
#IbuProfesional
#BundaSayang

Saturday, April 14, 2018

Materi #1: Komunikasi Produktif



Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata  masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I’m responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :

“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)


b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:

“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya

✅Kalimat Produktif :

“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.


c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :

“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :

“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”


d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :

“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :

“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”


e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.


f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :

“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:

“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”

“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:

“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”


h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:

“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:

“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.


I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :

“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :

“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”


j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :

“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”

✅kalimat produktif :

kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?


k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :

“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :

“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:

Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š

Sunday, February 4, 2018

Masih Membacakan Cerita dan Menanamkan Allah Sang Pemberi Rizki

S masih suka buku cerita kemarin, so kami masih terus membacakannya, lagi dan lagi. Alhamdulillah. Mudah-mudahan ceritanya mendarah daging sehingga dia bisa menerapkannya dengan baik.

Malam ini kami ke pengajian, ia belajar lagi tentang shodakoh di dalam masjid. Alhamdulillah. Yas, every little thing is matter. Every little thing. Semoga menjadi ingatan yang baik dalam otaknya.

Tak lupa saya menanamkan kembali bahwa Allah Maha Kaya. Dia-lah Sang Pemberi Rizki. Saya juga memberitahunya bahwa Allah bisa memberikannya apapun yang dia mau, jika Allah menyayanginya. Allah adalah pemilik dunia seisinya. Allah bisa memberikan apapun kepada siapapun. Kemudian dia berdoa, meminta salah satu mobil kecil di Alfamidi. Saya senang sekaligus tersentuh. Masyaa Allah. Semoga kelak selalu seperti itu. Saya juga menambahkan Allah akan memberikan apapun kepada orang-orang yang disayangiNya. Maka jadilah orang yang disayangiNya, dengan cara rajin shalat dan berdoa. Ia hanya mengangguk mengiyakan. Dia mendengarkan dan mengiyakan. Alhamdulillah. Semoga setiap kata-kata baik yang terucap bisa menancap dalam hatinya. Menjadi pondasi dalam jiwa kecil yang tanpa dosa. Aamiiin..

#Tantangan10Hari
#day4
#KuliahBundaSayang
#CerdasFinansial
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

Friday, February 2, 2018

Menabung dan Rejeki (Part 2, Cerdas Finansial Usia Dini)

Assalamualaikuum. Hola, agaaain!
Masyaa Allah ya, amih sekarang jadi rajin ngeblog, (giggles). Mudah-mudahan istiqomaah...

Kenapa sekarang ngerjain tugasnya di blog? Karena tugas #30dwcjilid11 minimal 200 kata. Dan di instagram 200 kata tuh, mefet syekalee~ Nggak bisa nulis hestek, kzl.

Jadi, marilah kita aktifkan lagi blog lama yang sudah usang ini. *halah*

Yap, masih berkesinambungan dengan tema kemarin, kali ini S saya ajarkan tentang menabung. Saya ngerti banget sih, anaknya belum paham makna dari menabung. Tapi paling nggak, saya mulai mengenalkan dia tentang perilaku dan kebiasaan baik ini.

Sebelumnya, tentu saya jelaskan mengapa kita harus menabung. Apa yang bisa kita dapatkan jika rajin menabung. Awalnya kami memang berencana ingin membelikan S sebuah celengan, tapi kemudian kami berubah pikiran, bagaimana kalau kita buat saja sendiri celengannya, yay!



Celengan kami terbuat dari kaleng permen m*ntz, lalu abih menggunakan pisau untuk melubangi tempat memasukkan uang serta merekatkan tutup kaleng dengan lem korea. Hasilnya not bad, lah. S senang sekali.


Berhubung saya memang senang mengumpulkan receh dalam satu wadah, maka receh tersebut pun akhirnya masuk ke dalam celengan baru S. S senang sekali memasukkan uang ke dalam celengan. Ya, mungkin yang ada dipikirannya saat itu adalah bermain, dia belum benar-benar mengerti esensi dari menabung. Tapi kebiasaan ini nyatanya bikin dia ketagihan. Setiap liat uang "nganggur" rasanya ingin dia masukkan dalam celengan. Alhamdulillah, dia punya kebiasaan baik, yakni meminta ijin terlebih dahulu ketika ingin melakukan sesuatu, dalam kasus ini, memasukkan uangnya. Kalau tidak, uang kami bisa habis ia masukkan ke dalam celengan semua. Lol.



Memperkuat pengertian uang sebagian kecil dari rejeki. Rejeki itu harus dibagi-bagi.

Saya juga menjelaskan bahwa uang hanyalah senagian kecil dari rejeki yang Allah berikan kepada kami. Setelahnya, saya membangun kebiasaan berbagi, yang tidak hanya dengan manusia tetapi kepada makhluk hidup lainnya, salah satunya ayam tetangga.

Habit membagikan beras atau makanan-makanan yang tidak dihabiskan S kepada ayam, sedikit banyak berpengaruh pada karakternya yang tidak sulit untuk berbagi rejeki, makanan khususnya.



Alhamdulillah, Masyaa Allah. Hanya Allah yang berikan serta mudahkan proses ini dan itu, sehingga S bersemangat menjalani tahap demi tahap pembelajaran yang dilakukan orang tuanya.

Mudah-mudahan Allah paring kebarokahan dalam setip inci ikhtiar kita kepada anak-anak dan keluarga. Aamiin.

#tantangan10hari
#level8
#kuliahbundasayangiip
#rejekiitupastikemuliaanyangdicari
#cerdasfinansialusiadini
#day2
#30dwcjilid11
#day12
#squad7

Thursday, February 1, 2018

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI (Part 1)


Assalamualaikuum, Hola. Tantangan 10 Hari, level ke 8, Kuliah Online Bunda Sayang IIP kali ini tentang mendidik anak cerdas finansial sejak dini.

Periode tugas dimulai dari 1 Februari 2018 sampai 17 Februari 2018, dengan syarat minimal kelulusan mengumpulkan 10 tugas.

Tema kali ini cukup greget, yhaaa. Secara emaknya S hobi dengan tema ini, tapi (kayaknya) belum serius mencoba mendidik S tentang masalah rizki atau perduitan ini.

Ternyata (sesuai materi yang diberikan) mendidik finansial anak sejak usia dini itu bisa dimulai dari memahamkan anak-anak bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki. Kemudian bisa dilanjutkan dengan pengelolaan uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan. Yap, semuanya dimulai dari ibu yang mau belajar untuk melek finansial dan teguh dengan prinsipnya. Semoga, dimulai dari tigas ini, saya, abihnya S dan S bisa bertumbuh bersama sehingga kami dapat mengelola uang dan bertanggungjawab terhadap bagian rejeki yang didapatkan dari Allah SWT.

Tugasnya apa saja kali ini?

๐ŸŽŽ Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak:

๐Ÿ‘ถ Anak usia dini (<7th)

Buatlah proyek pengenalan menabung, proses menabung dan membelanjakan tabungan. Perkuat bahwa semua rejeki berasal dari Allah. Ceritakan pengalaman bunda dalam mengenalkan konsep rejeki pada si kecil melalui tulisan dan atau foto.

Nah, karena S masih 2 tahun 8 bulan (kurang lebih, ya. Saya malas menghitung ๐Ÿ˜‚), sebisa mungkin saya akan sharing tentang proses serta pengenalan rejeki/menabung tersebut. Namun, jika tidak ada bahan tulisan atau bingung mau menulis apalagi tentang menabung vs anak, mungkin saya akan sharing tentang tugas lain yang diberikan kepada yang belum menikah atau belum memiliki anak.

Seperti tugas di bawah ini.

๐Ÿ‘ฉ Bagi yang sudah menikah belum memiliki anak serta bagi yang belum menikah:

Ceritakan pengalaman anda dalam mengelola keuangan. Catatlah proses belajar membuat pencatatan keuangan dan membaginya ke dalam kantong belanja, infaq, dan tabungan. Identifikasi catatan keuangan Anda apakah sudah baik, perlu review ulang ataupun ada bocor halus dalam pengelolaannya.

***

Hari ini sebenarnya saya dan suami sudah berniat akan membeli celengan. Namun, kami lupa karena sibuk dengan belanjaan lainnya. Sayang sekali, padahal saya berharap hari ini sudah ada progres tentang celengan.

Walau begitu, saya mau sharing tentang tabungan S yang diberikan oleh Abahnya (baca: kakek). Abah memberikan S tabungan 1000 IDR per hari, tabungan ini sudah berjalan kurang lebih sejak 2 tahun yang lalu. Alhamdulillah, walaupun proses mendidik belum dimulai, tetapi progres menabungnya sudah dimulai sejak S masih bayi.

Disamping itu, kami sebagai orang tua yang basic pendidikannya berkecimpung di dunia keuangan, cukup melek finansial sehingga sudah merencanakan dan membeli reksadana syariah untuk dana pendidikan S, ke depan.

Mudah-mudahan apapun ikhtiar yang kami lakukan bisa bermanfaat untuk S dan insyaAllah adik-adiknya, kelak.

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#Day1

Tuesday, April 4, 2017

Aliran Rasa kelas Matrikulasi IIP


Institut Ibu Profesional.

Membaca sebuah nama komunitas ibu-ibu itu terpampang di timeline media sosial saya saja sudah membuat saya bergidik. 

Ibu? 
Profesional? 
Benarkah ada seorang Ibu yang Profesional? 
Tidak mungkin. 
Pasti mereka pernah melakukan kesalahan. Kenapa pasti? Karena simply, kullu bani Adam khoto'un, setiap anak turun Adam pasti melakukan kesalahan.

Lalu apa yang dimaksud Ibu Profesional? Bagaimana mungkin seorang Ibu bisa profesional? Seperti apa yang dipelajari Ibu-ibu itu hingga bisa menjadi profesional? 

Betul, dengan membaca nama komunitasnya saja sudah cukup membuat saya penasaran dengan siapa pendirinya, apa agendanya dan seluk beluk di dalamnya.

Hingga sampailah saya pada kesempatan mengenal lebih jauh tentang IIP melalui kelas Matrikulasinya. 

Excited? Tentuu. 
Bercampur dengan rasa khawatir dan takut akan semua kekurangan-kekurangan saya sebagai seorang ibu dan istri.

Kelas Matrikulasi kembali membawa saya berada di titik 0 hidup saya. Mengingatkan kembali tentang kodrat dan fungsi yang sebenar-benarnya sebagai perempuan. Bukan, kodratnya bukan hanya sebagai tempat dilahirkannya keturunan saja, melainkan juga sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Mengapa ini penting, karena tanggung jawab membawa anak kurang lebih 9 bulan dan rasa sakit melahirkan belum seberapa dibanding tanggung jawab akan adab, akhlak, aqidah, cara berpikir si anak yang merupakan titipan Allah langsung kepada sang baby sitterNya di dunia yakni orang tua, khususnya ibu. Dan rasa sakit melihat kegagalan anak tentang pemahaman dan amalannya sesuai Alquran dan Alhadits jauh lebih mengerikan dibanding peristiwa melahirkan. Fungsi wanita, bukan hanya tentang masak dan bersolek, jauh dari itu, kita sedang berproses membangun sebuah peradaban lewat tangan kita sendiri.

Dalam banyak sisi kehidupan, tentu kita seringkali mendapat nasihat, petuah, petunjuk yang terbaik untuk menjadi seorang hamba, anak, istri maupun ibu. Maka, bersama kelas matrikulasi IIP, kita dimantapkan kembali tentang ilmu-ilmu yang sudah kita peroleh. Disadarkan tentang mengolah informasi, fokus, ikhlas, mengenal dan bisa mengukur potensi diri serta didukung untuk mencapai mimpinya yang bermanfaat untuk banyak orang. Merekonstruksi cara berpikir agar mudah dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Menambah jam terbang supaya ahli dibidangnya, yakni menjadi seorang istri dan ibu. Serta kita dirangkul untuk membersamai teman-teman yang lain sebagai Ibu yang akan membangun sebuah peradaban yang lebih baik. 

Luar biasa. Alhamdulillah. Alhamdulillahi robbil 'alamiin.

Kita akan menemukan teman-teman dengan satu tujuan. Perkumpulan sehat yang memiliki support system dan pondasi yang baik. Dan yang paling penting, berjuang bersama-sama berharap akan ridhoNya. Masyaa Allah.

Saat kita tahu dan sadar apa misi spesifik hidup kita, kita menjadi lebih tangguh, lebih efektif dan mantap saat melangkah. Tidak mudah diombang-ambingkan tren atau informasi yang terlalu banyak hilir mudik di kehidupan. Niat kita menjadi tegak, lurus, lillahi ta'ala. Lebih kuat dari yang sebelumnya, insyaAlloh. 

Menjadi seorang Ibu adalah menjadi pembelajar sejati. Ibu yang tangguh adalah ibu yang memiliki kecerdasan adversity. Kecerdasan untuk selalu berikhtiar dalam mengatasi kesulitan hidup, ketahanan dalam menjalani masalah dan mencari solusinya dengan tenang dan sabar.

Menjadi seorang manusia berarti siap untuk berjihad, siap bermanfaat untuk banyak orang. Karena tentu saja, kita butuh benih yang ditanam untuk kemudian bisa dipanen. Kita yang butuh untuk menjadi bermanfaat, walaupun orang lain tidak merasakannya. Kita yang butuh berdakwah, bukan agama yang butuh kita. Menjalani misi kehidupan yang tidak bertentangan dengan mimpi pribadi. Menginspirasi dan berbahagia atas pencapaian dan kebermanfaatannya sebagai manusia dengan mukhlis lillahi ta'ala.

Kelas matrikulasi ini menyajikan materi, tugas, tenggat waktu, pembahasan serta tanya jawab yang dipandu oleh teman-teman seperjuangan yang memulai lebih dulu dengan segudang ilmu yang mereka dapatkan dari ibu Septi dan tim-nya. Dibimbing untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.

Menjadi Ibu profesional bukan berarti menjadi ibu yang tidak pernah salah. Melainkan, menjadi ibu yang mau terus belajar dan berproses untuk memantaskan diri menapaki universitas kehidupan dengan kecerdasan adversity yang baik, ilmu yang mumpuni, mimpi yang direalisasikan serta kerendahan hati dan niat yang tulus demi mendapatkan apresiasi dari Allah semata.

Dalam prosesnya tentu tidak mudah, selalu ada khilaf dan salah bahkan mungkin berdarah-darah. Tapi jangan sampai semua itu menjadi alasan untuk menyerah. Kita tidak boleh kalah!

Salam Ibu Profesional.



**
Terimakasih tak terhingga untuk Ibu Septi, Pak Dodik dan para fasilitator IIP kelas matrikulasi. Kalian luar biasa, mudah-mudahan Allah selalu beri hidayahNya kepada kita.

Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiroo untuk suami tercinta dan anak laki-laki tersayang amih atas support dan kerjasamanya. Kita bisa! ❤

Thursday, March 23, 2017

NHW #9: BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Nice HomeWork #9

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana,  lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.


Membuat Grup Whatsapp yang produktif dan edukatif

Status sosial venture ini sudah berjalan. Dan akan terus saya kembangkan. Mungkin kelak akan saya tambah dengan kuliah whatsapp para profesional atau diadakan pertemuan untuk sharing/diskusi sesama grup sehingga ilmu yang disampaikan lebih 'shahih' dan menancap di hati.

Mengedukasi Perencanaan Keuangan Kelurga yang Syar'i

Status sosial venture ini sudah berjalan. Saya telah mepresentasikan perencanaan keuangan syariah di dua tempat untuk remaja masjid, khusus keputrian salah satunya. Dan satu tempat lagi di pengajian wanita (Ibu-ibu dan remaja puteri). Saat ini materi yang ada tentang Perencanaan keuangan keluarga, insya Alloh akan saya kembangkan pula materi untuk mahasiswa serta first jobber yang sedang senang-senangnya menikmati hasil jerih payah sendiri. Sehingga jika dibutuhkan, materi tersebut bisa disampaikan kepada para remaja, khususnya keputrian. Saya berharap pada tahun ini bisa memberikan setidaknya 3 presentasi di tempat yang berbeda.

Mengedukasi serta Memotivasi Remaja Puteri untuk Menikah dengan cara Syar'i

Status sosial venture ini belum berjalan. Mengingat awal mula terbentuknya sebuah generasi adalah dari menikahnya sepasang laki-laki dan perempuan, maka perihal bertemu, berkenalan hingga akhirnya memutuskan untuk menikah adalah sesuatu yang harus dimiliki ilmunya dahulu sebelum diamalkan. Untuk itu saya berkeinginan menjadi salah satu orang yang bisa memberikan ilmu tersebut sesuai tuntunan Quran dan Hadits. Untuk saat ini, insyaAlloh saya akan mengemas materi-materi yang syar'i dan mudah diterima remaja-remaja putri, khususnya, setelah itu saya akan menawarkan materi tersebut untuk disampaikan ke beberapa masjid-masjid yang memiliki organisasi keputrian yang masih aktif. Saya berharap pada tahun ini bisa memberikan setidaknya 3 presentasi di tempat yang berbeda.

Menulis serta Memproduksi Buku Cerita Anak dengan harga terjangkau 

Status sosial venture ini masih berupa gagasan dan belum berjalan. Saya juga ingin memberikan solusi/perubahan lewat tulisan-tulisan.

•••

Sebenarnya ada banyak sekali gagasan-gagasan yang bermunculan di kepala, karena memang dominasi saya ada pada generating idea. Alhamdulillahi robbil 'alamiin Allah pertemukan saya dengan kelas Matrikulasi yang awalnya saya tidak ada niatan untuk ikuti. Sesuap demi sesuap saya mencerna materi yang ada, selangkah demi selangkah saya mengerjakan NHW-NHW yang diberikan, saya semakin menemukan jati diri saya. Saya menemukan ritme hidup yang pas untuk saya, saya menemukan kewajiban dan hak yang perlu saya jalani dan apresiasi. Saya menemukan diri saya berbinar-binar menikmati proses belajar di Universitas Kehidupan ini. Dan NHW terakhir ini adalah "gong"nya kelas matrikulasi. Intitut Ibu Profesional berharap kami semua bisa menjadi Ibu yang bahagia dengan memberikan perubahan-perubahan baik disekitar.

Setiap kita memang tidak ada yang sempurna, saya masih butuh waktu untuk belajar tentang management waktu, dan lagi-lagi IIP kelak akan memfasilitasi proses belajar kami semua di kelas Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, mudah-mudahan Allah permudah dan berikan kebarokahan pada ikhtiar ini.

Akhirnya saya mendapatkan diri saya yang bisa menjalani misi ini, misi individu, misi Bunda sebagai seorang makhluk sosial yang bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar, untuk saat ini yang bisa saya bagikan kepada masyarakat adalah sesuatu yang sudah saya lewati dan yang sudah saya pahami. Tidak menutup kemungkinan kelak ketika saya naik kelas ke Bunda Sayang, Bunda Cekatan, saya juga akan membagikan ilmu-ilmu yang telah saya dapat dan praktekkan, dengan tulisan-tulisan di Blog pribadi, atau sosial media lainnya maupun sharing diskusi secara langsung dengan beberapa kerabat.

Mudah-mudahan Allah lancar dan mudahkan segala perjuangan saya sebagai agen perubahan. Mudah-mudahan Allah bantu saya karena saya membantu orang lain. Mudah-mudahan Allah berikan saya kemudahan dalam mencari ilmu serta mengamalkannya. Mudah-mudahan Allah memberikan saya kebarokahan dalam hidup sehingga bisa menjalankan peran sebagai Ibu Rumah Tangga dan mahkluk sosial dengan baik dan produktif. Mudah-mudahan Allah perbanyak ibu-ibu yang mau belajar dan berubah menjadi lebih baik agar kelak tercipta generasi yang bisa bertanggung jawab dan menjalani ketentuan-ketentuan Allah dan RasulNya.

Aamiiin.

Tertanda,


Nadya Sholihati Vaizal
With full of Love ❤

Tuesday, March 21, 2017

Materi #9: BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Matrikulasi IIP batch #3 sesi #9

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

“Mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi

 "MISI SPESIFIK HIDUP KITA”

Kita harus paham *JALAN HIDUP* kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai *CARA MENUJU SUKSES*.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi *CHANGEMAKER FAMILY*.

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Maka gunakan pola kaizen ( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.

*START FROM THE EMPHATY*

Inilah kuncinya.

Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga.

Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION  , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat.

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya.

Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.

Salam


 /Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :
Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012
Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty,  2010
Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari,  2016

Friday, March 17, 2017

30 Menit Lebih Dekat bersama Pak Dodik Mariyanto

RESUME 30 MENIT LEBIH DEKAT

KELAS MATRIKULASI BATCH 3 
INSTITUT IBU PROFESIONAL - Bogor 2

Bogor, Kamis 16 Maret 2017

Narasumber: Bapak Dodik Mariyanto
Moderator : Wahyu Lissetiarani
Peresume : Nadya Sholihati Vaizal
Pukul: 19.30 - 20.00 wib

*****

Biografi narasumber:

DODIK MARIYANTO

Seorang ayah dari 3 orang anak.
Menikmati perannya sebagai IMAM keluarga bagi anak dan isterinya.

Founder dari Jarimatika, Ibu Profesional dan School of Life Lebah Putih ini, sekarang sedang menekuni jalan sunyinya dengan mendirikan " Padepokan Margosari".

Tidak akan pernah mau lama-lama di zona nyaman, maka aktivitas HIJRAH adalah aktivitas yang paling disukai. Salah satunya adalah hijrah dari "employee", "self employee", " Bussiness Owner" dan akhirnya menjadi "investor".

Prestasi tertinggi beliau adalah mendidik anak dan isterinya berprestasi dan bermanfaat bagi banyak orang.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - -- - - - - - - - - - - - 

Berikut isi diskusi bersama nara sumber dan peserta kelas Matrikulasi Bogor 2 :

Tanya Nola
1. Selamat datang Pak dodik. Langsung tanya, Saya termasuk orang yg percaya kalau keberhasilan dunia akhirat itu berawal dari pagi hari.
Nah, pertanyaan:
Bagaimana cara agar saya sejalan dg suami. Karena suami suka bergadang. Alasan beliau inspirasi muncul di malam yg tenang. Dan konsekuensinya pagi hari habis subuh jadi ngantuk. Mengingatkan dg cara uring-uringan rasanya udah ga mempan.

Jawab Pak Dodik: Dengan teladan. Tunjukkan bahwa memang dengan pagi hari Bunda mendapati kebahagiaan dan keberhasilan yang luar biasa.
Biarkan suami menyaksikannya. Masa sih ngga pengin juga sukses dan bahagia?

Dan sesekali sambil santai dibicarakan dengan nyaman hal ini.

Tanya Nina
2. Assalamualaikum pak, salam kenal.. 
Saya penasaran dengan maksud qoute pak Dodik "Jika saat ini suami masih enggan ikut terlibat, barangkali karena bunda berkeinginan berbagi beban, bukan berbagi kegembiraan"
Maksudnya bagaimana ya pak?
Bukankah suami istri itu suatu tim yang selalu bersama dalam keadaan lapang 0sempit, sedih gembira? 
Apakah seorang istri tidak boleh berbagi beban, misal: pekerjaan rumah tangga yang sebagian tidak bisa dilakukannya kepada suami, apakah seorang istri hanya boleh berbagi hal positif, dan tidak boleh mengeluh dihadapan suami? mohon penjelasannya ya, pak ๐Ÿ™

#Jawab Pak Dodik:
Wa'alaikum salam ww
Betul pasangan itu (katanya) berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Segala susah dan senang dikerjakan dan dialami bersama.

Berkeluarga (dan juga hidup) itu laksana mendaki bukit, barangkali memang berat namun kita dapat membuatnya menyenangkan, memenuhinya dengan harapan. Banyak yang mesti dibawa dan rintangan yang mesti diatasi yang mesti dibagi bersama. Namun semua dilakukan dan diterima dengan sukacita karena dasarnya adalah harapan dan kegembiraan.

Nah, apa dasar Bunda berkeluarga?
Bila itu cinta, bukankah ini lebih dari sekedar harapan?
Maka buatlah berbaginya diterima secara membahagiakan, karena bukan beban penderitaan melainkan harapan

Tanya Nadia
3. Barakallah Pak Dodik.. Senang berkesempatan bertanya langsung kepada pak dodik... 

1. Pak dodik pernah bilang, "jika suami enggan terlibat, barangkali karena bunda ingin berbagi beban, bukan berbagi kebahagiaan." 

Bagaimana cara membedakan apakah kita berbagi beban atau kebahagiaan? 

2. Bagaimana mengajak suami agar mau terlibat dalam pendidikan anak, sejauh ini suami sudah mau terlibat tapi hanya dalam mengurus anak seperti memandikan, menyuapi makan, dll. Suami terkadang seperti kebingungan jika diajak membacakan cerita, dll untuk anak?

Terimakasih pak

#Jawab Pak Dodik:
1. Lihat saja pada diri Bunda, apakah Bunda menjalaninya dengan bahagia (meski berat) atau kalau bisa ingin membuang/menghindarinya?

2. Alhamdulillah sudah mau terlibat. Barangkali untuk hal yang ia masih enggan hanya karena canggung dan belum terlatih. Sedikit-sedikit dulu dan terima serta syukuri.

Nanti sembari jalan diobrolkan secara santai apalagi yang sekiranya dapat ia lakukan

Tanya Agita 
4. Salam kenal Pa Dodik..
Bagaimana peran ayah dalam pengasuhan & pendidikan anak? apalagi yang saya rasakan waktu suami banyak di kantor, seringnya berangkat kerja anak-anal masih tidur dan pulang kerja malam anak-anak sudah tidur.

#Jawab Pak Dodik
Ayah di kota besar memang perlu pengaturan waktu yang ekstra.
Teknologi saat ini sudah lebih memudahkan ayah yang seharian di kantor untuk dapat terhubung dan terlibat dengan kegiatan anak2. Maka manfaatkanlah dengan membuat video call, merekam suara untuk bercerita dll.

Saat berkumpul (libur misalnya), letakkan gadget dan full main dan beraktivitas sekeluarga

Tanya Irma
5. ‬Pak Dodik yg baik.. saat para ibu sudah terdidik sesuai fitrahnya untuk mencetak generasi yang baik, tentunya tak bisa lepas dari peran ayah yang fitrahnya sebagai imam. Tidakkah bapak tergerak untuk membentuk ayah professional agar tidak terjadi ketimpangan dalam keluarga. Dan para ayah pun semakin melek dengan peran pentingnya di keluarga.

#Jawab Pak Dodik
Tidak.
Saya tidak pintar untuk berkomunikasi dengan bapak2 heheee.

Meski demikian ada forum untuk keluarga seperti Kamtasia, Cangkrukan Homeschoolers, PERAK dll.
Dan juga untuk orang tua seperti School for Homeschool Facilitators.
Silakan lihat di www.padepokanmargosari.com

Tanya Dini
6. Assalammualaikum , 

Bapak Dodik perkenalkan saya dini dari Kelas Matrikulasi IIP Bogor, Alhamdulillah diberi
kesempatan untuk bisa memperkenalkan diri dan bertanya langsung tentang dunia parenting kepada seseorang yang sudah berpengalaman dibidangnya.

Pertanyaan saya :

1. Bagaimana cara agar keluarga menjadi tempat terbaik memulai aktualisasi diri.

2. Bagaimana agar bisa mendidik anak2 sesuai fitrahnya, bekerjasama dengan suami untuk sukses bersama dalam mendidik anak juga menjalani bahtera rumah tangga sesuai dengan fitrahnya .. Sehingga hidup kita dapat bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Terimakasih :).

#Jawab Pak Dodik
Wa'alaikum salam ww
1. Jadikan aktivitas keluarga profesi terbaik Bunda, rumah sebagai tempat belajar/kantor terbaik Bunda.

2. Mulai dengan belajar memahami anak menurut diri anak, bukan seperti kemauan kita orang tuanya. Kemudian belajar aneka cara untuk mendampingi mereka menyiapkan diri untuk menjalani peran hidupnya itu

Tanya Rimas
7. Assalamualaikum Pak Dodik salam kenal. Bagaimana menyiasati suami yang bekerja tetapi tetap terlibat dalam pendidikan anak-anak?

#Jawab Pak Dodik
Wa'alaikum salam ww
Lihat jawab saya sebelumnya nggih

Tanya Nazroh
8. Salam pak.. Pertanyaan saya sederhana saja, adakah rencana untuk membentuk institut ayah profesional? ๐Ÿ™

#Jawab Pak Dodik
Tidak heheee
Lihat jawab saya di atas

Tanya Evi
9. Bagaimana menghadapi suami yang pola pikirnya tidak sama atau tidak bisa se-visi dengan istri. "Maaf " mungkin dikarenakan tingkat pendidikan yang lebih rendah dari sang istri. Sehingga menjalani pernikahan tanpa konsep yang jelas. Mengalir saja... Punteenn. ๐Ÿ™

#Jawab Pak Dodik
Jika memang mengalir saja itu sudah membahagiakan, jalani saja dengan penuh rasa syukur.
Jika tidak, obrolkan dengan santai, dengan bahasa sederhana (tidak perlu repot dengan kata2 visi, misi, strategi, dll) bagaimana membangun keluarga yang asyik dan berbagi peran bersama.

Lalu terapkan mantra dasar IIP: Banyak main bareng, berkegiatan bareng dan ngobrol bareng sekeluarga, agar kian hangat dan kian saling mengerti dan menerima.

Tanya Yusi
10. Salam kenal pak Dodik, 
yang saya ingin tanyakan:
1. Adakah kriteria khusus untuk menjadi ayah profesional? 
2. Dalam mendidik anak hal-hal apa saja yang utama harus sejalan antara istri dan suami? 
Terima kasih

#Jawab Pak Dodik
1. Tidak ada, kecuali berminat dan menjalani sungguh2 untuk menjadi ayah profesional.

2. Arah yang dituju, nilai2 yang dianut keluarga dan apa yang akan dikerjakan bersama

Tanya Fani        
11. Bagaimana mendidik anak laki2 agar kelak menjadi "Bapak Profesional" seperti Pak Dodik ?

#Jawab Pak Dodik
Memberinya contoh/teladan dan mendekatkannya dengan lingkungan yang sesuai dengan hal itu

Tanya Nonie
12. Assalamua'laikum Pak Dodik, salam kenal dr Nonie.. 
Bagaimana menghadapi sikap suami yang terlalu cuek dan kurang inisiatif dalam aktivitas rumah tangga? Terimakasih

#Jawab Pak Dodik
Wa'alaikum salam ww
Diterima, disyukuri terlebih dahulu. 

Kemudian ajak ia menerapkan mantra dasar IIP itu.
Jalankan dengan bahagia, dan persedikit tuntutan terhadap pasangan.

Tanggapan Mely
13. Noted. Menerima, mensyukuri dan enjoy ya, Pak..๐Ÿ˜Š

Tanya Fani
14. Mantra dasar IIP itu apa saja pak ?

#Jawab Pak Dodik
Banyak bermain bersama, beraktivitas bersama, dan ngobrol bareng sekeluarga.

Closing Pak Dodik
Alhamdulillah sudah 19.59
Saya undur diri geser ke tetangga
Semoga bermanfaat dan berkah

Selamat belajar dan beraktivitas dengan bahagia, tidak perlu seperti memanggul dan menyeret beban
Wassalamu'alaikum ww.

Wednesday, March 15, 2017

NHW #8: MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS


Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Mengedukasi/Memotivasi/Menggerakkan orang lain untuk bersama-sama belajar dan mempraktekkan Ilmu Pendidikan Ibu dan Anak melalui aktivitas secara langsung dalam sebuah komunitas maupun melalui sebuah tulisan, baik media online/media cetak.

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE) Educator/Motivator/Penulis (Aktivis)

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO) Memberikan pengetahuan, wawasan, menggerakkan orang-orang di sekitar saya agar mau bersama-sama berbenah diri menjadi orang tua yang jauh lebih baik, baik itu lewat tulisan maupun presentasi/berbagi pengalaman secara langsung. Mengedukasi anak-anak lewat cerita yang menyenangkan namun sarat makna. Menyebarkan virus literasi kepada anak-anak sehingga mereka menyukai aktivitas membaca. 

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
- Beberapa buku tulisan pribadi yang bermanfaat untuk banyak orang.
- Komunitas/wadah yang bisa menyalurkan semangat berbenah diri bersama dengan orang lain.
- Perpustakaan mini

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Kebermanfaatan untuk banyak orang yang tidak pernah habis dimakan zaman, sehingga bisa menjadi jariyah dan merintis peradaban selanjutnya yang jauh lebih baik.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
- Mengerti, memahami dan mempraktekkan Ilmu-ilmu di IIP tentang Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif serta Bunda Shaliha.
- Meneruskan S2 dibidang Psikologi/Komunikasi/Pendidikan
- Mengkhatamkan tafsir-tafsir Alquran serta Hadist-hadist shohih Bukhari dan Muslim
- Menjadi seorang dosen lepas
- Menerbitkan beberapa buku cerita anak/buku tentang pendidikan ibu dan anak dengan harga yang terjangkau tanpa mengurangi kualitasnya.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Menulis sebuah buku cerita anak yang bisa bermanfaat untuk banyak orangtua serta anak-anaknya.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulsi IIP/

Materi #8: MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

MISI SPESIFIK Matrikulasi Ibu Profesional batch #3 sesi #8

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.

Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima , melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya  akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

“Rejeki will follow’ bisa dimaknai bahwa  rejeki  setiap orang  itu sudah  pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh  tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 th) dan memasuki taraf aqil baligh (usiia 14 th ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis). 

Maka sekarang, jalankan saja yang anda BISA  dan SUKA tanpa pikir panjang,   karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tsb apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :

a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar
b. energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.
c. rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi
d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.


Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :

a. Kita ingin menjadi apa (be)
b. Kita ingin melakukan apa (do)
c. kita ingin memiliki apa (have)


Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan)
c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)


Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang anda pikir memang harus diubah.

Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”. 

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan nanti kami  akan lebih detilkan materi ini secara real di nice homework #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di Nice homework #7.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/



Sumber bacaan:
Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2017
Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015_ HIDUP DAN PRODUKTIVITAS


Friday, March 10, 2017

NHW #7: TAHAPAN MENUJU BUNDA PRODUKTIF

Nice Homework #7

Bunda dan calon bunda yang masih semangat belajar sampai NHW #7.  Selamat, anda sudah melampaui tahap demi tahap belajar kita dengan sabar.

Setelah kita berusaha mengetahui diri kita lewat NHW -NHW sebelumnya, kali ini kita akan mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping. 

Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman  tulis di NHW#1 – NHW #6
Semua ini ditujukan  agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.

๐Ÿ€ Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :

1. masuk ke www.temubakat.com

2. isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional
jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya

3. Amati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yg anda rasakan selama ini.

Alhamdulillah sejalan, saya cocok menjadi edukator atau motivator. Sesuai dengan cita-cita dan misi kehidupan saya sebagai seorang individu. Saya senang membagikan ide, gagasan, teori, serta hal-hal bermanfaat lainnya kepada orang lain. Saya senang melihat orang lain maju dan menjadi lebih baik. Tepatnya bersama-sama menuju ke arah yang lebih baik. Saya selalu percaya bahwa memberikan kebaikan dan kebermanfaatan kepada orang lain akan menguatkan pondasi ilmu tersebut dalam diri saya, dan akan menghadirkan kebaikan-kebaikan yang lainnya, kembali ke dalam hidup saya lagi. Saya senang membersamai kebaikan pada lingkungan saya. Dan melihat pertumbuhannya. 

Saya juga senang menulis. Berbagi manfaat lewat tulisan. Menemukan jalan keluar yang paling dengan cara  menimbang, mempelajari, menganalisa, memilih, dan memutuskan yang terbaik yang paling mungkin untuk dilakukan. Sesuai pertanyaan yang paling tidak cocok dan yang tidak cocok bagi saya pribadi 5 poin itu terlalu banyak. Karena mungkin saja tidak selalu setiap individu memiliki ketidakcocokkan sejumlah 5 poin. Dikarenakan hal tersebut, mau tidak mau saya harus memilih sehingga "merasa" tidak cocok pada sesuatu hal yang bagi saya sejatinya biasa saja. Kebanyakan dari poin-poin yang tidak cocok tersebut saya pilih karena saya tidak pernah "mengalami" pekerjaan yang berkaitan dengan poin tersebut, seperti memproduksi barang pada manufaktur, atau hal-hal yang berkaitan dengan technical.

Namun untuk potensi kekuatan saya, sejauh ini sedikit banyak menjelaskan bagaimana dan apa yang menjadi minat dan bakat saya.

4. Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #7





๐Ÿ€ Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran

Kuadran  1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

• Menulis
• Membaca Buku
• Memotivasi/Mengedukasi orang lain baik secara personal ataupun didepan publik (tentang pendidikan ibu dan anak (pengasuhan, ASI, tumbuh kembang, kesehatan dlsb), finansial keluarga, juga hikmah-hikmah yang terkandung dalam Alquran dan Alhadits yang telah saya pelajari)
• Mengarang cerita anak
• Menyerap bacaan/kalimat yang agak sulit
• Merancang strategi demi mencapai tujuan (Hidup, Finansial, Penjualan)
• Berpikir tentang masa depan
• Merumuskan masalah dan problem solvingnya
• Menempatkan seseorang sesuai kemampuannya
• Menimbang dan mempelajari sesuatu untuk menentukan sebuah nilai, kepentingan atau kondisi
• Memasak
• Crafting
• Berenang
• Running
• Membaca Alquran dengan tartil

Kuadran 2  : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA
• Menjahit
• Menggambar menggunakan aplikasi di komputer
• Berkendara
• Berkuda
• Memanah
• Public Speaking/Communicator (Saya bisa namun belum mahir, perlu belajar dan jam terbang yang jauh lebih banyak)
• Menganalisis data berupa angka-angka menggunakan aplikasi komputer

Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda  BISA
• Menjadi penengah diantara 2 orang yang berkonflik
• Mendistribusikan Barang
• Notulensi
• Menghapal
• Melayani dan merawat orang lain selain orang yang saya cintai (seperti suster, misalnya)/Care taker
• Perbankan
• Menjadi perwakilan di suatu tempat
• Menjaga keselamatan dan keamanan dari suatu resiko berbahaya

Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA
• Mengerjakan sesuatu yang tidak saya minati serta tidak saya pelajari, seperti IT, Hukum, Kimia, Ekonomi, dll
• Berbasa-basi
• Arranger
• Commander, memaksa orang mengerjakan sesuatu
• Melayani seseorang sebagai pekerjaan, customer service atau perawat contohnya.

--------

Diluar materi ini, saya juga menganjurkan pasangan saya melakukan tes temubakat tersebut, diluar dugaan, ternyata beliau sudah melakukan tes tersebut sebelumnya, maka inilah hasilnya.



Terlihat banyak perbedaan diantara kami, yang saya berharap, diluar materi "Menemukan Misi Hidup sebagai Individu" ini, saya dan suami bisa saling bekerja sama sebagai sepasang suami istri yang dapat saling melengkapi satu sama lain.
Karena berbeda bukanlah menjadi oenghalang keharmonisan sebuah keluarga, namun dengan perbedaan, sepasang suami istri dapat saling mengisi kekurangan satu sama lain demi mencapai tujuan bersama.
Aamiin.. InsyaaAlloh.


❤❤❤